Manado – Misa Syukur Pesta Pelindung Wilayah Rohani St Ursula, Paroki St Mikael Perkamil Manado, bertempat di rumah Keluarga Sakul-Simbala, Senin, 21/10/2024.
Misa Syukur di pimpin Pastor Paroki Santo Mikael Perkamil Manado, RD Aloisius Wenseslaus Maweikere (Wens) di awali dengan salam.
“Proviciat Pesta Pelindung St Ursula,” sapanya.
Homili singkat, yang di sampaikan Pastor Wens tentang bukti historis bercampur legenda St Ursula, banyak kesatria yang melamar, namun Ursula lari dan terdampar di Jerman dan pada abad ke empat, ditemukan relikwinya.
Ursula tetap mempertahankan keperawanannya karena Ursula ingin menyerahkan hidupnya untuk Kristus.
“Semangat kemartiran Ursula bagi Tuhan, memotivasi bagi kita semua,” ungkapnya.
Di sela homilinya, Pastor mengajukan pertanyaan tentang tujuh dosa pokok, yang salah satunya diangkat dalam bacaan Injil hari ini, yakni dosa ketamakan.
Tujuh dosa pokok yang di tanyakan Pastor, enam di antaranya di jawab oleh ketua ibu Debby Paseru.
“Ke tujuh dosa itu antara lain kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan,” ujarnya.
Misa syukur di awali dengan lagu pembukaan dengan pemimpin lagu ibu Kartini Marintja, kemudian Pastor membuka dengan berkat pembuka, tobat, doa pembukaan.
Selanjutnya membacakan bacaan pertama, dan Mazmur oleh saudari Vinilia Etlegar, sekaligus sebagai MC.
Kemudian Frater Kristofel Ivan Pepende membacakan bacaan Injil hari ini.
Setelah selesai homili, doa syukur Agung, di lanjutkan dengan memberikan komuni kepada umat.
Dalam doa umat, Pastor meminta empat orang berdoa secara spontan.
Misa berlangsung hikmad sekalipun di guyur hujan lebat, sebelumnya Misa bertempat depan Goa Maria (teras samping rumah), namun karena hujan cukup deras, sehingga di pindahkan di ruang tamu.
Bagian terakhir di tutup dengan berkat penutup dan lagu penutup Mars St Ursula.
Di lanjutkan dengan foto bersama, dan santap kasih di dahului dengan doa oleh Frater Ivan.
Misa dimulai jam 18.00 Wita dan dihadiri sebanyak 24 orang.(Komsos Wilroh St. Ursula, Kartini Marintja)
