Manado – “Di kalangan Katolik lebih banyak mengucapkan ‘Salve’ yang berarti salam, pujian,” Hal ini diungkapkan Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong), pada Misa Kedua, Hari Minggu Paskah VI, bertempat di Gedung Gereja St Mikael Perkamil Manado, Minggu (25/05/2025).
Jadwal dan Selebran Misa pertama, jam 07.00 Wita, Paroki St Mikael, Pastor Paroki St Mikael Perkamil Manado (SMPM), RD Aloisius Wenseslaus Maweikere (Wens) dan Misa ketiga, jam 18.00 Wita, Pastor RD Theodorus Michael Palit (Theo).
Di kalangan umum, kita mendengar ungkapan ‘Shalom’, selengkapnya dalam bahasa Ibrani ‘Shalom aleichem’, berarti ‘Damai kiranya menyertaimu’. Jawaban yang tepat adalah ‘Aleichem shalom’. Bentuk salam seperti ini lazim ditemukan di Timur Tengah. Versi bahasa Arabnya adalah assalamualaikum yang berarti Damai atau keselamatan menyertaimu.
“Setelah Yesus bangkit, setiap kali Ia menjumpai murid-murid-Nya yang berkumpul, Ia selalu berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,”” tuturnya.
Menurut Pastor Yong, Ungkapan-ungkapan seperti itu mengisyaratkan bahwa kita manusia sangat membutuhkan damai dan perdamaian dalam hidup. Maka ketika kita bertemu dengan orang lain, yang pertama kita ucapkan ialah suatu harapan agar orang itu sedang mengalami damai.
Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya yang akan Ia tinggalkan: “Damai-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai-Ku Kuberikan kepadamu”. Yesus meninggalkan damai-Nya di dunia ini bagi siapa saja. Tetapi bagi kita pengikut-pengikutnya, Yesus “memberikan damai-Nya bagi kita”. Damai itu dibawa Yesus dari surga, ditinggalkan di dunia dan diberikan kepada kita. Apa artinya?
“Yesus membedakan Damai yang diberikan dunia, dari Damai yang diberikan Yesus. Maksud Yesus semua barang-barang duniawi, apapun, dapat memberikan rasa damai, tetapi kedamaian itu bersifat sementara saja. Semua kebutuhan duniawi yang terpenuhi tidak menjamin kedamaian hidup secara kekal. Semua yang dari dunia itu terbatas dan akan berakhir juga,” ujarnya.
Sedangkan Damai Yang diberikan Yesus adalah kasih-Nya sendiri. Damai Yesus tidak saja berarti ketenangan dan suasana hidup yang nyaman. Yesus membawa damai dengan cara: menolak kekerasan, peduli pada orang lain, memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang lain, menghibur mereka yang berdukacita, memberi makan kepada mereka yang lapar, mengampuni orang yang berdosa, meringankan beban hidup mereka yang berbeban; singkatnya semua perbuatan kasih. Damai Yesus tampak pada cara hidup-Nya. Damai-Nya adalah semangat hidupnya.
“Mengapa Yesus meninggalkan Damai-Nya bagi dunia? Karena Yesus tahu bahwa dunia ini penuh dengan pertikaian dan kekerasan, permusuhan dan kebencian, perkelahian dan peperangan. Dan semua itu menjauhkan manusia dari kasih dan damai. Oleh karena itu, pimpinan Gereja Katolik selalu menyerukan perdamaian, pengakhiran perang, karena setiap orang harus mengalami Damai Kristus,” urainya.
Lanjut Pastor Yong, Doa Damai sesudah Doa Bapa Kami dalam misa, imam mengulangi kata-kata Yesus dalam Injil hari ini. Tujuannya, agar kita selalu ingat bahwa Yesus memberikan damai kepada dunia dan kepada kita. Yesus menghendaki agar Damai-Nya dihidupi, dan disebar-luaskan kepada semua makhluk ciptaan. Untuk tugas itu, Yesus menjanjikan Roh Kudus bagi kita.
“Maka hari ini kiranya kita kembali disadarkan atas tugas kita untuk menjadi pembawa damai kepada orang lain, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan Gereja. Hari ini Yesus mengutus kita untuk menjadi penyalur damai Kristus melalui perkataan dan perbuatan kita, mulai dari dalam keluarga sendiri, dan selanjutnya kepada mereka yang kita jumpai sehari-hari,” pesannya.
Berikut ini, jadwal dan Selebran Misa pertama, jam 07.00 Wita, Paroki St Mikael, Pastor Paroki St Mikael Perkamil Manado (SMPM), RD Aloisius Wenseslaus Maweikere (Wens) dan Misa ketiga, jam 18.00 Wita, Pastor RD Theodorus Michael Palit (Theo).(man repi)
