BerandaKatekeseKasih yang Berkorban

Kasih yang Berkorban

Published on

spot_img

Jumat Agung adalah hari yang paling hening dalam perjalanan iman kita sebagai orang Kristiani. Pada hari ini, Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Suasana menjadi sunyi, tanpa lonceng, tanpa nyanyian meriah—semuanya mengajak kita untuk masuk dalam permenungan yang mendalam tentang kasih Allah yang begitu besar bagi manusia.

Yesus, yang tidak berdosa, rela menerima penderitaan yang sangat berat. Ia dihina, disiksa, dipaku, dan akhirnya wafat di kayu salib. Semua itu bukan karena kesalahan-Nya, melainkan karena kasih-Nya kepada kita. Ia menanggung dosa manusia, agar kita diselamatkan. Salib yang tampak sebagai lambang penderitaan dan kekalahan, justru menjadi tanda kemenangan kasih dan pengorbanan yang sempurna.

Dalam kisah sengsara Yesus, kita melihat bagaimana Ia tetap setia pada kehendak Bapa. Di tengah penderitaan yang luar biasa, Ia tidak melawan, tidak membalas, bahkan Ia mengampuni mereka yang menyiksa-Nya. Dari salib, Yesus berkata agar mereka diampuni. Ini adalah bukti bahwa kasih sejati tidak terbatas oleh rasa sakit, luka, atau ketidakadilan.

Jumat Agung mengajak kita untuk bercermin pada diri sendiri. Sering kali dalam hidup, kita mudah marah, menyimpan dendam, atau sulit mengampuni orang lain. Kita juga kadang enggan berkorban, bahkan untuk hal-hal kecil. Melalui pengorbanan Yesus, kita diajak untuk belajar mengasihi dengan tulus, mengampuni tanpa syarat, dan setia dalam menjalani kehendak Tuhan, meskipun tidak selalu mudah.

Selain itu, Jumat Agung juga menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat salib dalam kehidupan kita masing-masing. Setiap orang memiliki salibnya sendiri, masalah, penderitaan, kekecewaan, atau pergumulan hidup. Namun melalui Yesus, kita diajarkan bahwa salib bukanlah akhir dari segalanya. Jika dijalani dengan iman dan kepercayaan kepada Tuhan, salib justru bisa menjadi jalan menuju kebangkitan dan kehidupan yang baru.

Hari ini, kita diajak untuk hening sejenak. Menjauh dari kesibukan, dari kebisingan dunia, dan masuk dalam keheningan bersama Tuhan. Dalam keheningan itu, kita bisa berbicara dengan hati, merenungkan hidup, dan menyerahkan segala beban kita kepada-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, bahkan dalam penderitaan sekalipun.

Mari kita gunakan momen Jumat Agung ini untuk memperbarui hati kita. Belajar menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih mengasihi. Semoga pengorbanan Yesus tidak hanya kita kenang, tetapi juga kita hidupi dalam keseharian kita.

KONTEN POPULER

Latest articles

219 Siswa Katolik Ikuti Bible Camp Siswa XIX Keuskupan Manado

Komsos Manado – Sebanyak 219 peserta ambil bagian dalam kegiatan Bible Camp Siswa (BCS)...

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining Du willst fit werden,...

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining

EMS-Einheit für Anfänger: Ablauf, Nutzen und häufige Fragen beim ersten Probetraining Du willst fit werden,...

Berdoalah dengan Hati, Bukan dengan Banyak Kata

"Karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya." (Matius 6:8) Dalam kehidupan...

More like this

Hati yang Lelah dan Kasih Tuhan yang Meneguhkan

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit dan melelahkan. Berbagai...

Santo Efrem: Ketika Kata-Kata Menjadi Doa dan Lagu Menjadi Katekese

Ketika mendengar nama Santo Efrem, banyak orang mengenalnya sebagai Diakon, Bapa Gereja, dan pujangga...

Damai yang Melampaui Segala Kesulitan

Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami badai. Badai itu bisa berupa masalah keluarga,...