Tahuna – Perayaan Hari Raya Pentakosta di Stasi Hati Kudus Bahoi berlangsung penuh sukacita dan semangat iman, Minggu (24/05/2026). Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna RD. Jacob Adilang, Pr mengajak umat untuk membuka hati terhadap karya Roh Kudus yang mampu mengubah ketakutan menjadi keberanian serta membangun komunitas yang penuh kasih dan harapan.
Dalam homilinya, Pastor Jacob menegaskan bahwa Pentakosta bukan sekadar perayaan liturgi tahunan, tetapi momentum penting bagi umat untuk menyadari kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan berkomunitas.
“Roh Kudus hadir mengubah para murid yang sebelumnya takut dan cemas menjadi pribadi-pribadi yang berani bersaksi tentang Kristus,” ungkap Pastor Jacob.

Ia menjelaskan, perubahan yang dibawa Roh Kudus pertama-tama tampak dalam kehidupan komunitas. Menurutnya, komunitas yang dipenuhi Roh Kudus bukan hanya sekadar kumpulan orang, melainkan persekutuan yang dipersatukan oleh kasih, pengharapan, dan semangat saling menguatkan.
Dalam refleksinya, Pastor Jacob juga menyinggung peristiwa para rasul yang mampu berbicara dalam berbagai bahasa pada hari Pentakosta. Menurutnya, makna terdalam dari “bahasa baru” bukan hanya soal kemampuan berbicara dalam bahasa daerah atau bangsa lain, tetapi kemampuan menghadirkan bahasa kasih dalam kehidupan bersama.
“Bahasa baru yang dibentuk Roh Kudus adalah bahasa cinta kasih, bahasa damai, bahasa yang membangunkan harapan dan mempersatukan,” katanya.

Ia mengajak umat meninggalkan “bahasa lama” yang melukai, memecah belah, dan menghadirkan ketakutan dalam kehidupan bersama. Sebaliknya, umat dipanggil menggunakan kata-kata yang menguatkan, menghibur, dan membawa sukacita bagi sesama.
Lebih lanjut, Pastor Jacob menyebut Hari Raya Pentakosta sebagai hari lahir Gereja, ketika para rasul dipanggil untuk membangun persekutuan yang hidup dalam tuntunan Roh Kudus.
Karena itu, umat Katolik diajak untuk membangun komunitas yang sehat, penuh persaudaraan, serta menjadi ruang yang menghadirkan damai sejahtera bagi semua orang.

“Kita dipanggil menjadi komunitas yang memberi harapan, bukan komunitas yang menghadirkan ketakutan. Roh Kudus mempersatukan dan menguatkan kita,” ujarnya.
Di akhir homilinya, Pastor Jacob berharap umat terus membuka diri terhadap karya Roh Kudus dalam keluarga, lingkungan, maupun kehidupan menggereja.
Ia menekankan bahwa Gereja akan tetap hidup apabila umat mampu menghadirkan kasih, persaudaraan, dan semangat saling membangun di tengah berbagai tantangan kehidupan.
“Semoga Roh Kudus memberi daya kepada kita untuk membangun komunitas yang saling mencintai, saling menguatkan, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia,” tutup Pastor Jacob. (Riko)
