Ketika mendengar nama Santo Efrem, banyak orang mengenalnya sebagai Diakon, Bapa Gereja, dan pujangga rohani yang menulis banyak himne. Namun, ada beberapa hal menarik tentang hidupnya yang jarang diketahui umat Katolik.
Santo Efrem dari Suriah lahir sekitar tahun 306 di wilayah Nisibis, Mesopotamia (sekarang berada di kawasan Turki). Ia hidup pada masa ketika Gereja menghadapi banyak tantangan, baik dari penganiayaan maupun munculnya berbagai ajaran yang menyimpang dari iman Kristiani.
Hal yang jarang diketahui adalah bahwa Santo Efrem tidak pernah menjadi imam atau uskup. Ia memilih tetap menjadi diakon sepanjang hidupnya. Baginya, pelayanan tidak ditentukan oleh jabatan yang tinggi, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan. Melalui kerendahan hatinya, ia menunjukkan bahwa setiap orang dapat menjadi kudus sesuai panggilannya masing-masing.
Keunikan lain dari Santo Efrem adalah caranya mengajar iman. Pada zamannya, banyak orang tidak dapat membaca. Karena itu, ia menciptakan syair dan lagu-lagu rohani yang mudah diingat oleh umat. Dengan cara ini, ajaran Gereja dapat dipahami dan dihafalkan oleh banyak orang. Bisa dikatakan bahwa Santo Efrem adalah salah satu pelopor katekese melalui musik dalam sejarah Gereja.
Santo Efrem juga dikenal sebagai seorang yang sangat mencintai Maria. Dalam banyak tulisannya, ia menggambarkan keindahan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan Allah. Beberapa ungkapannya tentang Maria bahkan digunakan oleh para teolog sebagai bahan refleksi hingga saat ini.
Fakta menarik lainnya adalah bahwa Santo Efrem dijuluki “Kecapi Roh Kudus.” Julukan ini diberikan karena tulisan-tulisannya begitu indah dan penuh makna rohani, seolah-olah menjadi alat yang dimainkan oleh Roh Kudus untuk menyampaikan kebenaran iman kepada umat.
Pada masa akhir hidupnya, ketika kota Edessa dilanda wabah dan kelaparan, Santo Efrem tidak hanya menulis dan berkhotbah. Ia turun langsung melayani orang-orang sakit, mengatur bantuan bagi yang membutuhkan, dan menghibur mereka yang menderita. Kekudusannya tidak hanya tampak dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata kasih kepada sesama.
Santo Efrem wafat pada tahun 373. Berabad-abad kemudian, pada tahun 1920, Paus Benediktus XV menetapkannya sebagai Doktor Gereja karena kedalaman ajaran dan sumbangannya yang luar biasa bagi kehidupan iman.
Pesan bagi kita: Santo Efrem mengajarkan bahwa mewartakan Injil tidak harus selalu melalui khotbah yang panjang. Talenta apa pun yang kita miliki—menyanyi, menulis, melayani, atau membantu sesama—dapat menjadi sarana untuk membawa orang lain semakin dekat kepada Tuhan. Kerendahan hati, kreativitas, dan kasih kepada sesama adalah warisan berharga yang ditinggalkannya bagi Gereja hingga hari ini.
