BerandaKatekeseSanto Tomas Rasul: Dari Pencari Bukti Menjadi Pewarta Injil

Santo Tomas Rasul: Dari Pencari Bukti Menjadi Pewarta Injil

Published on

spot_img

Setiap tanggal 3 Juli, Gereja merayakan Pesta Santo Tomas Rasul. Nama Santo Tomas sering kali langsung dikaitkan dengan keraguan. Bahkan hingga sekarang, istilah “seperti Tomas” kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Namun, jika kita melihat lebih dalam kisah hidupnya, kita akan menemukan bahwa Tomas bukanlah seorang yang tidak beriman. Ia adalah seorang murid yang sungguh mengasihi Yesus, tetapi sedang bergumul untuk memahami misteri kebangkitan-Nya. Keraguannya bukanlah bentuk penolakan terhadap Tuhan, melainkan pergulatan seorang manusia yang ingin menemukan kebenaran dengan sungguh-sungguh.

Sesudah Yesus wafat di kayu salib, para murid dipenuhi rasa takut, kecewa, dan bingung. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para rasul, Tomas tidak sedang bersama mereka. Ketika teman-temannya bersaksi bahwa mereka telah melihat Tuhan yang bangkit, Tomas tidak langsung mempercayainya. Ia berkata bahwa ia baru akan percaya jika melihat bekas paku pada tangan Yesus dan mencucukkan tangannya ke lambung-Nya. Permintaan itu sering dianggap sebagai tanda kelemahan imannya. Namun, Yesus tidak pernah menolak Tomas. Delapan hari kemudian, Yesus datang kembali dan secara khusus menjumpainya. Dengan penuh kasih, Yesus mempersilakan Tomas melihat luka-luka-Nya. Di hadapan Kristus yang bangkit, seluruh keraguan Tomas runtuh. Ia tidak lagi meminta bukti, melainkan berseru dengan penuh iman, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Pengakuan ini menjadi salah satu pernyataan iman paling mendalam dalam Injil, karena Tomas mengakui Yesus bukan hanya sebagai Guru, tetapi sebagai Tuhan dan Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah menjauh dari orang yang sedang bergumul. Ia memahami bahwa iman setiap orang bertumbuh melalui proses yang berbeda. Ada saatnya kita merasa kuat dan penuh keyakinan, tetapi ada pula saatnya kita bertanya mengapa Tuhan seolah diam ketika doa-doa kita belum dijawab. Ada kalanya kita sulit memahami mengapa penderitaan, kehilangan, atau kegagalan harus terjadi dalam hidup kita. Dalam situasi seperti itu, kita mungkin merasa seperti Tomas. Namun, Tuhan tidak menghukum pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari hati yang tulus mencari-Nya. Sebaliknya, Ia datang membawa damai dan menguatkan iman kita.

Yang menarik, Injil tidak berhenti pada kisah keraguan Tomas. Setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, Tomas berubah menjadi seorang rasul yang berani. Tradisi Gereja mengisahkan bahwa ia mewartakan Injil hingga ke India, menempuh perjalanan yang jauh dan penuh tantangan. Ia tidak lagi dikenal sebagai murid yang ragu, tetapi sebagai pewarta Injil yang setia sampai akhir hidupnya. Ia rela menghadapi penganiayaan dan akhirnya wafat sebagai martir karena kesetiaannya kepada Kristus. Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan dan keraguan menjadi kesaksian yang luar biasa.

Melalui Santo Tomas, kita belajar bahwa iman bukanlah sekadar menerima tanpa berpikir, melainkan membangun relasi yang semakin mendalam dengan Kristus. Iman bertumbuh ketika kita terus membuka hati melalui doa, membaca Kitab Suci, menerima sakramen-sakramen, dan hidup dalam persekutuan Gereja. Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita menyadari bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala keraguan dan ketakutan kita.

Pada pesta Santo Tomas Rasul ini, marilah kita membawa seluruh pergumulan hidup kita kepada Tuhan. Jangan takut mengakui kelemahan dan pertanyaan yang ada dalam hati kita. Datanglah kepada Yesus, karena hanya Dialah yang mampu mengubah keraguan menjadi keyakinan, ketakutan menjadi keberanian, dan kelemahan menjadi kekuatan untuk menjadi saksi-Nya. Semoga melalui teladan Santo Tomas Rasul, kita pun mampu mengucapkan setiap hari dengan penuh keyakinan: “Ya Tuhanku dan Allahku!”, serta mewujudkan pengakuan iman itu melalui hidup yang dipenuhi kasih, kesetiaan, dan keberanian dalam mengikuti Kristus.

KONTEN POPULER

Latest articles

Melalui Sabda Tuhan, Warga Binaan Diajak Bangkit dan Memulai Hidup Baru

TAHUNA – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sangihe, Febiyola Silangen, S.Pd.,...

Belajar Mencintai Tuhan dari Alam, Sekami Bahoi Gelar Ibadah Tasik

TAHUNA – Suasana penuh sukacita dan kebersamaan mewarnai kegiatan Serikat Anak Misioner (Sekami) Stasi...

Santo Thomas Rasul: Dari Keraguan Menuju Pengakuan Iman yang Mengubah Dunia

Bolaang Mongondow Timur – 3 Juli menjadi hari istimewa bagi Gereja Katolik untuk mengenang...

Lantunan Pujian KBK Tahuna Meriahkan Konferensi VIII Keuskupan Manado

BOLAANG MONGONDOW TIMUR – Kontingen Kaum Bapak Katolik (KBK) Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna...

More like this

Hati yang Lelah dan Kasih Tuhan yang Meneguhkan

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit dan melelahkan. Berbagai...

Santo Efrem: Ketika Kata-Kata Menjadi Doa dan Lagu Menjadi Katekese

Ketika mendengar nama Santo Efrem, banyak orang mengenalnya sebagai Diakon, Bapa Gereja, dan pujangga...

Damai yang Melampaui Segala Kesulitan

Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami badai. Badai itu bisa berupa masalah keluarga,...