MANGANITU, KEPULAUAN SANGIHE – Di tengah rimbunnya pepohonan di Tatahikang, Kampung Pinebentengang, Kecamatan Manganitu, tersimpan sebuah makam batu yang menyimpan kisah besar tentang kerajaan, persahabatan, dan jejak awal kehadiran Gereja Katolik di tanah Sangihe. Makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir Raja Tompoliu, Raja Kedua Kerajaan Maobungang atau Manganitu, yang wafat dan dimakamkan pada tahun 1670.
Kamis (05/11/2026), sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di lokasi tersebut. Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna, Pastor Jacob Adilang, Pr., melaksanakan pemberkatan makam Raja Tompoliu dalam rangkaian Peringatan Hari Arwah Semua Orang Beriman Tahun 2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pemberkatan ini menjadi peristiwa istimewa karena Pastor Jacob Adilang disebut sebagai imam pertama yang memberkati makam sang raja sejak pemakamannya pada tahun 1670. Setelah 356 tahun, makam batu yang menjadi saksi perjalanan sejarah Kerajaan Manganitu ini kembali mendapat perhatian dalam sebuah peristiwa iman.
Namun, di balik pemberkatan tersebut, ada kisah yang jauh lebih menarik untuk ditelusuri: siapakah Raja Tompoliu, dan bagaimana keputusan seorang raja di Manganitu pada tahun 1646 turut membuka jalan bagi kehadiran Gereja Katolik di Kepulauan Sangihe?
Raja Tompoliu dan Izin Bersejarah Pendirian Gereja Katolik Tahun 1646
Raja Tompoliu merupakan putra sulung Raja Liungtolosang, pendiri Kerajaan Maobungang, dengan Sangiang Ahungsehiwu. Ia memerintah sejak tahun 1645 hingga 1670.
Pada awalnya, pusat pemerintahan Kerajaan Maobungang berada di Kauhis. Namun, setelah Raja Tompoliu naik takhta pada tahun 1645, ibu kota kerajaan dipindahkan ke wilayah tepi pantai bernama Silahe, yang kini dikenal sebagai Kampung Pinebentengang. Pemindahan ini berkaitan dengan asal-usul istrinya, Sangiang Lawewe, yang berasal dari Belase-Lahumbia.
Salah satu catatan sejarah yang menarik dari masa pemerintahannya terjadi pada tahun 1646. Berdasarkan catatan sejarah dan cerita tutur, Raja Tompoliu memberikan izin kepada bangsa Portugis untuk mendirikan rumah ibadah Katolik Roma di wilayah Kerajaan Maobungang.
Rumah ibadah yang dikenal dengan sebutan “Paderi” atau “Padihe” dalam istilah lokal tersebut mula-mula didirikan di sebuah tanjung bernama Tonggeng Liang.
Keputusan Raja Tompoliu ini menjadi bagian penting dari sejarah awal misi Katolik di Manganitu. Kendati belum terdapat catatan yang memastikan bahwa Raja Tompoliu sendiri memeluk agama Katolik, izin yang diberikannya menjadi salah satu jejak sejarah yang membuka ruang bagi kehadiran Gereja Katolik di wilayah kerajaan.
Don Jugov Santiago: Nama Baptis Putra Raja Tompoliu
Kisah Raja Tompoliu semakin menarik ketika menelusuri sejarah putranya, Putra Bataha, yang kemudian dikenal luas sebagai Bataha Santiago.
Dalam artikel sejarah yang pernah diterbitkan pada 26 Juni 2021, berdasarkan keterangan Yunus Sinadia, yang tercatat dalam Silsilah Turunan Ke-13, disebutkan bahwa pada tahun 1646, sebagai bentuk penghormatan dan tanda persahabatan antara Portugis dan Kerajaan Maobungang, putra Raja Tompoliu dibaptis oleh seorang pastor Katolik dengan nama Don Jugov Santiago.
Nama tersebut menjadi bagian penting dari catatan sejarah pembaptisan Bataha Santiago dan perjalanan awal iman Katolik di lingkungan kerajaan.
Raja Tompoliu sendiri pernah memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah Katolik di Filipina. Namun, karena usianya yang semakin lanjut, ia kemudian memberikan kesempatan kepada putranya untuk mengikuti pendidikan di Manila, Filipina, selama empat tahun.
Kisah ini memperlihatkan keterkaitan sejarah antara Raja Tompoliu, kehadiran misi Katolik, dan putranya yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Sangihe.

Tahun 1670: Akhir Pemerintahan Raja Tompoliu, Awal Perjuangan Bataha Santiago
Pada tahun 1670, setelah Portugis mengalami kekalahan dalam konflik melawan VOC dan meninggalkan Pulau Sangihe menuju Filipina, Raja Tompoliu wafat karena usia lanjut.
Pada tahun yang sama, pemerintahan Kerajaan Maobungang diteruskan oleh putranya, Bataha Santiago.
Nama Bataha Santiago kemudian semakin dikenal dalam sejarah Kepulauan Sangihe karena perjuangannya mempertahankan kedaulatan kerajaan dan menentang kekuasaan VOC. Sosoknya menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan perjuangan masyarakat Sangihe.
Dengan demikian, sejarah Raja Tompoliu tidak dapat dipisahkan dari kisah Bataha Santiago. Sang ayah tercatat memberikan izin bagi pendirian rumah ibadah Katolik, sementara sang putra tercatat menerima pembaptisan Katolik dengan nama Don Jugov Santiago.
Dua generasi ini menghadirkan kisah sejarah yang menarik untuk ditelusuri, terutama bagi umat Katolik yang ingin mengenal lebih dalam jejak awal Gereja Katolik di wilayah Kepulauan Sangihe.
Makam Batu Tatahikang: Saksi Bisu Sejarah Kerajaan Manganitu
Raja Tompoliu dimakamkan di Tatahikang, Kampung Pinebentengang, Manganitu. Makamnya memiliki bentuk yang unik, tersusun dari batu-batu alam yang hingga kini masih dapat disaksikan.
Di tengah kawasan hutan yang rimbun, susunan batu tersebut menghadirkan suasana yang tenang sekaligus menyimpan nilai historis yang tinggi. Makam ini bukan hanya tempat peristirahatan terakhir seorang raja, melainkan juga saksi perjalanan Kerajaan Manganitu pada abad ke-17.
Menurut keterangan yang tercantum dalam artikel sejarah terdahulu, keluarga Raja Tompoliu menolak bentuk makam bergaya Eropa dan memilih pemakaman dengan struktur batu.
Informasi sejarah mengenai Raja Tompoliu juga diwariskan melalui catatan Jogugu Sirita yang ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh almarhum Ernest Sinadia pada tahun 1936. Sebagian catatan tersebut kemudian dikutip oleh Daniel Manatar dalam buku Sasahara yang diterbitkan pada tahun 1985.
Catatan-catatan ini menjadi sumber penting dalam upaya mengenal kembali sejarah Kerajaan Manganitu dan peran Raja Tompoliu dalam perjalanan sejarah daerah tersebut.
Pemberkatan Makam: Merawat Sejarah, Menghormati Leluhur, dan Menghidupi Iman
Pemberkatan makam Raja Tompoliu oleh Pastor Jacob Adilang, Pr., pada Kamis (05/11/2026), dalam rangkaian Hari Arwah Semua Orang Beriman, menjadi momentum penting untuk mengenang sosok raja yang memiliki peran dalam sejarah Manganitu.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan Gereja Katolik di Kepulauan Sangihe memiliki akar sejarah yang panjang. Jejaknya tidak hanya dapat ditemukan dalam kehidupan umat dan bangunan gereja, tetapi juga melalui kisah para tokoh kerajaan yang pernah membuka ruang bagi kehadiran misi Katolik.
Makam Raja Tompoliu di Tatahikang, Pinebentengang, kini menjadi salah satu situs yang layak mendapat perhatian lebih luas. Keunikan makam batu, suasana alam yang masih asri, serta kisah sejarah yang menyertainya menghadirkan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi.
Bagi umat Katolik dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan mereka yang ingin menelusuri sejarah awal misi Katolik di Asia Tenggara, Manganitu menyimpan kisah yang patut dikunjungi dan dipelajari.
Kunjungan ke makam Raja Tompoliu bukan sekadar perjalanan melihat peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, pengunjung diajak mengenal sejarah sebuah kerajaan, memahami hubungan antara kebudayaan lokal dan kehadiran misi Katolik, serta menghargai warisan leluhur yang masih hidup hingga saat ini.
Pemberkatan makam ini diharapkan menjadi langkah awal untuk semakin memperkenalkan situs bersejarah Raja Tompoliu kepada masyarakat luas, sekaligus mendorong upaya pelestarian warisan sejarah Kerajaan Manganitu.
Sebab, di balik susunan batu yang sederhana dan heningnya kawasan Tatahikang, tersimpan sebuah kisah yang telah melintasi lebih dari tiga setengah abad: kisah tentang seorang raja yang memberikan izin bagi hadirnya Gereja Katolik, dan seorang putra yang kemudian tercatat menerima pembaptisan dengan nama Don Jugov Santiago.
Manganitu bukan hanya menyimpan sejarah kerajaan. Di tanah ini, jejak awal misi Katolik juga meninggalkan kisah yang layak dikenal oleh dunia. (riko)
