Ayo Bekerja Karena Allah Tetap Bekerja Sampai Saat Ini

0
245

‘Saya datang mau membagi pengalaman, penghayatan akan tugas yang selama ini saya jalani. Karena kita semua bekerja melayani Tuhan di tempat yang sama, Keuskupan Manado’ demikian kata pembuka dari pembimbing retreat Pastor Fransikus Bram Tulusan MSC,  mengawali acara hari-hari rekoleksi karyawan-keuskupan yang dilaksanakan pada tanggal 10 s.d 11 Desember 2016 di rumah retreat Alamanda Kakaskasen, Tomohon.  Kegiatan retreat menjadi agenda tahunan bagi karyawan keuskupan

sebagai sarana untuk menimbah semangat melayani dari sumber air yang dinantikan, sang emannuel. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai sarana pertemuan untuk menjalin rasa kekeluargaan sebagai sesama pelayan ditengah umat beriman, para pastor dan tentunya kepada uskup Manado. Di hari pertama, pastor Bram Tulusan MSC yang sehari-hari bertugas sebagai tenaga pembina di Seminari Kakaskasen,  memberikan pencerahan kepada peserta retreat akan perlunya bekerja sebagai bentuk realisasi dirinya sebagai manusia. ‘Manusia mendapat penghargaan yang sangat tinggi oleh Allah. Ia yang bisa bekerja dengan bersabda saja tetapi mengundang manusia, menugaskan manusia untuk terlibat dalam karya penyelamatan manusia dan alam.

Hal ini terjadi karena manusia telah diciptakan secitra dengan Allah dan karenanya ia diberi kuasa atas ciptaan lain.’ Demikian tegas Pastor Bram yang sudah 5 tahun menjalani imamatnya. Di sesi awal,  dikatakan oleh ekonom seminari kakaskase ini, bahwa dengan bekerja mengingatkan manusia untuk melaksanakan tugas yang sekaligus mandat dari Allah, ‘kuasailah’, juga dengan bekerja membuat manusia senantiasa mengarahkan dirinya dan menghantar alam kepada Allah sebagai satusatunya yang patut disembah.  Dan dalam melaksanakan aktivitas bekerja manusia perlu mencontoh cara kerja Allah yaitu enam hari bekerja dan pada hari ketujuh beristirahat. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk beristirahat. Dengan penghayatan akan konsep bekerja ini akan membuat manusia memandang bahwa kerja yang dilakukan itu untuk manusia dan bukan manusia untuk bekerja. Di penutup hari pertama, dimanfaatkan untuk persiapan batin memasuki masa Advent, menantikan Sang Emmanuel, dengan merayakan sakramen Rekonsiliasi. Semua peserta rekoleksi yang berjumlah 16 orang dengan penuh antosias menggunakan kesempatan ini untuk membaharui relasi dengan Allah dan sesamanya. “ada rasa lega karena sudah mendapatkan pengampuan atas kelemahan dan dosa. Terima kasih Tuhan Allah yang maha rahim, semoga lebih bersemangat lagi dalam bekerja, demikian komentar dari bp. Yanni Kolompoy karyawan bagian prokurat, setelah mengikuti sakramen rekonsiliasi, dan di aminkan oleh Merlin Telah, yang bekerja di sekreatiat bersama Puspakusuma. Di hari kedua, para peserta diajak oleh pastor Bram untuk melihat realitas keberdosaan manusia yang mengingkari panggilannya untuk bekerja sesuai dengan maksud Tuhan, bahwa setelah bekerja Allah melihat ‘semuanya itu baik’. Situasi keberdosaan dalam bekerja yang terungkap dalam teks kitab Amos dan Injil Matius masih ‘up to date’ untuk diungkap karena masih terjadi dan hidup ditengah manusia pekerja saat ini. Pastor muda ini mengajak karyawan keuskupan untuk melihat bahwa dalam aktifitas bekerja yang tujuannya mendatangkan berkat bagi sang pekerja dan orang lain, kini menjadi kutuk. Bekerja membuat orang diperbudak oleh pekerjaan, manusia menjadi egois karena mementingkan kepuasan sendiri bahkan kenginan menjadi penguasa karena kerja yg dilakukannya. Demikian pula kemajuan yang dihasilkan oleh kerja manusia hanya dinikmati oleh segelintir manusia, bahkan proses kerja itu sendiri menghancurkan manusia yang lain sehingga perayaan-perayaan yang dilakukan tidak lain daripada merayakan dosa itu sendiri. Situasi itu tergambar dari sikap bekerja yang ‘forser’ dengan semangat irih hati, melihat teman sebagai saingan. Bpk Iwan Lalamentik memberi komentanya atas situasi ini bahwa ‘ternyata walaupun berbeda waktu tetapi sikap berdosa manusia akan kerja masih sama dijumpai saat ini. Bukan hanya di luar lembaga gereja tetapi juga ada diantara pekerja dalam gereja, demikian ungkap wakil ketua komkat. Diakhir kegiatan para peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pergumulan hidupnya sebagai pekerja di Keuskupan Manado. Dari sharing para ‘staf keuskupan’ terungkap refleksi yang mendalam atas pekerjaannya selama ini. Dirasakan suatu suakcita yang besar karena boleh ambil bagian dalam karya Tuhan melalui pelayanan kepada para imam dan uskup sendiri. “Dari tempat bekerja saja sudah terasa satu kaki berada di surga karena yang dilayani adalah para pelayan sejati Allah, para imam dan Uskup’ ungkap ibu Amelia Muaya.  Pastor Terry Ponomban yang turut hadir dalam retreat ini mengungkapkan bahwa teringat akan ungkapan rasul Paulus sehubungan dengan kerja; siapa yang bekerja patut mendapat upah, sehingga dengan materi refleksi  yang ada, bahwa sampai saat ini beliau masih bertanya-tanya selama jadi imam lebih banyak mana yang dilakukan apakah bekerja atau mendapat upah, namun demikian diharapkan tahun depan lebih banyak bekerja! Pastor Jhon Montolalu selaku Sekretaris uskup dan yang menjadi penanggungjawab pelaksanaan retret tahunan ini mentup kegiatan ini dengan menegaskan lagi apa yang sudah tercetus dalam komitmen untuk membaharui etos kerja sebagai karyawan keuskupan. Kiranya sukacita karena boleh ambil bagian dalam kerja dan karya Tuhan ditengah-tengan Keuskupan Manado menjadi pembakar semangat pelayanan diwaktu yang akan datang. Diharapkan tema kegiatan kebersamaan ini masih ada lanjutannya yaitu memikirkan secara serius hidup para karyawan keuskupan.

Sandro Rengkung

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini