BerandaBerita KomsosBATAHA SANTIAGO: SANG RAJA MANGANITU YANG MEMILIH MATI DARI PADA TUNDUK KEPADA...

BATAHA SANTIAGO: SANG RAJA MANGANITU YANG MEMILIH MATI DARI PADA TUNDUK KEPADA PENJAJAH

Published on

spot_img

Sejarah, Perjuangan, dan Nilai-Nilai Kepahlawanan Raja Bataha Santiago

Tahuna – Bataha Santiago merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Kepulauan Sangihe. Ia dikenal sebagai Raja Manganitu yang memiliki jiwa patriot, keberanian, kesetiaan terhadap agama, serta semangat mempertahankan kemerdekaan tanah air dari kekuasaan penjajah Belanda. Nama Bataha Santiago hingga kini tetap dikenang sebagai simbol perjuangan, persatuan, dan pengorbanan bagi rakyat dan negeri tercinta.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber dan referensi Aldus Horohiung, Bataha (Sakti) memiliki nama Bataha Santiago, dengan nama populer Santiago.

Santiago lahir di Manganitu, Sangihe, pada tahun 1622. Ia merupakan putra dari Tompoliu dan Lawewe. Santiago menempuh pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di St. Thomas University, Manila, Filipina.

Bekal pendidikan dan pengalaman hidup selama ayahnya memerintah Kerajaan Manganitu menjadi modal besar bagi Santiago dalam menjalankan kepemimpinannya. Pada tahun 1670, Santiago naik takhta menggantikan ayahandanya, Tompoliu. Ia memerintah Kerajaan Manganitu dari tahun 1670 hingga 1675.

Santiago kemudian meninggal dunia pada tahun 1675 dan dimakamkan di Nento, Kampung Karatung I, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Sangihe.

Pekerjaan dan Perjuangan

Membangun Kerajaan dan Memberdayakan Rakyat

Setelah naik takhta pada tahun 1670, Raja Bataha Santiago memanfaatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama masa pemerintahan ayahnya untuk membangun kerajaan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Santiago menerapkan berbagai kebijakan dan kegiatan yang bertujuan mengembangkan kehidupan masyarakat, antara lain:

  1. Menggiatkan penanaman komoditas pertanian. Santiago mendorong masyarakat untuk menanam cengkih, pala, dan kelapa sebagai komoditas yang mendukung kehidupan ekonomi rakyat.
  2. Mengembangkan semangat gotong royong. Masyarakat bekerja bersama-sama dalam berbagai kegiatan, seperti mendirikan rumah, membuka kebun, menanam padi ladang, dan pekerjaan lainnya.
  3. Mengembangkan sistem kerja bergilir atau arisan yang dikenal dengan istilah Palose. Melalui sistem ini, masyarakat saling membantu dalam pekerjaan secara bergiliran, seperti memintal tali ijuk, memetik padi, serta mencukur kelapa untuk diolah menjadi minyak. Hasil olahan tersebut kemudian dijual ke Ternate.

Semangat gotong royong dan kerja bersama tersebut dikenal melalui ungkapan Santiago, “Banala Pesasumbalaeng,” yang berarti bahwa semua pekerjaan harus dilakukan secara bersama-sama.

  1. Mempertahankan dan mengembangkan adat serta budaya. Santiago mendorong masyarakat untuk tetap melestarikan adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan menanam padi di ladang dan mengolah kelapa diiringi lagu-lagu daerah, seperti Sasambo dan Kakalumpang.

Setelah kegiatan membuka kebun, menuai padi, mendirikan rumah, melaksanakan perkawinan adat, menyambut tahun baru, dan berbagai kegiatan lainnya, masyarakat mengadakan acara syukuran yang dimeriahkan dengan beragam atraksi kesenian.

  1. Mengembangkan kehidupan beragama dan mengutamakan kesejahteraan rakyat. Santiago mengajak masyarakat untuk tekun beribadah serta menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai salah satu prioritas dalam pemerintahannya.
  2. Membangun persatuan untuk mempertahankan Kepulauan Sangihe. Santiago membujuk Raja Tabukan Don Fransisco Yuda I, Raja Kendahe Buisang, dan Raja Tahuna Marthin Tatandangnusa agar bersama-sama mempertahankan Kepulauan Sangihe dari ancaman masuknya dan penguasaan VOC Belanda.

Santiago mengambil langkah tersebut setelah melihat Kerajaan Siau beberapa kali mengalami serangan VOC Belanda.

Namun, inisiatif Santiago tidak mendapat sambutan positif dari ketiga raja tersebut. Meski demikian, keadaan itu tidak mengendurkan semangat perjuangannya. Santiago tetap teguh mempertahankan Kerajaan Manganitu, bahkan Kepulauan Sangihe dan Talaud, agar tidak dikuasai VOC Belanda yang dapat merugikan kehidupan rakyat.

Bagi rakyat dan para pembantunya, Santiago selalu menyampaikan ungkapan “Nusa Kumbahang Katumpaeng,” yang berarti kepulauan atau tanah air ini jangan sampai dirampas maupun dimasuki musuh.

Perlawanan Bataha Santiago terhadap VOC Belanda

Pada tahun 1675, VOC Belanda bersama kaki tangannya, Sultan Sibori dari Ternate, datang ke Pulau Sangihe untuk menghukum Bataha Santiago.

Santiago tidak tinggal diam. Ia melakukan perlawanan dengan mengerahkan pasukan yang telah dipersiapkannya menggunakan senjata sederhana sesuai kemampuan yang ada.

Santiago menolak mentah-mentah penandatanganan kontrak atau Palakat Panjang (Lange Contract). Ia tetap berpegang pada pendiriannya untuk mempertahankan kemerdekaan dan tidak ingin negerinya berada di bawah penjajahan.

Penolakan tersebut menyebabkan perang tidak dapat dihindari. Perlawanan berlangsung selama empat bulan.

Dalam upaya mengalahkan Santiago, VOC Belanda menggunakan berbagai taktik, termasuk melakukan pendekatan melalui meja perundingan dan menjalankan strategi adu domba.

Santiago akhirnya terbujuk untuk duduk bersama dalam perundingan. Namun, perundingan tersebut ternyata hanya menjadi siasat VOC Belanda. Santiago ditangkap dan dibawa ke Tahuna.

Di Tahuna, ia kembali ditanya apakah bersedia menandatangani kontrak dengan VOC Belanda. Santiago tetap menolak dan tidak mengubah pendiriannya.

Akibat penolakan tersebut, Santiago dibawa ke sebuah tempat bernama Bungalawang untuk menjalani hukuman mati. Ia digantung dan kepalanya dipancung.

Kesetiaannya terhadap kemerdekaan harus dibayar dengan pengorbanan jiwa dan raga di tanah air yang dicintainya.

Tanda Penghargaan terhadap Bataha Santiago

Jasa dan perjuangan Bataha Santiago mendapat berbagai bentuk penghargaan sebagai upaya mengenang dan menghormati pengorbanannya bagi tanah air.

Beberapa penghargaan dan bentuk penghormatan tersebut antara lain:

  1. Komando Resort Militer Manado di Sulawesi Utara menggunakan nama Korem 131 Santiago.
  2. Di tempat pelaksanaan hukuman gantung terhadap Santiago, dibangun Kodim 1301 Sangihe Talaud.
  3. Tempat tersebut juga menjadi sebuah kelurahan yang diberi nama Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Sangihe.
  4. Salah satu lapangan upacara dan olahraga di Kota Tahuna diberi nama Lapangan Gelora Santiago.
  5. Di Pulau Miangas, wilayah perbatasan Indonesia–Filipina, dibangun Monumen Patung Santiago.
  6. Pada tahun 1975, makam Santiago di Nento, Kampung Karatung I, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Sangihe Talaud, dipugar.
  7. Pada tahun 1985 dan 1993, makam Santiago kembali dipugar oleh Korem 131 Santiago.

Berbagai penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan dan pengorbanan Bataha Santiago tetap memiliki tempat penting dalam sejarah masyarakat Sangihe.

Nilai-Nilai Perjuangan Bataha Santiago

1. Kemerdekaan

Kemerdekaan merupakan hak dan tuntutan hidup seluruh umat manusia. Kemerdekaan mencakup berbagai aspek kehidupan sebagaimana tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Bataha Santiago berani melawan penjajah Belanda demi mempertahankan kemerdekaan bangsa dan tanah air. Ia rela mengorbankan dirinya agar rakyat dan negerinya tetap hidup merdeka.

Santiago gugur dan tubuhnya mengalami kehancuran, tetapi ia memilih kematian daripada membiarkan bangsa dan tanah air berada dalam penjajahan. Baginya, kemerdekaan merupakan dasar bagi manusia untuk membangun bangsa, negara, dan dirinya sendiri dalam suasana yang bebas.

2. Kehidupan Beragama

Agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi dasar moral serta pembentukan sifat-sifat kemanusiaan yang adil dan beradab.

Bataha Santiago dikenal sebagai penganut agama Nasrani Katolik yang setia. Ia juga mengembangkan kehidupan beragama di tengah masyarakat yang dipimpinnya.

Selain itu, masyarakat Sangihe telah lama mengenal Tuhan dengan sebutan “I Ghenggona Langi Duatang Saruluang,” yang berarti Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Kesadaran akan kuasa Tuhan dan pengenalan terhadap ajaran agama menjadi modal dasar Santiago dalam membangun masyarakat selama masa pemerintahannya.

3. Sifat-Sifat Kemanusiaan

Nilai kemanusiaan dalam perjuangan Bataha Santiago terlihat melalui ungkapannya “Banala Pesasumbalaeng.” Ungkapan ini mengandung makna gotong royong, yaitu setiap orang dalam kehidupan bersama harus saling membantu dan saling memberi, baik berupa materi maupun tenaga.

Gagasan tersebut mengajarkan bahwa setiap pekerjaan atau kegiatan harus dilaksanakan secara bersama-sama. Mereka yang memiliki kekurangan perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari sesama.

Demikian pula ketika seseorang mengalami kesusahan dan penderitaan, ia perlu mendapatkan pertolongan dan penghiburan.

Nilai ini juga menggambarkan praktik kehidupan adat, sopan santun, serta kepedulian terhadap norma-norma kehidupan masyarakat.

4. Persatuan

Meskipun Bataha Santiago merupakan seorang raja, kepemimpinannya tidak dijalankan dengan cara yang sewenang-wenang atau diktator.

Dalam kehidupan masyarakat Sangihe dan Talaud, sikap tenggang rasa memiliki pengaruh besar terhadap tata kehidupan sehari-hari, baik bagi pemimpin maupun masyarakat yang dipimpin.

Santiago menjalankan pemerintahannya dengan mengutamakan unsur demokrasi. Dalam mengambil keputusan, ia sering mendasarkan kebijakannya pada pemufakatan melalui musyawarah.

Cita-citanya untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Sangihe Besar terus ia perjuangkan. Persatuan yang kokoh menjadi kekuatan untuk membendung kekuasaan asing yang berusaha merampas negeri.

Di dalam kerajaannya sendiri, Santiago juga berupaya menjaga kehidupan masyarakat agar tidak terjadi persengketaan. Hal tersebut merupakan buah dari kebijaksanaannya dalam menggalang persatuan.

Kebahagiaan, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran dapat tercapai apabila manusia memiliki komitmen terhadap tujuan bersama yang berlandaskan kebersamaan dan kekeluargaan yang sehat.

5. Jiwa Patriot

Jiwa rela berkorban yang dimiliki Raja Bataha Santiago menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Santiago mempersembahkan jiwa dan raganya kepada tanah air karena ia mencintai kemerdekaan dan ingin hidup bebas tanpa dikekang oleh kekuasaan asing.

Sikapnya yang menolak menandatangani perjanjian kontrak dengan VOC Belanda menunjukkan bahwa ia tidak ingin menerima kesepakatan yang merugikan rakyat.

Baginya, menerima perjanjian tersebut berarti membiarkan rakyat hidup dalam penderitaan di bawah kekuasaan asing. Karena itu, ia lebih memilih menerima hukuman mati daripada mengingkari keyakinan dan pendiriannya.

Dari medan pertempuran hingga meja perundingan, Santiago tetap teguh pada prinsipnya. Ia lebih memilih mati daripada hidup dalam penjajahan.

Keberanian, keteguhan, dan tekad yang kuat menjadi faktor utama dalam perjuangannya. Ia tidak mudah goyah oleh senjata maupun bujukan karena memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri dan kemampuan rakyatnya.

Santiago tidak mengutamakan kepentingan pribadi. Seluruh perjuangannya bertujuan melindungi rakyat dan negerinya agar tetap hidup merdeka di tanah air tercinta.

Ungkapan “Nusa Kumbahang Katumpaeng” menjadi gambaran nyata dari jiwa patriot yang dimilikinya. Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa Kerajaan Manganitu dan Kepulauan Sangihe Talaud tidak boleh diinjak atau dikuasai penjajah.

Setiap jengkal tanah air harus dipertahankan. Pengorbanan jiwa dan raga merupakan wujud kecintaan terhadap tanah air, kemerdekaan, dan rakyat yang diperjuangkannya hingga rela menerima hukuman mati di tiang gantungan.

6. Anti-Penjajahan

Bataha Santiago memiliki jiwa kepahlawanan yang kuat dalam menentang penjajahan. Ia mengangkat senjata dan melawan VOC Belanda meskipun kekuatan pasukannya tidak seimbang dengan kekuatan musuh.

Santiago tetap berjuang hingga titik darah penghabisan. Ia konsisten terhadap cita-citanya dan bersedia menerima hukuman mati daripada tunduk kepada kekuasaan penjajah.

Keberaniannya menjadi bentuk perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuknya.

Sikap Santiago menunjukkan bahwa kemerdekaan dan martabat bangsa merupakan nilai yang harus dipertahankan. Ia tidak bersedia mengorbankan rakyat dan tanah air demi kepentingan kekuasaan asing.

Jiwa perjuangan Bataha Santiago menjadi sumber kekaguman dan memberikan pengaruh mendalam bagi generasi berikutnya. Kepribadiannya yang kokoh, keberaniannya dalam mengambil keputusan, serta kesetiaannya terhadap cita-cita kemerdekaan menjadikannya salah satu tokoh yang patut dikenang dalam sejarah Kepulauan Sangihe.

Bataha Santiago, Warisan Perjuangan bagi Generasi Masa Kini

Bataha Santiago bukan hanya seorang raja yang memimpin Kerajaan Manganitu pada 1670–1675. Ia merupakan sosok pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, kehidupan beragama, persatuan, gotong royong, dan kemerdekaan tanah air.

Perjuangannya melawan VOC Belanda memperlihatkan bahwa keberanian dan keteguhan prinsip tidak selalu ditentukan oleh besarnya kekuatan senjata. Keyakinan, persatuan, dan kecintaan terhadap rakyat menjadi kekuatan utama yang mendorong seseorang untuk tetap bertahan.

Pengorbanan Bataha Santiago menjadi warisan sejarah yang patut dipelajari dan diteladani. Nilai-nilai perjuangannya mengingatkan generasi masa kini agar terus menjaga persatuan, menghormati adat dan budaya, mengembangkan kehidupan beragama, serta mengutamakan kepentingan bersama.

Semangat “Banala Pesasumbalaeng” dan “Nusa Kumbahang Katumpaeng” tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Gotong royong dan persatuan menjadi fondasi penting untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sedangkan kecintaan terhadap tanah air harus diwujudkan melalui tanggung jawab dan pengabdian.

Bataha Santiago telah membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena kekuasaan yang dimilikinya, tetapi karena keberanian, pengorbanan, dan kesetiaannya terhadap rakyat serta tanah air.

Santiago gugur pada 1675, tetapi semangat perjuangannya tetap hidup dalam ingatan dan hati masyarakat Sangihe.

Sumber Referensi

  • Adrian D. B., Renungan Kisah Kepulauan Sangihe dan Talaud, Tabukan, 1981.
  • C. Wessels, S.J., De Katholieke Missie in de Molukken, Noord-Celebes en de Sangihe-eilanden de Spaanse Bestuursperiode 1606–1677.
  • Het Journal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, 16 Agustus–25 Desember 1677.
  • Makahanap, N. R., S.H., Mengenal Kepulauan Sangihe Talaud, Yayasan Pelestarian Budaya Sangihe Talaud, Jakarta, 1985.
  • Timbul R., Catatan Sejarah Perjuangan Menentang Penjajahan, Manganitu, 1982.

KONTEN POPULER

Latest articles

Makam Bataha Santiago Jadi Ruang Refleksi Kerahiman Allah dalam Peringatan Arwah

Tahuna – Kerahiman Allah menjadi inti refleksi dalam homili Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul...

Pastor Jacob Adilang: Gua Maria Tanda Persekutuan, Kesetiaan dan Keteguhan Iman Umat

Tahuna - Gua Maria bukan sekadar tempat untuk berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria,...

Legio Christi Ambil Bagian dalam Perayaan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100

TAHUNA – Kelompok Kategorial Legio Christi (LC) mengambil bagian dalam pelayanan pada perayaan Hari...

Minggu Misi Sedunia ke-100, Umat Tahuna Diajak Bersatu dalam Kristus

TAHUNA – Umat Katolik di Gereja Santo Yohanes Rasul Tahuna merayakan Hari Minggu Misi...

More like this

Makam Bataha Santiago Jadi Ruang Refleksi Kerahiman Allah dalam Peringatan Arwah

Tahuna – Kerahiman Allah menjadi inti refleksi dalam homili Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul...

Pastor Jacob Adilang: Gua Maria Tanda Persekutuan, Kesetiaan dan Keteguhan Iman Umat

Tahuna - Gua Maria bukan sekadar tempat untuk berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria,...

Legio Christi Ambil Bagian dalam Perayaan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100

TAHUNA – Kelompok Kategorial Legio Christi (LC) mengambil bagian dalam pelayanan pada perayaan Hari...