Manado – “Entah saya, entah Anda, semua berdosa. Tapi ketika kita datang dan bertobat pada Tuhan, Tuhan akan menyambut kita dalam sukacita yang penuh,”
Hal ini diungkapkan Ungkap Selebaran Pastor RD Theodorus Michael Palit (Theo), pada Homili di Misa ketiga, Hari Minggu Prapaskah IV (Laetare), bertempat di Gedung Gereja St Mikael Perkamil, Minggu, (30/03/2025).
Menurut Pastor Theo, bukankah kita sementara menjalani pekan-pekan pertobatan? Kita berpantang dan berpuasa, sambil berdoa beramal, bermati raga! Mengapa ada pekan sukacita?
“Upaya tobat kita bukanlah beban dan penghalang kita untuk mengalami kasih dan sukacita dari Tuhan. Sebaliknya pertobatan akan membuat kita terbebas dari belenggu-belenggu negatif yang menghambat diri kita untuk menjadi orang baik. Contoh kita benci orang marah karena tidak ikut kegiatan yang di hadirinya,” tuturnya.
Pastor Theo menegaskan, dengan bertobat, memaafkan kita bisa kembali bersukacita dalam pelayanan dan kebersamaan. Bertobat dan memaafkan bukanlah untuk orang lain. Melainkan untuk diri kita sendiri, kebaikan kita. Tobat membawa sukacita.
“Selain itu bacaan-bacaan kitab suci memberi kita penghiburan pada pekan ini, di tampilkan sukacita yang besar dari orang-orang yang mengalami sukacita karena kasih Allah,” ujarnya.
Lanjut Pastor Theo, bacaan pertama, orang-orang Israel yang setelah hidupnya mengalami pembuangan, hidup dalam penjajahan, setelah berhasil keluar dari penjajahan, mereka harus berjalan menuju tanah terjanji; dan akhirnya mereka boleh mengalami sukacita tiba di Tanah Terjanji dan boleh merayakan Paskah mereka makan Paskah dan setelahnya makan hasil dari tanah tersebut. Bangsa Israel terbebas dari kesengsaraan dan boleh menikmati kebebasan di tanah mereka sendiri dengan hasil panennya.
“Sebagaimana bangsa Israel, kita juga di hibur setelah upaya tobat kita, perjuangan puasa atau pantang, mati raga kita, kita akan bersukacita merayakan Paskah. Jadi tetap semangat. Paskah sudah tidak lama lagi. Ayo tetap bertobat, pantang, puasa, doa dan derma, supaya sukacita kita penuh,” harapnya.
Pastor Theo menyatakan, dengan begitu kita perlu bersukacita. Tuhan Yesus pun dalam bacaan Injil mengajarkan kita untuk bersukacita karena kita memiliki Allah Bapa yang maha rahim. Iya tidak menghitung-hitung dosa dan salah yang kita lakukan. Iya justru menerima kita ketika kita sadar diri untuk kembali kepadaNya seperti anak yang hilang. Iya sudah mati dan hidup kembali, iya sudah hilang dan ditemukan kembali. Maka pertobatan menjadi tanda sukacita tersendiri di pihak Allah dan manusia yang sadar diri sebagai orang berdosa dan bertobat.
“Selain kita sendiri, ada orang lain juga yang di undang bertobat. Dan bersyukur ada banyak orang yang mau bertobat. Tapi kemudian kadang kala ada yang bertobat masuk gereja banyak yang hujat atau cerita harusnya bersukacita bukan sebaliknya,” tegasnya.
Pastor Theo menyampaikan, orang bertobat kembali pulang seperti anak hilang. Ada pesta/ sukacita besar dari Bapa, baik kepada anak hilang/ sulung sama-sama di jemput oleh Bapa. Ada yang tidak suka tapi lebih baik bertobat dan menikmati sukacita, baik anak hilang atau sulung sama-sama di jemput oleh Bapa.
“Baik anak yang hilang, si bungsu, maupun si sulung yang bekerja dengan Bapanya, semuanya dijemput oleh Bapanya dengan sukacita. Entah saya, entah Anda, semua berdosa. Tapi ketika kita datang dan bertobat pada Tuhan, Tuhan akan menyambut kita dalam sukacita yang penuh,” tandasnya.(man repi)
