Gerakan Keuskupan Manado Peduli Bencana Kota Bitung

0
983

Pastor Joy Deri menjelaskan bahwa Komisi PSE memandang diri sebagai lembaga sosial, lembaga kemanusiaan, dan lembaga pelayanan dalam Gereja yang mengambil semangat, spirit dari Yesus Kristus.

Banjir Bandang di Bitung (Minggu, 12/2) membawa luka yang mendalam bagi masyarakat. Terlebih khusus korban yang bertempat tinggal di daerah lokasi banjir dan longsor sekitar wilayah Kecamatan Aertembaga dan Lembeh. Penderitaan yang mereka alami bukan hanya sekedar kerugian finansial saja melainkan mental dari mereka. Apa yang dialami warga korban bencana alam menjadi perhatian bagi semua masyarakat khususnya Sulawesi Utara. Ada beberapa pihak yang berusaha membantu mereka dengan berbagai cara. Salah satu yang memberikan bantuan yaitu dari pihak Gereja Katolik Keuskupan Manado.

Kepedulian terhadap korban bencana alam di Bitung disoroti oleh Radio Montini 106 FM. ‘Cinta sesama cinta semesta’ yang menjadi motto dari Radio Montini sebagai salah satu media gerejani memperlihatkan kepeduliannya melalui siaran pewartaan dengan adanya acara khusus bertema:  ‘Berbagi Kasih,’ dengan mengundang Pastor Joy Derry, Pr bersama dengan komunitas Laskar Iklim, Selasa (14/2).

Dalam program acara ‘Berbagi kasih’, Pastor Joy Derry, Pr sebagai ketua komisi pengembangan sosial ekonomi (PSE) Keuskupan Manado memberikan penjelasan mengenai badan komisi PSE tersebut.

Menurutnya, Badan komisi pengembangan sosial ekonomi (PSE) Keuskupan Manado adalah satu badan dalam lingkungan Gereja Katolik yang dibentuk oleh Uskup untuk secara khusus menjalankan tugas dalam karya-karya pelayanan sosial. Hal ini lebih difokuskan kepada pembangunan sosial ekonomi, pemberdayaan sosial ekonomi, sampai pada pelayanan kemanusiaan dalam peristiwa-peristiwa bencana. Entah itu. mengkoordinir gerakan pelayanan emergency response atau tanggap darurat maupun gerakan-gerakan pengurangan resiko bencana.

“Badan PSE ini mengambil semangat, spirit dari Yesus sendiri. Ia datang ke dunia agar supaya manusia hidup dalam kelimpahan dan untuk menolong serta membebaskan orang-orang yang tertindas dan orang-orang yang terbelenggu dari keadaan sosial ekonomi. Komisi PSE bidangnya adalah pemberdayaan, pembebasan, menyatakan kebersamaan dan perjuangan bersama dengan kaum kecil, lemah dan yang menjadi korban. Semangat dari PSE dan dalam pelayanannya dia akan bekerja sama entah dengan pihak pemerintah atau lingkungan gereja untuk menghadirkan cinta kasih dalam membangun manusia,”ungkapnya.

Pastor Joy menjelaskan mengenai 4 bidang tugas dan tanggung jawab dari badan PSE ini, yaitu:

  1. Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yaitu tugas untuk mengadakan katekese-katekese sosial untuk memberikan penyadaran-penyadaran kepada umat tentang masalah-masalah sosial, penyakit-penyakit social dan dampak-dampaknya. Melalui gerakan itu, kita mengharapkan terjadi perubahan, pertobatan, terjadi solidaritas dalam pemberdayaan dalam sosial masyarakat.
  2. Gerakan Hari Pangan Sedunia, Gereja Katolik juga menunjukkan keterlibatan, kepedulian, kebersamaan melalui pemerintah dalam gerakan PBB untuk memerangi masalah kelaparan dan masalah lingkungan hidup yang mengancam kehidupan banyak orang. Hal yang ditekankan yaitu terwujudnya relasi cinta kasih manusia dengan alam.
  3. PSE memberikan penyadaran, pelatihan, pemberdayaan gerakan solidaritas di bidang sosial ekonomi agar supaya kita membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. Kenyataannya, masyarakat belum sejahtera, belum mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok entah sandang, pangan, papan.
  4. Sebagai divisi pelayanan kebencanaan, pihak komisi PSE hadir sebagai koordinator, sebagai mediator, dan sebagai fasilitator dalam menghadapi bencana alam atau bencana kemanusiaan karena ulah manusia.

“Adapun kinerja kegiatan dari Komisi PSE melalui divisi kebencanaan yaitu dengan terjadinya kejadian banjir di Bitung, umat Katolik bisa turun langsung ke lapangan, melihat kenyataan yang terjadi, melihat kebutuhan-kebutuhan secara riil misalnya menyiapkan tempat di mana pastor paroki merekomendasikan bantuan-bantuan dari gerakan internal keuskupan. Dan dari internal keuskupan akan diarahkan ke satu tempat. Kemudian, didistribusikan ke gereja di Aertembaga dan di aula. Setelah itu, mencatat paroki-paroki mana yang memberikan bantuannya. Kemudian, menyalurkan bantuan sambil berkoordinasi dengan BPBD,” ungkap Pastor Joy.

Pastor Joy menambahkan bahwa dari semangat cinta kasih yang kita tunjukkan tidak hanya di hati, tidak hanya kita peduli, tetapi kita hadir disana, menunjukkan solidaritas ke tengah masyarakat, para korban dan memberikan pelayanan bersama mereka, sehingga cinta kasih itu menjadi nyata.

Adapun mengenai komunitas Laskar Iklim, Sdr. Glen Tielung menegaskan bahwa terbentuknya komunitas ini diprakarsai oleh anak muda yang peduli terhadap kemanusiaan dan peduli terhadap alam. Komunitas ini difasilitasi oleh Pastor Joy Derry sehingga dapat bersama-sama dengan Komisi PSE membantu masyarakat yang terkena bencana.

“Semoga kedepan semakin banyak orang khususnya orang muda Katolik (OMK) untuk bergabung membantu sesama. Sebab terlihat daerah Keuskupan Manado sangat luas dan membutuhkan bantuan sehingga diperlukan semakin banyak relawaan, “ tambah Pastor Joy.

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini