Hidup yang bercahaya (Surat Adven Uskup Keuskupan Manado tahun 2017)

0
880

Hidup yang bercahaya

Surat Adven Uskup Keuskupan Manado tahun 2017

Yang terkasih para Pastor, Biarawan/Biarawati, Umat Katolik Keuskupan Manado

Salam sejahtera!

Hari Minggu, tgl. 3 Oesember 2017, kita memasuki Masa Adven. Untuk kesekian kalinya kita mengalami peralihan: kita melepas dan menyukuri tahun liturgi yang sudah berlalu dan kita menyambut tahun liturgi yang baru dengan sukacita dan harapan. Gereja menyambut perjalanan kita memasuki masa Adven dengan pengakuan: “Engkaulah Bapa kami! Kami ini tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami semua adalah buatan tanganMu” (Yes. 16. 8). ltulah suatu pengakuan yang didasarkan pada pengalaman iman akan Bapa yang dikenal dengan nama “Penebus kami”. Pengalaman iman ini bersentuhan juga dengan pergumulan manusia sendiri yang mengaku “berdosa”, “pemberontak”, “orang najls”, “kotor”, “layu”. Pengakuan ini mengungkap makna dari Masa Adven, Masa Penantian, dan memberi! inspirasi pada kita bagaimana klta mengisi Masa Adven ini.

Masa Adven adalah suatu peziarahan untuk berjumpa dengan Yesus. Seperti para gembala yang “cepat-cepat berangkat” (Luk. 2:16), dan para majus yang dituntun dengan cahaya bintang mencari “untuk menyembah Dia” (Mat. 2:2), begitulah kita juga persiapkan diri untuk perjumpaan itu. Tentu saja, ada yang menerangi pikiran, dan hati, serta hidup para gembala, para majus, dan kita sekallan, untuk berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan dengan Yesus menjadi saat pemuliaan. Berjumpa dengan Yesus, para gembala “kembali sambil memuji dan memuliakan Allah” (Luk. 2: 20). Berjumpa dengan Yesus, para majus “mempersembahkan persembahan kepadaNya” dan “pulang ke negerinya melalui jalan lain” (Mat. 2:11-12) Berjumpa dengan Yesus, kita menjadi “terang dunia” (Mat. 5:14). Pemuliaan itu terungkap dalam pergantian cahaya: bukan lagi suara para malaikat, bukan lagi cahaya bintang di langit, bukan lagi panggilan dan ajakan dari luar, melainkan suara dan cahaya Yesus. Yesus jadi bintang dalam hati dan hidup para gembala, para majus. Yesus jadi batu penjuru dalam hidup kita. Mari berziarah untuk mencari dan menjumpai Yesus. Mari berziarah untuk berubah.

Ke arah pemuliaan itulah, Masa Adven ini kita mau jalani. Dalam peziarahan ini, baiklah kita menggali cahaya-cahaya yang sudah menerangi perjalanan hidup kita. Cahaya ltu sudah menandai awal perjalanan hidup kita sebagai manusia dalam bentuk nafas hidup, sesuai dengan kesaksian iman yang sudah dituliskan dalam Kitab Kejadian: “maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Kalau pada awal mula keadaannya sudah amat baik, kita bertanya: “bagaimana keadaan sekarang?” Cahaya yang sama sudah menandai awal perjalanan hidup klta sebagai orang beriman dalam penerlmaan sakramen baptis, dan sakramen lainnya, dan begltu selanjutnya terus menerus dibaharui melalui peristiwa-peristiwa hidup dan lman. Jejak cahaya itu sudah berawal dari Allah sendiri. Alasan paling dasar dari anugerah Allah ini adalah kasihNya, sebagaimana dikalimatkan oleh penginjil Yohanes: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunla ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3: 16). Kita sudah menerima cahaya itu; cahaya itu maslh terjaga dan terus diuji dalam rupa-rupa peristiwa dan pengalaman hidup dan lman kita. Cahaya itu harus juga dibagikan atau dipancarkan keluar dari hidup kita untuk menerangi dunia ini sesuai dengan harapan Yesus: “menerangi semua orang di dalam rumah” (Mat. 5:15). Mari berziarah sambil menjaga cahaya ini, sebagalmana sudah diamanatkan dalam penerimaan sakramen baptis “jagalah cahaya lilin ini”.

Menghadapi situasi bangsa yang akhir-akhir ini ditandai dengan radikalisme dan terorisme serta ujaran kebencian yang dapat rnerusak sendi-sendi hidup bersama, para Bapak Uskup dalam Sidang tgl. 6-16 November 2017 yang lalu rnengajak umat Katolik untuk terus menerus membuka diri membangun Tata Dunia ini. Mari kita bergandeng tangan, para Uskup bersama para Imam dan Diakon, angota hidup baktl (suster, frater, bruder) mendukung lcaum awam kita ikut meresapi dan menyempurnakan baik rumah kita maupun dunia dengan semangat lnjil.

Ada cahaya yang terpancar dari dalam diri manusia yang sedang berziarah: itulah kesadaran diri yang diungkapkan dalam bentuk pengakuan tersebut di atas. Karena cahaya itulah, maka pengalaman “jatuh” tidak membuat manusia berputus asa. Di tempat kejatuhan terdalampun, masih ditemukan cahaya yang menuntun hati manusia pada pengharapan akan keselamatan dan penebusan. Cahaya ltu rnenyentuh hati penuh kasih gereja yang kemudian membuka pintu dan menawarkan pengampunan, membangun rekonsiliasi. ltulah cahaya yang bersinar terang benderang di ruang pengakuan: “dosamu sudah diampunl” (Mat. 9:2), “pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh. 8:11). Mari singgah di ruang rekonsiliasi.

Surat Adven ini wajib dibacakan di semua gereja dan kapela di wilayah Keuskupan Manado pada hari Mingu adven I, Hari Mingu tanggal 3 Desember 2017, atau pada kesempatan lain yang dianggap tepat sesuai dengan sltuasi dan kondisi setempat.

 

 

 

Catatan:

Mari kita menjadi cahaya untuk orang lain. Salah satu bentuk cahaya yang hendak kita pancarkan dan bagikan kepada orang lain adalah gerakan solidaritas kita untuk saudara-saudari klta masyarakat Rohingya. Dalam rangka solidaritas dengan masyaralcat Rohingya, maka 5O% dari Dana/Envelope Natal yang terkumpul di paroki disetor ke Keuskupan untuk diteruskan ke KWI (cq. Karitas Indonesia) yang selanjutnya akan mengatur penyalurannya kepada masyarakat Rohingya.

 

 

Lampiran   :

Petunjuk mengenai Perayaan Natal Ekumenis sebelum tanggal 25 Desember dan        Penjelasan tentang arti liturgi Masa Adven bagi Umat Katolik  serta Bagaimana sikap kita kalau diundang menghadiri Perayaan Natal sebelum waktunya

 

Masa Adven membuka Tahun Liturgi yang baru, dan bagi umat Katolik mempunyai arti khusus, yaitu sebagai masa untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Kita Yesus Kristus. Umat diajak untuk membuat dirinya semakin pantas dan layak, agar siap menyambut kedatangan Tuhan. Dan sesudah persiapan batin selama 4 minggu Masa Adven, pada hari Natal secara istimewa umat merayakan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus.

Seruan Yohanes Pembaptis mengajak kita agar bertobat. Pertobatan ini membuat pengampunan Allah sungguh menjadi keselarnatan bagi manusia. Jalan yang bengkok perlu diluruskan, yang berlembah ditimbun, yang berbukit diratakan. Dalam mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan Natal, umat diajak untuk menerima Sakraman Pertobatan atau Pengakuan Dosa. Demiklanlah masa Adven terlebih mengajak kita untuk persiapan batin dan pertobatan, dalam rangka menyambut hari Natal.

Karena itu sebelum tanggal 25 Desember atau malam tanggal 24 Oesember, klta belum merayakan Natal. Baiklah kita menerangkan hal ini kepada saudara-saudari Kristen dari Gereja-gereja lain. Dan dalam lingkungan kita sendiri baiklah kita menjalani masa Adven dengan sebaik·baiknya, dengan pelbagai acara dalam paroki yang jelas-jelas menunjukkan bahwa kita sedang mempersiapkan diri, misalnya: renungan-renungan masa Adven, rekoleksi, triduum, novena natal, pertobatan, ulah tapa, perbuatan amal kasih dan perhatian kepada orang yang susah dan menderita.

Kita dapat juga mengembangkan suatu tradisi yang bagus sekitar “Krans Adven”, yaitu suatu lingkaran atau segi-empat dari daun-daun hijau atau kertas hiasan, dan 4 batang lilin yang diletakkan pada lingkaran itu atau pada sudut-sudut segi-empat itu. Pada Minggu Adven I dinyalakan satu lilin, pada Minggu Adven II dinyalakan 2 lilin dan seterusnya. Demikianlah dilambangkan tahap demi tahap, makin hari maki dekat, kita menantikan dengan rindu kedatangan Yesus. Sampai akhirnya tibalah kegenapan waktu pada hari Natal, dan semua lilin itupun dinyalakan.

Wama hijau menunjukkan pengharapan akan Kristus, dengan pita ungu menunjukkan pertobatan dan penantian. Lilin yang dinyalakan satu per satu melambangkan kedatangan Yesus, Cahaya Dunia yang menerangi hidup kita di dunia ini. Kiranya perlambangan sekitar “Krans Adven” itu dapat membantu kita untuk menghayati arti Masa Adven

Bagairnana sikap kita kalau diundang untuk menghadiri Perayaan Natal sebelum hari Natal?

  1. Pertama kita periu menjelaskan bagaimana umat Katolik memperslapkan diri untuk menyambut Hari Natal sepanjang masa Adven.
  2. Kalau kita menimbang perlu, dalam rangka kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, baiklah kita terima undangan untuk ikut hadir pada Perayaan Natal yang sudah disiapkan.
  3. Kita ikut hadir sebagai penghargaan atas undangan yang diberikan, tetapi tidak ikut aktlf menyelenggarakannya.
  4. Seandainya toh kita diminta untuk ambil bagian dalam menyumbangkan nyanyian atau memberi renungan, hendaknya kita menyanyikan lagu masa adven yang bemada penantian; begitupun renungan yang kita berikan.
  5. Dalam segala hal kita berpegang teguh pada ajaran Gereja Katolik, dengan sikap yang bljaksana dan terbuka dalam pergaulan dan dialog di tengah masyarakat.

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini