Hujan, Umat Paroki Bunda Teresa Dari Calcutta GPI Tetap Rayakan Minggu Palma

0
213
Perarakan Minggu Palma di Paroki Bunda Teresa Dari Calcutta, GPI Manado.
Perarakan Minggu Palma di Paroki Bunda Teresa Dari Calcutta, GPI Manado.

Di tengah cuaca hujan, umat Paroki Bunda Teresa Dari Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) Manado, Minggu 2 April 2023 tetap merayakan Minggu Palma yang menandakan umat Katolik memasuki Pekan Suci.

Seperti tahun sebelumnya perarakan palma dilaksanakan di depan gua Mari, halaman gereja. Namun karena hujan terus mengguyur, sehingga perarakan hanya dilakukan dari pelataran gereja. Perayaan diawali di bagian luar gereja dengan perberkatan daun palma oleh Pastor Paroki Petrus Tinangon PR didampingi Frater Diros Pugon. Kemudian mendengarkan bacaan Injil Matius 21:1-11 yang mengisahkan Tuhan Yesus Kristus memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi keledai disambut banyak orang. “Hosana bagi Putra Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!”

minggu palma 4

Umat kemudian berarak masuk ke dalam gereja dengan menyanyi bertema Raja Kristus sambil mengangkat daun palma yang sudah diberkati. Di dalam gereja perayaan dilanjutkan dengan liturgi sabda dan pembacaan kisah  sengsara Tuhan Yesus Kristus menurut Injil Santo Matius 27:11-54.

“Setiap tahun pada hari minggu ini Gereja membacakan kisah sengsara Yesus. Sambil mendengarkannya kita diingatkan betapa pengecutnya para pengikut-Nya yang meninggalkan Dia, pada saat Dia sangat membutuhkan kehadiran mereka. Betapa jahatnya para pemimpin agama yang bersekongkol untuk menghukum mati Dia. Betapa kejamnya para serdadu yang melaksanakan eksekusi terhadap-Nya dan kita perlu diingatkan tentang hal-hal ini. Oleh karena kita pun serupa dengan mereka,” tutur Pastor Petrus  Tinangon dalam homilinya.

minggu palma 8

“Kita telah mendengar terlalu banyak kabar buruk. Seperti kisah sengsara ini maka tekanan bukan pada soal ini. Tekanannya adalah pada Yesus, tokoh pusat dalam kisah sengsara, yang kita ingat adalah kesetiaan-Nya, keberanian-Nya dan kebaikan hati-Nya. Terhadap kegelapan Kalvari kebaikan hati-Nya bersinar dengan lebih benderang lagi,” ungkap Tinangon.

Hari kematian-Nya tidak dinamakan hari Jumat yang buruk, menurut Tinangon melainkan hari Jumat Agung. Hal membuatnya jadi agung adalah cinta kasih Yesus. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Cinta kasih Yesus itulah yang kita kenalkan dalam pekan suci ini,” sebutnya.

Lanjut Pastor Tinangon, orang-orang Kristiani perdana melihat dalam sengsara dan wafat Yesus kemenangan atas kegagalan. Dengan bantuan kitab suci mereka memahami bahwa ini adalah bagaimana Yesus menang dan masuk ke dalam kemuliaan. “Kemuliaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari sengsara-Nya. Di permukaannya bisa tampak seolah-olah Yesus kalah. Ini bukan kekalahan, ini kemenangan. Kemenangan kebaikan atas kejahatan, kemenangan kebaikan atas kebencian, kemenangan cahaya atas kegelapan dan kemenangan kehidupan atas kematian,” sebut Pastor Tinangon.

“Kisah sengsara menunjukkan bagaimana Yesus memberikan jawaban atau reaksi atas apa yang dilakukan orang terhadapNya. Ia menyerap segala kekerasan, mentransformasikannya lalu mengembalikannya sebagai kasih dan pengampunan. Inilah cinta kasih. Bahkan ketika mereka memakukan tangan dan kakinya, Ia tetap mengasihi. Ada baiknya kita ingat akan hal ini, ketika kita mengalami saat-saat yang berat. Adalah suatu penghiburan bagi kita mengetahui bahwa Yesus telah menderita. Namun penderitaanNya akan sia-sia kalau Ia tidak menanggung dengan cinta kasih,” ungkapnya.

Menurutnya, bukanlah penderitaan Yesus yang menyelamatkan dunia, melainkan cinta kasih-Nya. “Orang yang mencintai penderitaan itu gila. Penderitaan adalah sesuatu yang anda akan berikan hampir segala-galanya untuk bisa dihindari. Namun kita suka menderita bagi seseorang yang kita kasihi. Cinta kasih kita memberi arti, memberi makna bagi penderitaan kita. Yesus kita sebut sebagai gembala yang baik, yang mati karena Ia mengasihi domba-dombaNya,” sebut Pastor Tianangon.(Roy)

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini