Manado – “Kita umat kristiani, pengikut Kristus, merasa bangga dengan hukum kasih yang diberikan Yesus kepada kita,”
Hal ini diungkapkan Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong), pada Misa Kedua, Hari Minggu Paskah V, bertempat di Gedung Gereja St Mikael Perkamil Manado, Minggu (18/05/2025).
Menurut Pastor Yong, hukum kasih itu menggenapi dan menyempurnakan perintah-perintah Allah yang telah diberikan Tuhan dalam Perjanjian Lama. Hari ini Injil mewartakan kembali kepada kita perintah kasih itu.
Kata Yesus, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”
Lanjutan Pastor Yong, “Cinta hanya mencari satu hal: kebaikan orang yang dicintai.” Pernyataan ini secara mendasar mengarahkan dan membantu kita untuk hidup dalam kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan.
“Kenyataannya, bahkan orang yang saling mencintai pun terkadang saling menyakiti dan menghalangi jalan mereka untuk hidup dalam keadilan, kedamaian, dan kebahagiaan. Itu adalah penggambaran tentang cinta sejati. Masalahnya, cinta manusia dihidupi dan dipraktikkan pada tingkat yang berbeda,” tuturnya.
Secara umum, kita dapat membedakan tiga tingkatan cinta yang berbeda, yaitu eros, philia, dan agape. Eros adalah tentang cinta romantis. Philia adalah tentang cinta persaudaraan. Agape adalah tentang cinta tanpa pamrih atau cinta tanpa syarat.
“Jelas bahwa dalam Injil tadi, Yesus berbicara tentang cinta agape, yaitu kasih yang mencari dan menghendaki kebaikan bagi orang yang dikasihi tanpa motif yang mementingkan diri sendiri. Hanya cinta tanpa pamrih yang terus berjuang demi kebaikan orang yang dikasihi tanpa adanya keinginan yang mementingkan diri sendiri. Jika tidak ada cinta agape itu, maka kita tidak mudah untuk mencari kebaikan orang yang kita cintai; di luar cinta agapen kita sulit menyingkirkan motif apa pun untuk kebaikan kita sendiri,” urainya.
Cinta agape itulah yang disebutkan dalam Injil hari ini (Yohanes 13:31-33a, 34-35) sebagai perintah baru yang diminta Yesus untuk dipraktikkan oleh para pengikut-Nya. Mengasihi satu sama lain bukanlah hal yang baru sama sekalikarena dalam Perjanjian Lama (lihat Imamat 19:18) perintah kasih sudah disebutkan juga. Hal yang baru dalam perintah Yesus adalah bahwa kita harus saling mengasihi sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. Kita harus saling mengasihi seperti Yesus mengasihi kita. Cara Yesus mengasihi kita adalah dengan kasih tanpa pamrih, dengan rela berkorban, dengan menanggung penderitaan demi kebaikan orang yang dikasihi. Hanya dengan cara kasih itu, hidup baru dimungkinkan, perdamaian dan keadilan terwujud. Yesus menekankan bahwa cara kita mengasihi satu sama lain sebagai murid-murid-Nya seperti Dia telah mengasihi kita adalah cara kita menunjukkan identitas kita sebagai pengikut-Nya yang sejati. Perintah baru ini bukanlah sebuah teori baru tentang bagaimana mengasihi. Ini adalah cara baru untuk mempraktikkan kasih satu sama lain dengan kasih tanpa pamrih. Yesus memerintahkan kita untuk melakukannya karena Dia sendiri telah melakukannya.
“Bagaimana jika kita gagal saling mengasihi seperti Yesus ajarkan? Kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri dalam hal perintah kasih. Kita membutuhkan kekuatan Tuhan untuk membantu kita bisa mengasihi sesama tanpa pamrih. Teristimewa setiap kali kita menyambut tubuh Tuhan dalam ekaristi, sesungguhnya kita menerima dan mengalami kasih Tuhan kepada kita. Berdoalah memohon kekuatan kasih dari Tuhan, agar kita sendiri mampu mengasihi Tuhan dan sesama tanpa pamrih, dalam keluarga, dalam persahabatan dan persekutuan-persekutuan kita. Amin,” pesan Pastor Yong.(man repi)
