Konsolidasi di Wilroh Sta Verena, Umat Diminta Setia dalam Perjuangan

0
418
Kunjungan konsolidasi Pastor Paroki Petrus Tinangon di Wilayah Rohani Sta Verena.

Pastor Paroki Bunda Teresa Dari Calcutta GPI,  Pst PetrusTinangon Pr., melanjutkan kunjungan konsolidasi setelah diumumkannya ketua-ketua wilayah rohani. Konsolidasi kali ini dilaksanakan di Wilayah Rohani Sta Verena, Senin (22/01/2024). Pastor mengingatkan umat untuk tetap setia dalam perjuangan.

“Saudara sekalian seringkali kita meragukan kasih setia Allah. Terutama ketika kesulitan demi kesulitan menerpa kehidupan kita. Ketika kita menengok ke kanan dan ke kiri menanti pertolongan. Ketika seperti Mazmur 121 ayat 1 kita berteriak Tuhan di mana Engkau pada saat sesulit ini. Karena itu kalau kita mengatakan aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya, sebenarnya kita mesti bertanya dalam keadaan kita sekarang ini mungkinkah kita benar-benar menyanyikan kasih setia Tuhan,” tutur Pastor Petrus Tinangon.

Lanjutnya, di dalam kehidupan kita, baik hidup pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita pasti mempunyai 1001 macam alasan yang sah untuk mengeluh.

“Kita ini kan masih ada di dalam dunia, belum di surga. Tapi sabda Tuhan mau mengingatkan bahwa di dalam iman kita tetap punya alasan untuk percaya dan oleh karena itu kita menyanyikan kasih setia Tuhan. Ini sulit memang karena itu saya katakan tadi dalam iman artinya bahwa dibalik semua yang mencemaskan yang kita alami, kita boleh tetap percaya bahwa Tuhan tetap bekerja di dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi semua orang yang mengasihinya,” ungkap Pastor Petrus Tinangon.

Menurutnya ini memang bukan masalah seperti materi matematika 2 + 2 = 4. Dimana anda boleh percaya, boleh juga tidak. “Tapi baiklah anda ingat bahwa di dalam anda memilih untuk percaya atau tidak akan hal ini sesungguhnya di situ terkait pilihan anda mau menyerah saja kepada keadaan atau anda mau tetap berjuang. Anda cuma mau mengeluh saja atau anda mau berjalan terus betapa pun beratnya. Sebab pengharapan orang beriman memang harus realistis,” tandasnya.

Lanjutnya, iman tidak membutakan mata kita, sehingga kita tidak melihat masalah. Namun demikian iman mengajak kita untuk melihat kehidupan ini dari sudut yang lain. “Ini tidak berarti bahwa pengharapan itu akan terwujud dengan sendirinya. Allah saja harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Baca saja kitab Wahyu, Anak Domba itu harus bertempur mati-matian dan habis-habisan. Karena itu kita juga harus berjuang mau berjuang berani berjuang. Tuhan tidak menyediakan di depan kita jalan yang bertabur mawar melainkan jalan yang penuh perjuangan dan kerja keras yang mesti kita bayar dengan peluh kalau perlu dengan darah kita ini tidak pernah muda namun juga tidak akan sia-sia,” ungkap Pastor.

Pastor Petrus mengingatkan, kalau kita berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia maka yang pertama-tama harus kita tingkatkan adalah kualitas kita sebagai pejuang, setia sampai ke titik darah penghabisan kepada cita-cita perjuangan kita.

“Seperti Allah setia kepada kasih-Nya, kita selalu setia kepada cita-cita perjuangan kita. Jangan hanya berjuang untuk hidup, walau tentu saja ini wajar dan sah-sah saja. Peringatan Yesus menjadi amat relevan, barang siapa ingin mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawa. Artinya kita hanya akan eksis, kita cuma akan survive tapi kita kehilangan hidup itu sendiri. Sebab itu jangan cuma berjuang untuk hidup tetapi hidup untuk berjuang,” jelasnya.

“Saudara sekalian saya pernah membaca bahwa konon ada 7 hal yang membedakan sikap mental seorang pemenang dari seorang pecundang. Pertama kalau seorang berjiwa pemenang menghadapi sesuatu yang tidak tahu atau belum tahu ia akan cari tahu tapi seorang pecundang akan cukup angkat bau. Kedua kalau seorang yang berjiwa pemenang melakukan kesalahan ia akan berkata ya saya salah tapi seorang pecundang ia akan berkata tapi itu bukan salah saya. Ketiga kalau menghadapi masalah seorang pemenang akan menghadapinya sebaliknya seorang pecundang justru akan menghindarinya. Keempat tentang dirinya sendiri seorang pemenang selalu mengatakan saya toh belum sebaik yang seharusnya, sedang seorang pecundang akan mengatakan saya toh tak sejelek yang lain. Kelima seorang penenang selalu membuat janji kepada dirinya sendiri, tapi seorang pecundang selalu mengobrol janji kepada orang lain. Keenam menghadapi orang yang lebih dari dirinya si pemenang akan berusaha belajar daripadanya, tapi si pecundang akan mencari-cari kelemahannya. Ke-7 seorang pemenang senantiasa mencari jalan yang lebih baik, sedang seorang pecundang hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah biasa ia lakukan. Mari kita tingkatkan kualitas kita,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu Koordionator Bidang II Rommy Humokor menyerahkan buku panduan kepada pengurus wilayah rohani Sta Verena dan diterima ketua wilayah dr Anthonius Tumbol.(Roy)

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini