LIVE IN MENANTANG DIRI. SIAPA TAKUT??

0
184

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa kegiatan live in merupakan sarana untuk melayani sesama di mana para peserta tinggal. Peserta live in yang tinggal di rumah umat yang sudah ditunjuk, harus mengikuti kegiatan dari keluarga yang mereka tinggal. Semisal, kalau keluarga itu seorang petani maka peserta harus ikut ke kebun untuk merasakan pekerjaan orang tua asuh di mana mereka tinggal.

Life Education, adalah kata yang tepat untuk usia mereka yang mengikuti kegiatan ini. Mereka menantang diri mereka untuk merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di pedesaan. Khusunya anak-anak yang tinggal di perkotaan. Mereka belajar dari kehidupan nyata yang mereka jumpai selama live in. Mereka belajar mengenai hal-hal baru yang mungkin belum pernah mereka dapat dalam hidup mereka. Bukan hanya belajar, mereka juga ikut merasakan bagaimana situasi dari keluarga dan masyarakat setempat. Belajar bersosialisasi, dan beradaptasi dengan umat bahkan dengan masyarakat yang mereka jumpai selama ber-live in. Ada yang mulai belajar untuk melihat pohon seho “ba tifar saguer”, ada yang mulai belajar menyapu di rumah, mungkin kalau di rumah sendiri belum terbiasa. Tetapi selama tiga hari mereka menyapu, dan membersihkan rumah yang mereka tempati. Ada yang pergi ke kebun untuk memetik sayur, karena di Keluhuran Kumelembuai merupakan petani sayur. Ada yang pergi memberi makan ternak seperti ternak babi, kendati harus berjalan jauh, dan sebagainya. Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka menjadi kuat dalam menghadapi realitas kehidupan di zaman sekarang ini. Mereka berani keluar dari zona nyaman dan menantang diri mereka sendiri.  

Hal menarik lagi dalam kegiatan ini, di mana handphone  (HP) mereka di kumpul selama kegiatan. Tiga hari kegiatan mereka tidak menghubungi orangtua mereka. Hp dikumpulkan kepada panitia. Maksud dari pengumpulan hp ini, agar mereka fokus pada kegiatan yang dilaksanakan. Kalau dipikir-pikir diusia mereka, masih memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Kalau HP dikumpul pasti mereka akan kesal atau timbul perasaan “meraju” atau bahkan tidak mengikuti kegiatan. Tapi inilah kenyataan yang harus mereka lewati dalam kegiatan live in ini. Mereka harus menantang diri mereka sendiri selama tiga hari tanpa memegang hp.

Selain mengikuti kegiatan dari keluarga yang menjadi tempat tinggal para peserta, mereka juga menerima materi-materi yang sudah dijadwalkan. Mereka diajarkan bagaimana mengatur waktu. Karena lokasi tempat pertemuan berjauhan dengan rumah-rumah tempat tinggal mereka, maka peserta harus sebijaksana mungkin dalam mengatur waktu. Dibalik semuanya itu, mereka menantang diri mereka untuk keluar dari zona nyaman kehidupan mereka. Kendati masih umur masih belasan, mereka sudah diajarkan merasakan kehidupan umat dan masyarakat tempat ber-live in. Hal menarik lainnya dalam kegiatan live in Misdinar Paroki St. Ignatius Manado ini ialah, mereka diajak untuk main games out bond. Di hari kedua mereka mengadakan live in, setelah menyelesaikan tugas-tugas bersama keluarga tempat tinggal mereka, di sore hari mereka berkumpul untuk kegiatan out bond.

Peserta dibentuk menjadi beberapa kelompok, kemudian mereka rela-relaan basah dan berguling di tanah yang sudah berair, hanya untuk melatih fisik dan mental mereka. Dalam games ini mereka dituntun oleh kaka Pembina dan frater yang hadir. Games ini pula mau mengajarkan kepada mereka untuk menjadi kelompok yang solid, saling bekerja sama, dan kreatifitas dalam tim. Karena dalam pelayanan, misdinar juga kerja sama dan kreatifitas sangat dibutuhkan. AMDG (bers….)

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini