In Memoriam sahabatku, imam, RD John Karudeng(Refleksi Pastor Terry Ponomban, pr)

2
5430
Imam
Kenangan Pesta Perak Imamat tiga sahabat

Benih harus mati untuk bisa menghasilkan buah berlimpah… Ya, John, benih apa yang kau tinggalkan sebagai imam, ketika hampir semua orang bilang, engkau itu pastor panjaha, angker, serem, disiplin, karas pe karas…
Orang lebih mengenal cover luarnya dan jarang mengenal isi dalamnya. Tak banyak orang tahu bahwa John itu punya hati lembut bagai sutera, dia bisa menangis dengan yang bersedih, dia bisa trenyuh atas duka derita orang kecil… Bukan kebetulan, semalam, sesudah misa, ada seorang anak gadis, usia SMP, berjalan cepat2 keluar gereja sambil menangis…

John
Pastor John, kami kenang jasamu

Saya menyambutnya, menyapanya, kenapa nak… Pastor, kita kwa ada skolah besok, kong kita nda bisa mo antar pa pastor John… Mungkinkah seorang pastor panjaha membuat seorang anak begitu sedih atas kepergiannya? Dan masih di saat yang sama, seorang ibu muda, 35 an usianya, saya tahu persis, ia beragama Budha, mengeluh : pastor nyanda bilang2 pastor John saki, untung le dapa tahu dia so meninggal… kita kwa masih kacili so dekat deng pastor… tidakkah ia pasti memiliki hati lembut, penuh perhatian dan kasih, lintas batas malah?
Benar kau keras dan tegas, seperti katamu sendiri, kita nda tako, kalu benar, demi kebenaran, bukan hanya mulut yg bicara, tapi tangan dan kakimu bisa bicara
Tapi banyak orang juga tahu, bahkan teriak dan bersaksi : tanpa pastor disiplin itu, torang dulu lausala di sma amurang, nyanda mo jadi orang rupa skarang; tanpa pastor itu, torang dulu jadi pelajar jalanan, jago babon minuman di warong tapi maraya tu nilai2 di sekolah…

John
Kami lanjutkan kerja kerasmu

John, kata orang engkau jarang di tampa, jarang di kantor, di ruang pastoran. Benar, engkau pastor in action, bukan di mulu, bukan di rapat2, sebab parokimu adalah seluruh keuskupan, keperihatinan dan kepedulianmu adalah seluruh diosis…
Lembah Napu jadi saksi bisu, ketika engkau mensponsori transmigrasi lokal sekaligus plantasi iman, agar orang2 Katolik dari Minahasa, mau bertani, mau bersaksi, mau merintis gereja trans Sulawesi yang mayoritas… Agar Gereja memiliki sumbangsih bagi pertanian, kesejahteraan rakyat di daerah tertinggal ini… dan kau merintis kebun raya Napu, dengan pengaturan air dan sungai, dengan pelbagai tanaman dan bibit, dengan pelbagai upaya memanusiawikan termasuk penduduk setempat… Mungkin uskuppun tak tahu, engkau masuk keluar balai desa, meyakinkan masyarakat dan kepala desa, tentang manfaat tanah, tentang falsafah menanam dan pelestarian alam… berbau domba… pastor kotor… pastor di lapangan
John, di rapat pastor lalu, bapa Uskup dan imam2, maaf, berebutan durian, dari SAL, hasil tangan kotormu, hasil keringat lelakimu, hasil pandanganmu yang jauh ke depan… kau menanam bukan utuk lehermu, tetapi untuk generasi lain… oh pohon2 durian dan rambutan di Sentrum Agraris Lotta, berbicaralah kamu tentang imam yang kotor tangannya tetapi murni hatinya… tentang imam yang tak pernah bertanya kapan aku boleh cuti, ke mana aku bisa cuti… tetapi imam yang bertanya : what can I do for you?
John, engkau keras dalam berpendapat tetapi engkau sangat mendalam ketika ber-refleksi : maka tak heran orang mengalami dirimu bagaikan inspirator, motivator… bukan sekedar pendobrak, bukan sekedar revolusioner konyol… Bicaralah p Steven tentang John sang inspirator… sharing pastor Steven… bicaralah p Yakob tentang John sang motivator…


John, tanganmu kotor, kasar, tapi hatimu, hati Allah, hati Bapa… Allah yang memikirkan umatNya, Allah yang memperhatikan yang lain… Kau sakit, tapi kau lebih peduli pada kami; ketika 2 minggu lalu saya sembuh sesudah serangan jantung, kau berkata : Terry, kau untung, dekat kota, bisa ditolong cepat… Tapi, Feighty kasiang, kalu jadi apa2 dia di sana, bisa abis di jalang kwa dia… John, ragamu sakit, sangat sakit, tapi kau sangat peduli, sangat peduli pada yg sehat… Maafkan, kami yg sehat malah kurang peduli padamu yg sekarat…
Kata orang, banyak yang terluka olehmu, pastilah ada, pastilah ada, karena engkau bukan imam yang mampu menyenangkan dan memuaskan semua orang… karena engkau lebih taat pada kenabian panggilanmu dari pada semangat menyenangkan orang, asal bapa senang, asal ibu2 senang, asal umat sanang… Ada yang terluka, tetapi tidak membawa mati, bahkan membawa hidup… berapa banyak orang yang ingat akan jasamu, membela yang kecil lemah, memperjuangkan kepedulianmu…
Buktinya, ada orang yang merasa berutang budi padamu, merasa dibela, merasa diselamatkan, merasa ditolong, maka salahkah ketika orang-orang ini mengasihimu dan melayanimu bagai hamba di hari2 berat dan hari2 engkau paling menglami pergumulan?

Yesus menemanimu

Buktinya, ada orang yang dulu pernah berselisih paham, yang dulu pernah kau tegur dan peringatkan keras, datang merangkulmu di ranjang sakit… berpelukan, bertangisan…
Kata orang kau itu pastor type tiada maaf, tiada ampun, engkau untouchable, engkau mati rasa
Namun, engkaulah sang kakak yang dengan rendah hati bagai hamba meminta maaf dan memberi maaf, engkau mungkin melukai tetapi engkau juga menyembuhkan… kata Paus Fransiskus, tiada keluarga yang sempurna, tiada bapa, tiada ibu, tiada kakak, tiada adik yang sempurna… karena itu kita semua membutuhkan pengampunan dan permaafan…


Oh ya katanya ada orang juga yg terluka olehmu, John. Benar ya, kau setuju juga. Tetapi, adakah cukup orang yang tahu, bahwa engkau juga sakit dan terluka, ketika engkau tidak diberikan tugas jelas, ketika engkau tidak diberikan pekerjaan jelas, dan 3 tahun engkau hidup, maaf, sendiri… Tapi engkau tidak pernah marah, tidak dendam, tidak omong2 juga… Engkau ternyata bisa diam dan menanggung deritamu sendiri… Syukur ada umat Lotta dan sr2 DSY menerimamu, sebagai imam… syukur ada upaya Pastor Piet Tinangon, meyakinkanmu kembali sampai kau bertugas lagi di keuskupanmu, yang kau cintai sampai nafasmu terakhir, tanpa keluh, tanpa mempersalahkan, bahkan kau bilang, kau malu minta bantuan karena tahu pengobatanmu butuh biaya besar…
Adakah yang tahu betapa engkau pemikir masa depan keuskupan? John, di rapat kerja barusan, saat2 engkau kian parah, bapa uskup menggugah dan menggugat kami imam2 : apa yang kamu buat untuk 50 tahun ke depan? Seperti misionaris2 dulu, telah berpikir, berbuat untuk kita masa kini? Belum tahu barangkali uskup baru kita, bahwa sebagai imam muda engkau telah berpikir : pastor diosesan harus mampu berdikari juga, kita membutuhkan dana kehidupan, dana kesehatan, dana cuti dll, bahwa kita perlu sumber yang bisa menghasilkan dana-dana itu, agar kita tidak jadi pengemis di keuskupan sendiri… dan engkau merintis tanah dengan perkebunan kelapa serta telaga2, memperluasnya dengan sawah2… tenagamu, keringatmu mengucur deras, badanmu legam terbakar matahari… kau sewa alat2 berat… kau cari rupa2 bibit dan benih, tak tahu kau cari duit dari mana, kami hanya tahu itu semua ada dan berjalan… jarang kami dengar kau cuti ke Jakarta, atau ke Bali, tak pernah kami dengar kau tamasya ke Bangkok atau kau dibawa orang pesiar ke luar negeri,… kau imam pekerja, kau imam lapangan, tapi kami tahu, kau juga sangat suci kalau memimpin misa… maafkan John kalau hasil kebun Radey tak pernah kau rasakan membantu pengobatanmu, sebab itu kau buat bukan utk dirimu, tetapi untuk masa depan imam2 di keuskupan ini… John, kami malu bertanya, apa yang sudah kau buat bagi diosis ini… biarlah kami imam2 muda masa kini, menjawabnya : apa yang sudah kita berikan bagi gereja lokal ini…
John, engkau tidak pernah cari untung dari jabatan imamatmu, engkau tidak pernah memperalat imamatmu untuk kesenangan dan kepentingan pribadi… sampai2 kisah seperti ini pernah terjadi… ketika engkau membutuhkan obat, engkau menyembunyikan identitasmu, agar engkau tidak usah mendapatkan obat secara gratis, agar engkau tetap bisa menolong penjual yang juga membutuhkan uang.. maksud baikmu terbuka John, ibu itu lari ke kamar lalu keluar dengan foto tahbisamu bersama 2 rekan imammu ini, dan kau tak bisa membela diri lagi… kau imam, kau dikenal umatmu… John, betapa kau tidak memanfaatkan imamatmu untuk kepentingan pribadimu…

John, ketika saatmu kian dekat, engkau menyambut saat2 itu, bagai domba dibawa ke tempat pembantaian, tiada keluh tiada kesah, tiada amarah, tiada sesal… kau jalani penuh siap sedia…
Bagai orang yg diundang ke pesta perjamuan surgawi, Engkau mempersiapkan dirimu dengan baik, sadar dan beriman :
Engkau menerima sakit deritamu sebagai salib imamatmu yang harus dipikul, dipanggul, setia, mengikuti Dia… Deritamu di dunia ini telah menjadi api penyucian bagi jiwamu, derita dan sakitmu 5 tahun ini telah menjadi tapa dan penitensi bagi dosa dan salahmu, dan engkau panggul salib imamat… Jika Yesus dengan hati terbuka, engkau dengan usus terbuka, usus tersobek, usus terkeluar… Kau tak pernah mengeluh, kau tak pernah teriak marah, kau tak pernah benci pada Tuhan… dalam hening, dalam sepi kau memanggul salib deritamu… konsekwen seperti senandung kita bertiga, saat kita ditahbiskan dulu :
Kali ini Tuhan, kumau ikut Tuhan, memikul salibMu dengan sejuta harapan… dunia kutinggalkan, dunia kulupakan, kumau ikut ke jalanMu Tuhan…
Jalan Tuhan, itulah jalanmu, jalan salib… di penghujung jalan ini, engkau minta ditemukan dengan adik2mu, dengan orang2 yang dekat denganmu, Engkau menangis, engkau mohon maaf dan memberi maaf… Engkau membersihkan kebun hatimu dengan apik, engkau membersihkan taman hatimu dengan cantik… engkau membiarkan air surgawi mengalir, membasahi, menyegarkan…
Hari Minggu lalu, engkau sendiri minta diterimakan sakramen pengurapan orang sakit, engkau menginginkan persiapan rohani dan sacramental bagi hati dan hidup imamatmu… dan, itu menguatkanmu sesaat, untuk selanjutnya kau semakin siap ketika daya2 manusiawimu mulai melemah…
Dan ketika engkau kian lemah, ditemani imam2 dekatmu, engkau bersedia menerima berkat apostolic dan penganugerahan indulgensi penuh, diawali absolusi dari sesama imammu, pastor Wens… Dengan air mata dan suara gemetar p Wens memberkatimu pada pagi itu, di hari Sabtu imam… engkau lalu lebih banyak suka tidur dan menahan sakit, bagai anak domba di altar kurban…


Apalagi yang kau butuhkan John, semua sudah siap… di malam minggu itu, adik2mu datang, sahabat2mu menyapa dan mendoakanmu… Engkau memasuki sakrat maut… ada lagu singkat dibisikkan di telingamu: ke dalam tanganMu kuserahkan rohku… kunyanyikan lagu kesayanganmu di komunitas diosesan tempo dulu : Veni Iesu amor mi… dan sesudah lagu ini, ketika aku pamit kau tidak mengenalku lagi, tetapi aku percaya engkau lagi siap berjumpa dengan Iesus, amor mi, veni veni…
Sampai dinihari, dies dominica, diiringi lantunan doa Rosario dan puluhan Ave Maria, engkau mengakhiri jalan salibmu dengan hembusan nafasmu yang teduh tenang… membenarkan kata2 kitab whyu : berbahagialah yang meninggal di dalam Tuhan, mereka berada di tangan Allah… membenarkan syair lagu di bulan Rosario ini : dan bila aku mati, diucap bibirku…
John, masukilah rumah bapa, bagai hamba yang setia,
Terima kasih untuk kesaksian imamatmu, penuh kerja nyata, penuh pembelaan pd yang kecil, tk rekan imam pemerhati yang kecil dan pekerja keras tanpa batas…
John, engkau kini tak kekurangan, Tuhanlah gembalamu, berbaringlah di padang rumput hijau
Terima kasih untuk imanmu, untuk kesetiaanMu pada Tuhan, pada imamat, untuk benih2 baik imamatmu
John, berbaringlah di tangan Allah Bapa, yang lebih subur dari lembah Napu, dengarkan senandung para malaekat lebih merdu dari kicauan burung2 di pepohonan Lotta… engkau takkan mati, benih2mu tetap hidup

Tuhan berkenan padamu….. Tuhan menyambutmu… bukankah ini harapan dan lagu imamatmu juga, lagu yg kita senandungkan sambil menunggu2 kapan kita ditahbiskan: Satu hal ini, satu hal ini, satu hal ini, yang kami mohon, kepada Tuhan, yang kami mohon kepada Tuhan : Semoga aku boleh diam di rumahMu, semoga aku boleh diam di rumahMu, ya Tuhan, selama hidupku!

RD Terry Ponomban

2 Komentar

  1. RIP Pst John….tulisan yang sangat sangat menyentuh. Semoga para gembala lainnya, kelak akan dikenang seperti tulisan ini….Amiiiin

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini