Tahuna – Suasana penuh hikmat mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu Paskah IV, yang juga dikenal sebagai Hari Minggu Panggilan, di Gereja Pusat Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna Minggu 26/04/2026. Perayaan ini dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, RD. Jacob Adilang,Pr.
Sejak awal perayaan, umat diajak untuk merenungkan makna mendalam dari panggilan hidup beriman, dengan meneladani Yesus Kristus sebagai Gembala Baik yang mengenal dan memanggil setiap domba-Nya.
Dalam homilinya, Pastor menyoroti perubahan besar dalam diri Santo Petrus. Dari seorang yang pernah takut dan menyangkal, Petrus berubah menjadi pribadi yang berani bersaksi.
“Perubahan itu terjadi karena satu hal yakni Yesus telah bangkit dan mengalahkan maut,” sebut Pastor Jacob.
Kebangkitan Kristus menjadi dasar keberanian iman. Ketakutan manusia akan kematian tidak lagi menjadi akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal.
Mengacu pada Injil Minggu Paskah IV, Pastor menegaskan kritik Yesus Kristus terhadap para pemimpin agama yang gagal menggembalakan umat. Mereka disebut sebagai pencuri dan pengampok karena tidak membawah umat kepada kehidupan.
Sebaliknya, Yesus menegaskan “Akulah pintu… Akulah Gembala yang baik. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap panggilan dalam Gereja adalah panggilan untuk melayani dan menuntun, bukan mencari kepentingan diri.
Hari Minggu Panggilan tidak hanya ditujukan bagi para imam atau biarawan-biarawati, tetapi bagi seluruh umat.
Pastor mengingatkan bahwa menjadi Katolik adalah pilihan sadar percaya bahwa hidup ini sementara dan ada kehidupan kekal yang menanti.
Karena itu, ajakan Santo Petrus tetap relevan hingga kini “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis.”
Pembaptisan menjadi pintu masuk untuk ambil bagian dalam hidup Kristus termasuk dalam penderitaan, pengorbanan, dan kemuliaan-Nya.
Dalam refleksi yang menyentuh, Pastor juga mengingatkan bahwa hidup beriman tidak selalu mudah. Tidak sedikit orang yang berbuat baik, tetapi tidak dihargai, bahkan di salah pahami.
Namun, iman Katolik mengajarkan tetap setia berbuat baik, bahkan dalam penderitaan.
“Jika kamu berbuat baik dan karena itu harus menderita, itu adalah kasih karunia Allah,” demikian pesan Pastor Jacob yang ditegaskan dalam homili.
Perayaan Ekaristi ditegaskan sebagai pusat kehidupan iman. Di dalamnya, umat tidak hanya berkumpul, tetapi mengalami perjumpaan nyata dengan Tuhan.
Ekaristi menjadi, sumber kekuatan, penuntun arah hidup dan sekaligus jembatan antara dunia dan surga.
Melalui perayaan ini, umat diteguhkan agar tidak tersesat di tengah perjalanan hidup.
Pastor Jacob juga menekankan pentingnya hidup dalam persekutuan. Surga digambarkan sebagai kebersamaan dalam kasih, sehingga hidup bersekutu di dunia menjadi masa persiapan menuju kehidupan kekal.
“Kalau kita tidak mencintai persekutuan di dunia, bagaimana kita akan mencintai surga?” sebut Adilang.
Di tengah tantangan zaman, Pastor mengungkapkan bahwa fenomena kembalinya umat ke Gereja Katolik terus terjadi. Hal ini bukan semata karena faktor organisasi, tetapi karena daya tarik iman akan hidup kekal.
Namun demikian, umat juga diingatkan untuk tidak hanya berbangga sebagai bagian dari Gereja, tetapi sungguh hidup sebagai saksi Kristus dalam keseharian.
Perayaan Ekaristi ditutup dengan ajakan untuk semakin menyadari panggilan hidup masing-masing. Setiap umat dipanggil untuk, menghidupi rahmat pembaptisan, setia dalam iman dan berani bersaksi seperti Santo Petrus
Dalam suasana penuh iman, umat kembali diingatkan akan undangan Tuhan “Berbahagialah yang diundang ke perjamuan Anak Domba.”
Sebuah undangan yang bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kehidupan kekal bersama Allah. (Riko)
