Misa Imlek : Sebuah Doa Ucapan Syukur dan Mohon Berkat

    0
    989
    Misa Imlek di Paroki St. Ignatius Manado pada Kamis, 19 Februari 2015 oleh Uskup Emeritus Mgr. Josef Suwatan, MSC

    Perayaan Imlek tahun ini jatuh pada 16 Februari 2018. Seperti kebanyakan perayaan tahun baru, moment ini menjadi ajang sukacita, syukur dan harapan baru. Begitu juga bagi umat katolik keturunan Tionghoa. Misa Imlek menjadi salah satu bentuk perayaan tahun baru yang jatuh pada 16 Februari 2018 ini.

    Apakah imlek itu?

    Imlek adalah perayaan Tahun Baru bagi orang Tionghoa, bertepatan dengan hari pertama bulan pertama dalam tahun. Sekalian menandai dimulainya musim semi, musim harapan dan kehidupan baru bagi dunia pertanian. Berakhirnya musim dingin, di mana tanah pertanian nyaris mati dan tidur, menjadi tanda harapan dan  kehidupan baru melalui musim semi, musim kehidupan. Maka, perayaan ini ditandai juga dengan doa, ucapan syukur dan permohonan berkat. Sesungguhnya, Imlek bukan berhubungan langsung dengan perayaan ritual keagamaan sebuah religi tertentu, tetapi lebih sebuah perayaan budaya, perayaan orang Tionghoa yang merayakan hari tahun baru.

    Imlek dirayakan sepanjang 2 minggu yang diakhiri dengan perayaan Cap Go meh, pada saat bulan purnama. Di Indonesia, sejak 1999, Imlek diijinkan dirayakan oleh Presiden Gus Dur bahkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati. .

    Imlek dirayakan melalui beberapa kegiatan seperti : perayaan perpisahan tahun, ditandai dengan makan bersama keluarga, di mana anak-anak biasanya mendatangi orang tua, doa syukur di rumah maupun di klenteng. Kebiasaan memberikan hadiah/angpao dari yang sudah menikah kepada mereka yang belum menikah. Keluarga-keluarga seolah ‘istirahat sejenak’ dari kesibukan kehidupan, untuk bertemu, bersilahturahmi, merajut relasi dan ungkapan hormat dan bakti serta kasih satu sama lain, dengan saling bertemu, makan dan minum bersama. Orang saling mengucapkan ‘gong xi fa cai’ yang secara sederhana berarti ‘selamat dan sejahtera’. Ucapan ini mengandung doa syukur atas semua yang sudah lewat sekalian harapan besar akan masa yang akan datang.

    Jadi, imlek adalah sebuah perayaan tahun baru, mengawali musim semi penuh pengharapan, ditandai dengan doa syukur dan harapan, dirayakan dalam suasana kekeluargaan yang perlu dirawat, dipelihara dan dikembangkan lewat saling salam, sapa, berbagi.

    Mengapa Gereja Katolik mengadakan ‘misa Imlek’

    Apakah ‘misa imlek’ itu? Misa Imlek, adalah perayaan ekaristi kudus yang diselenggarakan oleh Gereja Katolik untuk ikut merayakan moment tahun baru imlek. Imam bersama umat katolik, khususnya yang keturunan Tionghoa, yang memiliki budaya atau latarbelakang perayaan tahun baru imlek, menyelenggarakan misa syukur bersama serta permohonan berkat bagi keluarga dan komunitas, dalam memasuki tahun yang baru.

    Selanjutnya : mengapa Gereja Katolik mengadakan misa imlek? Pertama, Gereja Katolik menghargai dan menghormati apa saja yang baik dalam budaya-budaya umat manusia. Begitulah Gereja menghargai budaya perayaan tahun baru Imlek, yang dianut sebagian penganut umat Katolik. Apa yang dianggap baik dalam budaya ini? Kesadaran dan kemauan bersyukur atas pengalaman hidup sepanjang tahun lalu dan permohonan berkat Tuhan untuk tahun baru. Keyakinan akan masa depan baru yang penuh pengharapan di dalam Tuhan Pencipta. Serta, membangun kerukunan dan kasih sayang dalam keluarga/komunitas.

    Kedua, Gereja Katolik  ingin bersyukur, berdoa dan membangun persaudaraan bersama penganut-penganutnya, melalui ‘misa Imlek’, melalui doa dan pewartaan akan harapan baik di masa depan, serta mendukung upaya-upaya membangun kerukunan, persaudaraan sejati di dalam keluarga, komunitas, paroki, gereja bahkan masyarakat.  Gereja ingin membangun musim semi baru bagi dunia kehidupan kita.

    Ketiga, Gereja Katolik bukan hanya ikut merayakan Imlek tetapi juga mau mengangkat nilai-nilai luhur yang dikandungnya yang sejalan dengan azas ajaran kristiani. Misalnya : perayaan syukur diangkat dalam tingkatan sakramen ekaristi yang adalah eucharestia, perayaan ucapan syukur kepada Tuhan. Kita tidak bersyukur hanya di restoran, di pantai, dengan plesir dan pesta pora tetapi dalam ekaristi di gereja. Gereja mau menanamkan pentingnya pengharapan, lewat symbol musim semi; Kristuslah musim semi Gereja dan dunia, yang membawa harapan baru; Ia adalah tunas harapan, tunas kesejahteraan dan keselamatan. Selanjutnya, perayaan keluarga, menjadi kesempatan meningkatkan hormat dan kepatuhan kepada orang tua, saling hormat dan support satu sama lain sebagai anggota keluarga. Berbagi berkat dan rahmat, bukan saja melalui angpao  tetapi juga melalui berkat/hadiah rohani berupa pesan-pesan Kitab Suci, teladan-teladan dan keutamaan-keutamaan kehidupan yang positif, serta kesediaan berbagi berkat dengan mereka yang lebih membutuhkan.

    Hal-hal khas dalam misa Imlek

    Beberapa hal yang khas dalam misa imlek ialah : imam dan petugas-petugas liturgi menggunakan pakaian liturgis berwarna dasar merah serta aksesoris khas yang sederhana. Bacaan Kitab Suci dibawakan dalam bahasa Mandarin dengan terjemahan bahasa Indonesia. Lagu-lagu rokhani yang bernuansa Tionghoa yang cocok dengan kaidah liturgi, bisa digunakan. Begitu pula, hiasan panti imam dan gereja, sedikit ditandai aksesoris imlek seperti lampion, yang menjadi symbol lilin, terang dunia dan  pohon Mei Hwa sebagai pohon kehidupan, pohon pengharapan, pohon rahmat dan rejeki… Gereja katolik berhati-hati dalam penggunaan aksesoris atau ritual imlek lainnya di dalam gereja, seperti penggunaan tarian Liong dan Barongsai, sebab dalam liturgi, di dalam misa, umat datang menghadap Tuhan, bukan untuk menikmati show atau pertunjukan. Liturgi bukanlah tontonan atau pertunjukan, melainkan ibadah.

    Kekhususan yang unik adalah pemberkatan jeruk yang kemudian dibagi-bagikan kepada umat di akhir misa, disertai ‘angpao Sabda’ di mana di setiap amplop merah diselipkan 1 ayat dari Kitab Suci yang kiranya menjadi ‘santapan rohani’ atau kiranya menjadi ‘bekal’ tahun baru bagi yang mendapatkannya.

    Misa Imlek 2018 di Gereja St. Ignatius Manado

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, Gereja Katolik Keuskupan Manado, memutuskan merayakan misa imlek pada 17 Februari 2018, hari Sabtu, jam 18.00 di Gereja St. Ignatius Manado. Misa ini akan dipimpin oleh YM Uskup Manado, Mgr Rolly Untu bersama pastor paroki dan beberapa imam lainnya. Panitia Misa Imlek tahun ini, yang dikoordiir oleh Bp Asin, Fr. Tjun dan Ibu Irene Thenoch, mengatakan misa imlek ini dirayakan secara sederhana mengingat Gereja Katolik tengah memasuki masa puasa atau masa prapaska. Juga panitia ingin mengajak umat untuk berbagi harapan, berbagi berkat, melalui derma atau persembahan yang akan diperuntukkan bagi saudara-saudari di Asmat/Agats yang tengah mengalami kekurangan gizi dan kerawanan kesehatan. Umat Manado mau berbagi dengan menciptakan musim semi pengharapan baik bagi sesama saudara-saudari di seberang sana.

    Misa imlek ini dipersembahkan untuk umat katolik keturunan Tionghoa maupun bagi siapa saja yang ingin merayakannya tanpa kecuali. Bahkan terbuka juga bagi saudara-saudari lain yang tidak beragama katolik, yang ingin merayakan syukur dan permohonan berkat mereka. Bahkan jajaran pemerintah daerahpun diharapkan hadir dan mengambil bagian di dalamnya.

    Mari merayakan misa imlek, sebab Tuhan mengarahkan wajahNya kepada kita, Ia melimpahi kita dengan kasih setiaNya; Ia menyertai kita melewati satu masa yang lampau dan memastikan penyertaanNya di musim semi yang baru ini. Biarlah keluarga, komunitas, paroki, daerah kita bahkan bangsa kita merajut dan membangun musim semi yang indah dan menyejahterakan bagi semua warganya.

    P. Terry Ponomban, pr (Ketua Komkat Keuskupan Manado)

    Beri Komentar

    Silahkan masukkan komentar anda
    Silahkan masukkan nama anda di sini