Paus Fransiskus Dalam Doa Angelus, Minggu, 17 September: Jangan Tutup Hatimu!

0
2320

Pengampunan “tidak langsung melenyapkan kesalahan, tetapi menyadarkan bahwa kita adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan senantiasa lebih besar dari pada kejahatan yang kita lakukan.” Inilah yang diungkapkan Paus Fransiskus dalam pengajarannya pada kesempatan doa Angelus Hari Minggu, 17 September 2017. Ungkapan ini mengacu pada Injil Matius yang dibaca dalam Liturgi Ekaristi hari ini. Teks yang berbicara tentang jawaban Yesus kepada Petrus yang bertanya sampai berapa kali harus mengampuni saudara yang bersalah kepadanya: “Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Ungkapan paus diatas terkonfirmasi dari penjelasan atas perumpamaan tentang Raja yang berbelaskasih dan hamba yang kejam, di mana muncul “ketidakkonsistenan dari orang pertama yang mendapat pengampunan tetapi kemudian menolak mengampuni.”

Menolak Mengampuni menjadikan kita “Hamba yang tidak konsisten”

“Raja dalam perumpamaan yang diceritakan Yesus adalah seorang yang murah hati dan berbelaskasih sehingga membebaskan hutang besar hamba yang memohon kepadanya”. Akan tetapi hamba ini tidak melakukan hal yang sama kepada hamba lain yang berhutang jauh lebih kecil kepadanya, sebaliknya memasukkan dia dalam penjara.

Bapa suci menegaskan bahwa “Sikap tidak konsisten hamba ini, juga menjadi sikap kita ketika kita menolak mengampuni saudara-saudari kita, sementara raja dalam perumpamaan tersebut adalah gambaran Allah yang mengasihi dengan cinta penuh belas kasih untuk menyambut, mengasihi dan mengampuni kita terus-menerus.

“Tuhan terus-menerus mengampuni kita sejak dibaptis”

Pengampunan Allah dimulai sejak Pembaptisan kita. Ia menghapus hutang dosa asal yang tak mampu kita bayar, kemudian mengampuni semua kesalahan kita dengan belas kasih tak terbatas, meski kita hanya menunjukkan sebuah tanda tobat kecil”. Di bawah terang Injil, Paus mengingatkan kita semua pada Hari Minggu ini untuk mengatasi “godaan untuk menutup hati kita kepada orang-orang yang telah menyinggung perasaan kita dan meminta maaf pada kita.” Mari kita ingat kata-kata Bapa Surgawi kepada hamba yang jahat itu: “Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya kepadaku, bukankah engkau pun harus mengasihi kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?

“Sukacita pengampunan Memampukan kita mengampuni”

Paus melanjutkan refleksinya: “Siapapun yang pernah mengalami sukacita, damai dan kebebasan batin ketika diampuni, membuka kemungkinan untuk kemudian memberi pengampunan”. Ini adalah pelajaran dari perumpamaan Yesus, tetapi juga menjadi inti dari doa Bapa Kami: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Pengampunan yang kita minta dari Tuhan, berhubungan dengan apa yang harus kita berikan kepada saudara kita.

Semoga Maria menjadikan kita seperti Tuhan yang sungguh mengampuni dengan cuma-cuma 

Paus menyimpulkan pengajarannya: “Pengampunan Tuhan adalah tanda cinta yang luar biasa untuk masing-masing kita.” Cintalah yang memberi kita kebebasan untuk pergi menjauh sebagaimana anak yang hilang, tetapi cinta yang samalah yang setiap hari menanti kita kembali, Itulah juga cinta tulus gembala bagi domba-domba yang hilang; sebuah kelemahlembutan yang menyambut setiap pendosa yang mengetuk  pintu hatinya. Bapa Surgawi sungguh penuh kasih dan berkenan menawarkannya tetapi Ia sendiri tidak dapat melakukannya jika kita menutup hati kita untuk mencintai orang lain “. Akhirnya, Bapa suci menutup pengajarannya dengan permohonan, semoga Bunda Maria membantu kita, untuk lebih sadar betapa pengampunan Tuhan sungguh besar dan cuma-cuma dan kiranya bunda Maria menolong kita untuk berbelaskasih seperti Bapa yang baik, yang panjang sabar dan besar kasih setiaNya.

Sumber: Radio Vaticana http://it.radiovaticana.va/news/2017/09/17/papa_allangelus_siate_misericordiosi_come_il_padre/1337342

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini