Vatikan — Memperingati Rabu Abu dan membuka masa Prapaskah, Paus Leo XIV memimpin Misa khusus di Basilika Santa Sabina di Roma dan mengajak umat untuk merenungkan makna kematian, dosa, dan perubahan hidup.
Dalam homilinya, Paus mengatakan tanda abu yang diberikan kepada umat bukan sekadar ritual, melainkan pengingat kematian dan kondisi dunia saat ini — “sebuah dunia yang seolah terbakar,” dengan kehancuran akibat perang dan krisis lain yang terus menguji kemanusiaan.
Ia menyoroti bahwa Prapaskah adalah waktu untuk menyadari dosa — baik yang bersifat pribadi maupun yang terbentuk dalam struktur masyarakat — dan menekankan perlunya pertobatan sejati. Menurutnya, masa ini memanggil umat untuk berani melepaskan diri dari kebiasaan lama serta membuka diri pada perubahan yang mendalam.
Paus juga menarik perhatian pada keterbukaan banyak kaum muda terhadap panggilan pertobatan dan tanggung jawab moral. Ia mengatakan generasi muda sering menunjukkan kesadaran akan keadilan dan dorongan untuk hidup lebih adil, serta mengakui kesalahan baik dalam konteks Gereja maupun dunia.
Prapaskah, lanjut Paus, bukan hanya soal menjalankan puasa dan praktik pribadi, tetapi juga merupakan kesempatan bagi komunitas untuk semakin menguatkan hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama serta memperkenalkan semangat pertobatan kepada orang lain yang mencari pembaruan hidup.
Dengan cara itu, umat diajak tidak hanya menyadari dosa mereka sendiri, tetapi juga bergerak bersama sebagai sebuah komunitas yang bertransformasi menuju kehidupan yang lebih bermakna, terutama menjelang perayaan Paskah.
