Tahuna — Suasana penuh khidmat dan syukur menyelimuti dek Kapal Sabuk Nusantara 109 saat Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna, RD. Jacob Adilang, Pr memimpin Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan, Kamis (14/05/2026).
Perayaan suci tersebut berlangsung dalam perjalanan kembali menuju pusat Paroki Tahuna, seusai kunjungan pastoral di Pulau Marore yang dilaksanakan pada Rabu (13/05/2026). Di tengah bentangan laut biru dan terpaan angin samudera, umat bersama pastor paroki memanjatkan doa dan syukur atas penyertaan Tuhan dalam seluruh karya pelayanan Gereja.
Nuansa sederhana namun mendalam terasa ketika altar didirikan di atas kapal. Umat yang mengikuti perayaan tampak larut dalam doa, sementara suara ombak dan hembusan angin menjadi bagian dari keheningan rohani yang menyentuh hati.

Dalam homilinya, RD. Jacob Adilang, Pr mengangkat makna Hari Raya Kenaikan Tuhan berdasarkan bacaan liturgi: Kisah Para Rasul 1:1-11, Efesus 1:17-23, dan Injil Matius 28:16-20.
Pastor paroki menegaskan bahwa kenaikan Yesus ke surga bukanlah tanda perpisahan dengan umat-Nya, melainkan awal dari pengutusan Gereja untuk terus membawa kabar sukacita keselamatan hingga ke ujung bumi.
“Murid-murid memandang ke langit ketika Yesus naik ke surga. Namun para malaikat mengingatkan mereka agar tidak hanya terpaku menatap ke atas, sebab masih ada tugas perutusan yang harus dijalankan di dunia. Iman bukan hanya tentang memandang surga, tetapi juga menghadirkan kasih Tuhan di tengah kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa perjalanan Gereja di tengah dunia serupa dengan perjalanan di lautan: kadang tenang, kadang diterpa gelombang. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
“Di atas kapal ini kita belajar bahwa hidup adalah perjalanan. Ada ombak, ada badai, ada ketidakpastian. Tetapi Kristus yang naik ke surga tetap menyertai Gereja-Nya. Seperti sabda-Nya dalam Injil Matius: ‘Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.’ Itu menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap percaya dan melayani,” tutur Pastor Jacob.
Mengutip Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, ia mengajak umat untuk memiliki mata hati yang terang agar mampu melihat harapan dan karya Allah di tengah kehidupan.

“Kadang manusia mudah putus asa ketika melihat tantangan hidup. Tetapi Tuhan memberi pengharapan. Gereja dipanggil menjadi tanda harapan itu, terutama bagi mereka yang lemah, kecil, dan sedang mengalami pergumulan,” lanjutnya.
Perayaan Ekaristi tersebut menjadi momen rohani yang mendalam, terlebih karena dilaksanakan setelah pelayanan pastoral di wilayah kepulauan terluar. Kehadiran Gereja di tengah umat, termasuk di daerah perbatasan dan kepulauan, menjadi tanda nyata bahwa kasih Tuhan menjangkau semua orang tanpa batas.

Dengan penuh kesederhanaan, umat yang hadir mengikuti seluruh rangkaian perayaan hingga akhir. Kebersamaan yang terjalin di atas kapal menghadirkan gambaran Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang berjalan bersama dalam satu iman, satu harapan, dan satu kasih.
Perayaan Hari Raya Kenaikan Tuhan di tengah perjalanan laut itu pun menjadi pengingat bahwa ke mana pun perjalanan membawa manusia, Tuhan selalu hadir dan berjalan bersama umat-Nya. (Riko)
