Dalam Pesan Hari Misi Sedunia 2025, Paus Fransiskus mengingatkan para misionaris bahwa bersandar pada Tuhan melalui doa adalah kunci “untuk menjaga api harapan tetap hidup, sehingga dapat menjadi nyala besar yang menerangi dan menghangatkan semua orang di sekitar kita…”
Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa bukan hanya merupakan “kegiatan misionaris utama,” tetapi juga kunci untuk “menjaga api harapan yang dinyalakan oleh Allah dalam diri kita tetap hidup…”
Bapa Suci memberikan pengingat yang menghibur ini dalam Pesan Hari Misi Sedunia 2025, yang diterbitkan oleh Kantor Pers Tahta Suci dalam beberapa bahasa pada hari Kamis (06/02/2025). Gereja akan memperingati Hari Misi Sedunia ke-99 pada tanggal 19 Oktober.
Paus memulai pesannya dengan mengingatkan bahwa inti dari Hari Misi Sedunia tahun ini adalah “harapan,” dan menjelaskan bahwa untuk alasan inilah ia memilih motto: “Misionaris Harapan di Tengah Semua Bangsa.” Ia menekankan bahwa motto ini mengingatkan setiap umat Kristen dan seluruh Gereja “akan panggilan mendasar kita untuk menjadi, mengikuti jejak Kristus, pembawa pesan dan pembangun harapan.”
Dalam konteks ini, Paus menyampaikan harapannya agar Hari Misi Sedunia menjadi momen rahmat, kemudian melanjutkan dengan merenungkan tiga aspek identitas misionaris Kristen kita.
Terinspirasi untuk Mengikuti Jejak-Nya
Dalam perenungan pertama tentang mengikuti jejak Tuhan, Paus mendorong, “Semoga kita juga merasa terinspirasi untuk berjalan mengikuti jejak Tuhan Yesus, agar bersama Dia dan di dalam Dia, kita menjadi tanda dan pembawa harapan bagi semua orang, di setiap tempat dan keadaan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita untuk dijalani.”
Selanjutnya, Paus menelaah tentang “Umat Kristen, Pembawa dan Pembangun Harapan di Tengah Semua Bangsa.”
“Dengan mengikuti Kristus Tuhan,” ia menekankan, “umat Kristen dipanggil untuk menyampaikan Kabar Baik dengan berbagi dalam situasi kehidupan nyata orang-orang yang mereka temui, dan dengan demikian menjadi pembawa dan pembangun harapan.”
“Mengikuti panggilan Tuhan,” ia menegaskan, “kalian telah pergi ke bangsa-bangsa lain untuk memperkenalkan kasih Allah dalam Kristus.”
“Untuk ini,” lanjutnya, “saya mengucapkan terima kasih yang tulus! Hidup kalian adalah jawaban nyata atas perintah Kristus yang bangkit, yang mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa.”
Pembawa Kabar Kemanusiaan Baru
Dengan cara ini, Paus mengatakan bahwa mereka adalah tanda dari “panggilan universal” orang yang dibaptis, melalui kuasa Roh Kudus dan upaya sehari-hari, untuk menjadi “misionaris di tengah semua bangsa dan saksi-saksi harapan besar yang diberikan oleh Tuhan Yesus.”
Didorong oleh harapan besar ini, ia mengatakan bahwa komunitas Kristen dapat menjadi “pembawa kabar kemanusiaan baru di dunia, di wilayah-wilayah ‘paling maju,’ yang menunjukkan gejala serius krisis kemanusiaan.” Hal ini terlihat melalui “perasaan kebingungan, kesepian, dan ketidakpedulian yang meluas terhadap kebutuhan orang tua, serta keengganan untuk berusaha membantu sesama yang membutuhkan.”
Di negara-negara dengan teknologi paling maju, Bapa Suci menambahkan, “kedekatan” semakin menghilang. “Kita semua terhubung, tetapi tidak terikat. Obsesi terhadap efisiensi dan keterikatan pada hal-hal materi serta ambisi membuat kita egois dan tidak mampu berbuat altruisme.”
Injil, yang dialami dalam kehidupan komunitas, Bapa Suci meyakinkan, dapat memulihkan kita menjadi “kemanusiaan yang utuh, sehat, dan ditebus.”
Oleh karena itu, Paus memperbarui seruannya kepada semua umat beriman untuk memberikan perhatian khusus kepada orang miskin, lemah, lanjut usia, dan yang terpinggirkan, serta melakukannya “dengan ‘gaya’ Allah yang penuh kedekatan, belas kasih, dan kelembutan.
Diperbarui dalam Spiritualitas Paskah
Terakhir, Paus beralih ke aspek ketiga, yaitu “Memperbarui Misi Harapan.”
“Menghadapi urgensi misi harapan saat ini,” kata Paus Fransiskus, “murid-murid Kristus dipanggil pertama-tama untuk menemukan cara menjadi ‘perajin’ harapan dan pemulih kemanusiaan yang sering kali teralihkan dan tidak bahagia.”
Misionaris harapan, Bapa Suci menegaskan kembali, adalah “pria dan wanita yang berdoa,” karena “orang yang berharap adalah orang yang berdoa.”
“Jangan lupa,” ia menekankan, “bahwa doa adalah kegiatan misionaris utama dan sekaligus ‘kekuatan pertama dari harapan.'”
Dengan mengingat hal ini, Paus mendesak para misionaris untuk “memperbarui misi harapan, dimulai dari doa, terutama doa yang berlandaskan firman Tuhan, khususnya Mazmur, simfoni doa yang agung, yang komponisnya adalah Roh Kudus.”
Menjaga Cahaya Harapan Tetap Menyala Melalui Doa
“Dengan berdoa,” Paus Fransiskus mengagumi, “kita menjaga cahaya harapan yang dinyalakan oleh Tuhan dalam diri kita tetap hidup, agar dapat menjadi api besar yang menerangi dan menghangatkan semua orang di sekitar kita, juga melalui tindakan dan sikap nyata yang diilhami oleh doa itu sendiri.”
Ia menekankan bahwa evangelisasi selalu merupakan proses komunal, sebagaimana harapan Kristiani itu sendiri. “Proses itu tidak berakhir dengan pewartaan awal Injil dan Baptisan,” jelasnya, “tetapi berlanjut dengan membangun komunitas Kristiani melalui pendampingan setiap orang yang telah dibaptis dalam perjalanan Injil.”
Doa dan Tindakan
Paus menekankan bahwa karya misionaris membutuhkan doa dan tindakan sebagai sebuah komunitas.
Oleh karena itu, beliau mengajak, “Saya mendorong kalian semua, anak-anak, kaum muda, orang dewasa, dan lansia, untuk berpartisipasi aktif dalam misi evangelisasi bersama Gereja melalui kesaksian hidup dan doa, melalui pengorbanan, serta melalui kemurahan hati kalian.”
Akhirnya, Paus Fransiskus menutup dengan mengajak seluruh umat beriman untuk berpaling kepada Maria, Bunda Kristus dan harapan kita, serta mengingatkan kita untuk mempercayakan kepada-Nya Tahun Yubileum ini, beserta semua tahun yang akan datang.
Diterjemahkan dari https://www.vaticannews.va/
