Manado – “Misteri selalu melampaui kemampuan pikiran manusia, hanya bisa didekati secara terbatas, dan merupakan realitas iman yang dialami dan dihidupi, serta diberi makna bagi kehidupan,”
Hal ini diungkapkan Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong), pada Misa Kedua, Hari Raya Tritunggal Mahakudus, bertempat di Gedung Gereja St Mikael, Minggu, (15/06/2025).
Pastor Yong mengungkapkan, pada hari Kamis 12 Juni 2025 terjadi musibah di India. Sebuah pesawat Air India dari Ahmedabad menuju London jatuh kurang dari 1 menit setelah tinggal landas. Sebanyak 241 orang tewas, dan hanya 1 orang selamat. Pertanyaan, mengapa pesawat jatuh? Mengapa Tuhan mengizinkan hanya 1 orang selamat? Pertanyaan pertama yaitu suatu rahasia yang akan dijawab setelah penyelidikan ahli dilakukan. Pertanyaan kedua adalah suatu misteri yang tidak akan terjawab, karena pikiran manusia yang terbatas tidak dapat sepenuhnya mengetahui isi hati Tuhan. Tapi yang pasti, Allah tidak pernah menghendaki hal yang jahat bagi manusia; Allah tidak ikut campur tangan dalam peristiwa yang buruk. Dari perspektif iman kita, ada beda antara rahasia dan masalah dengan misteri. Suatu rahasia ataupun masalah dapat dipecahkan oleh pikiran dan usaha manusia.
“Tapi tidak demikian dengan misteri. Misteri selalu melampaui kemampuan pikiran manusia, hanya bisa didekati secara terbatas, dan merupakan realitas iman yang dialami dan dihidupi, dan diberi makna bagi kehidupan,” bebernya.
Pastor Yong mengungkapkan, dengan penuh syukur Gereja hari ini merayakan salah satu pokok imannya yang terbesar, misteri Tritunggal Mahakudus. Iman ini hanya dirumuskan oleh Gereja purba, tetapi sesungguhnya sudah diwahyukan dalam Kitab Suci sejak masa Perjanjian Lama dan menjadi lebih jelas dalam Perjanjian Baru. Mengapa baru dirumuskan dan ditetapkan tahun 325 dalam Konsili Nicea dan disempurnakan dalam Konsili Konstantinopel tahun 381? Itulah hasil bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada kebenaran Trinitas itu.
“Kebenaran itu adalah Satu Allah yang sama menyatakan diri dalam 3 pribadi, yaitu tiga cara Allah berhubungan dengan dunia, dengan manusia, dengan ciptaan-ciptaan-Nya,” tutur Pastor Yong.
Dijelaskan Pastor Yong, Allah Bapa adalah Allah yang menciptakan. Allah Putera adalah Firman dari Allah yang menciptakan, Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita, Ia menyatakan kehendak Bapa, Ia memberikan teladan hidup agar bersatu dengan Bapa, dan kembali kepada Bapa. Yesus mengatakan berulang kali: Aku dan Bapa adalah Satu, bahwa “Aku diutus Bapa”. Dalam Yoh 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.”
“Allah Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, pikiran, kehendak dan kekuatan Allah, ada bersama dengan Allah Bapa sebelum dunia dijadikan. Ia diutus oleh Bapa atas permintaan Yesus, Allah Putra, dicurahkan ke dalam hati orang beriman, menjadi kekuatan dan daya pendorong bagi orang beriman untuk hidup dalam kebenaran dan mengikuti teladan hidup Yesus. Injil hari ini Yesus mengatakan: “Segala yang Bapa punya adalah kepunyaan-Ku… Roh Kudus akan memberitakan kepadamu apa yang Dia terima dari pada-Ku”. Dan dalam Credo (Pengakuan Iman) dikatakan: “Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang bersama Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan,” urainya.
Lanjut Pastor Yong, jadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah SATU ALLAH yang sama, satu keesaan, satu kesatuan dalam kasih. Karena itu Rasul Yohanes mengatakan: Allah adalah KASIH. Allah yang satu itu berbeda dalam hubungan dengan manusia dan dunia; dalam Pernyataan Iman disebut Satu Allah tiga pribadi.
“Kita bersyukur bahwa Gereja kita memberikan kepada kita suatu praktik iman yang paling jelas menyatakan iman kita akan Tritunggal. Setiap kali kita membuat Tanda Salib, kita menyatakan kebenaran iman kita: Bapa penuh kasih; Putra penebus dan pembela kita; Roh pembaru, penggerak dan pembimbing kehidupan kita,” tegasnya.
Pastor Yong menyatakan, dan kebenaran iman trinitaris itu kita hidupi melalui kesatuan. Kehidupan trinitaris yang paling jelas terjadi dalam keluarga. Hubungan suami dan isteri menyatakan hubungan Kristus dan Gereja, sedangkan hubungan tritunggal nyata dalam kesatuan suami-isteri-anak dalam Kasih. Semangat trinitaris kita hidupi dalam semua bentuk kesatuan, terutama kesatuan Gereja.
“Janganlah malu membuat Tanda Salib, setiap hari nyatakan imanmu dengan mengucapkan doa dan membuat Tanda Salib. Berkatilah anakmu, keluargamu, orang lain dengan Tanda Salib. Ingat, jiwa dari Tanda Salib adalah Kasih yang mempersatukan,” pesannya.
Berikut ini, jadwal dan Selebran Misa pertama, jam 07.00 Wita, Paroki St Mikael, Pastor Paroki St Mikael Perkamil Manado, RD Aloisius Wenseslaus Maweikere (Wens) dan Misa ketiga, jam 18.00 Wita, Pastor RD Theodorus Michael Palit (Theo).
Petugas liturgi pada Misa Kedua Hari Raya Tritunggal Mahakudus dari Wilayah Rohani St Bonaventura.(man repi)
