Profil Gereja Katolik Keuskupan Manado

0
2087
Pastor Johanes de Vries, SJ

Status Wilayah Gerejawi

Gereja Katolik hadir pada tahun 1563 ketika Pastor Magelhaes membaptis Raja Manado, Raja Siau dan 1500 umat. Misi Katolik terhenti karena pertikaian dengan VOC, sehingga hampir kira-kira 2 abad tidak ada pelayanan bagi umat. Misi berakhir pada tanggal 9 Nopember 1677. Gereja Katolik berkembang lagi dengan datangnya Pastor Johanes de Vries, SJ tahun 1868. Ia mempermandikan 254 orang di pelbagai tempat di Minahasa, khususnya permandian pertama di Kema pada tanggal 14 September 1868 untuk 24 orang. Pelayanan misi dilanjutkan tahun 1873 oleh Pastor G. Metz, SJ dan Pastor J van Meurs, SJ. Tahun 1883/1884 Pastor Le Cocg, SJ mempermandikan 1318 orang. Pada tahun 1907 umat Katolik telah berkembang sekitar 8000 jiwa.

Prefektur apostolik Celebes terbentuk pada tanggal 19 November 1919 dari Vikariat Apostolik Batavia. Wilayah Prefektur Apostolik Celebes mencakup seluruh Sulawesi dan dipercayakan kepada para imam dari Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Bulan Desember 1919, Gerard Vesters, MSC diangkat sebagai Prefek Celebes. Jabatan ini dipegang beliau hingga pada saat beliau diangkat sebagai Uskup Titular Diocletianopolis di Palestina pada tanggal 16 Februari 1923. Karena Mgr. Vesters, MSC harus berangkat menuju ke tempat penugasan yang baru pada tanggal 5 Mei 1923 maka Pastor A. Brocker, MSC menjadi Proprefek sampai Sri Paus mengangkat Prefek Apostolik yang baru yakni Joannes Walter Panis, MSC. Status Prefektur Apostolik Celebes kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Celebes pada tanggal 10 Februari 1934. Karena itu pada tanggal 24 Juni 1934 Mgr. W. Panis, MSC ditahbiskan menjadi Uskup. Pada tanggal 27 April 1937, Vikariat Apostolik Celebes (Sulawesi) dibagi menjadi dua, yakni: Vikariat Apostolik Manado dan Vikariat Apostolik Makassar. Vikariat Apostolik Manado dipimpin oleh Mgr. W. Panis, MSC dibantu oleh para imam dari Tarekat MSC dan Prefektur Apostolik Makassar dipimpin oleh Mgr. G. Martens sebagai Prefek Apostolik Makassar yang pertama dibantu oleh para Imam CICM.

Pada tanggal 3 Januari 1961 Tahta Suci mengangkat semua Prefektur Apostolik dan Vikariat Apostolik di Indonesia menjadi diosis (keuskupan). Mgr. N. Verhoeven, MSC menerima kabar dari duta Vatikan di Jakarta pada tanggal 2 Februari 1961 bahwa beliau diangkat menjadi Uskup Manado. Mgr. N. Verhoeven, MSC kemudian mengangkat Pastor Dr. Th. Moors, MSC menjadi Vikaris Jendral Keuskupan Manado. Pada tanggal 20 Mei 1967 Pastor Moors MSC diangkat menjadi Uskup Pembantu. Pada bulan September 1969 Mgr. Verhoeven, MSC pulang ke Nederland setelah dikabulkan permohonannya untuk berhenti sebagai Uskup Manado karena lanjut usia. Sebelum pulang ke Nederland, Mgr. Verhoeven, MSC menyerahkan kepemimpinan keuskupan Manado pada Mgr. Dr. Theodorus Moors, MSC pada tanggal 26 Juli 1969. Pastor J. B. Talibonso, MSC diangkat sebagai Vikaris Jendral Keuskupan Manado. Karena usia lanjut dan kondisi kesehatan yang makin menurun, Mgr. Dr. Th. Moors, MSC mengajukan diri untuk berhenti bertugas sebagai Uskup Manado. Maka sesuai ketetapan Sri Paus Johanes Paulus II tanggal 17 Maret 1990, Pastor Josef Suwatan, MSC yang sebelumnya menjabat sebagai Pemimpin Provinsi MSC Indonesia di Jakarta, diangkat sebagai Uskup Manado. Pada tanggal 29 Juni 1990, Pastor Josef Suwatan, MSC menerima tahbisan sebagai Uskup Manado dan memimpin Keuskupan Manado hingga Juli 2017. Pada tanggal 8 Juli 2017, Pastor Benedictus Rolly Untu, MSC ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Manado yang baru.

Uskup Keuskupan Manado tinggal di Keuskupan Manado, Jl. Sam Ratulangi 66, Manado; Tlp. 0431-852571, P.O. Box 73, Manado 95002. Dalam pelayan pastoralnya, Uskup manado dibantu oleh Dewan Konsultor, dewan imam, dewan pastoral Keuskupan dan Pusat Pengembangan Karya Pastoral Keuskupan Manado (PUSPAKUSUMA). Puspakusuma adalah wadah yang membantu Uskup dalam pengembangan karya pastoral, dan berfungsi sebagai koordinator komisi-komisi pelayanan pastoral keuskupan. terdapat  13 komisi: komisi pengembangan sosial ekonomi (pse), komisi kateketik (komkat), komisi kitab suci, komisi keluarga dan gender, komisi komunikasi sosial (komsos),  komisi migran – perantau & kerasulan laut, karya kepausan indonesia (kki), komisi liturgi (komlit), komisi kepemudaan (komkep), komisi kerasulan awam (kerawam), komisi hubungan antar agama dan kepercayaan (hak), komisi seminari, komisi pendidikan.

Keuskupan Manado dibagi dalam 9 kevikepan, 61 paroki dan 3 kuasi-paroki.  Kevikepan manado ada 10 paroki, kevikepan Tonsea ada 8 paroki, kevikepan Nusa Utara ada 4 paroki, kevikepan tombulu ada 8 paroki, kevikepan Tomohon ada 7 paroki, kevikepan Tondano ada 6 paroki, kevikepan Stella Maris ada 8 paroki, kevikepan Luwuk-Banggai ada 5 paroki, kevikepan Palu ada 7 paroki dan 3 kuasi paroki. Imam-imam yangberkarya di Keuskupan ini terdiri dari Imam Diosesan (Keuskupan Manado, Keuskupan Ambon), MSC, OCD dan OFM Conv.

Gereja Katedral Tahun 1930

 

Kondisi Umat Gereja Katolik Keuskupan Manado

Wilayah Gereja Katolik Keuskupan Manado mencakup Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Tengah.

1. Provinsi Sulawesi Utara

Provinsi Sulawesi Utara dengan ibu kota Manado terletak antara 0015-5034’  Lintang Utara dan antara 123007– 127010Bujur Timur, yang berbatasan dengan Laut Sulawesi, Republik Filipina dan Laut Pasifik disebelah utara serta Laut Maluku di sebelah timur. Batas sebelah selatan dan barat masing-masing adalah Teluk Tomini dan Provinsi Gorontalo. Luas wilayah Sulawesi Utara adalah 15.069,10 Km2 yang meliputi sebelas kabupaten dan empat kota.  Agama yang dianut oleh masyarakat Provinsi Sulawesi Utara adalah agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Pusat Keuskupan Manado berkedudukan di Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Dengan demikian, dari ibukota provinsi inilah seluruh rencana dan strategi reksa pelayanan pastoral dirumuskan. Selain menjadi tempat kedudukan Uskup, Gembala Utama Gereja Katolik Keuskupan Manado, Kota Manado menjadi tempat kedudukan dari seluruh kuria dan komisi-komisi keuskupan. Demikian juga halnya dengan beberapa lembaga hidup bakti yang berkarya di bidang pendidikan dan kesehatan. Selain Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu dan Kabupaten Minahasa Induk,  juga merupakan situs-situs tempat lembaga hidup bakti, yayasan-yayasan serta lembaga pembinaan imam berkedudukan. Kelompok-kelompok kategorial dan organisasi kemasyarakatan katolik di Provinsi ini sangat aktif dan dinamis.

Wilayah gerejawi Keuskupan Manado di Provinsi Sulawesi Utara dibagi atas 7 wilayah kevikepan yang terdiri dari: Kevikepan Manado, Kevikepan Tonsea, Kevikepan Nusa Utara, Kevikepan Tombulu, Kevikepan Tomohon, Kevikepan Tondano dan Kevikepan Stella Maris (Kevikepan ini juga mencakup Paroki St. Kristoforus yang berkedudukan di Provinsi Gorontalo).

2. Provinsi Gorontalo

Provinsi Gorontalo terletak antara 0o19′-1o15′ Lintang Utara dan 121o23′-123o43′ Bujur Timur. Wilayah provinsi ini berbatasan langsung dengan dua provinsi lain, diantaranya Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah Barat dan Provinsi Sulawesi Utara di sebelah Timur, sedangkan di Sebelah Utara berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi dan sebelah Selatan dibatasi oleh Teluk Tomini. Luas Provinsi Gorontalo secara keseluruhan adalah 12.215,44 km2. Wilayah Gorontalo yang dikenal dengan Kabupaten Gorontalo dahulunya merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara. Pemberlakuan UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah telah memungkinkan pemekaran wilayah Gorontalo menjadi sebuah provinsi. Provinsi Gorontalo kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember 2000.

Agama yang dianut oleh penduduk Provinsi Gorontalo adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Mayoritas penduduk Provinsi Gorontalo beragama Islam. Terdapat 1 paroki di Provinsi Gorontalo. Paroki St. Kristoforus Gorontalo  termasuk dalam wilayah kevikepan Stella Maris. Kevikepan Stella Maris ini terdiri atas paroki-paroki yang ada di wilayah bagian selatan Provinsi Sulawesi Utara (seperti Amurang, Tompaso Baru, Bolaang Mongondow, Kotamobagu). Dengan demikian, di wilayah Provinsi belum terdapat 1 kevikepan tersendiri. Paroki St. Kristoforus Gorontalo memiliki daerah pelayanan yang sangat luas karena umat terdistribusi pada delapan stasi dengan jarak yang sangat jauh. Untuk mencapai stasi-stasi tersebut umumnya dibutuhkan sekitar 5 hingga 6 jam perjalanan (bahkan lebih) dengan menggunakan kendaraan. Meskipun memiliki rasio imam:umat yang cukup ideal (1:615), namun karakteristik medan pelayanan yang luas dan umat yang menyebar menjadi salah satu kendala serius reksa pastoral di Provinsi Gorontalo. Hal ini tentu saja berdampak langsung pada kurang maksimalnya pelayanan umat yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas pembinaan umat seperti rendahnya pemahaman umat tentang liturgi dan tentang iman katolik. Terbatasnya tenaga pastoral seperti guru dan katekis yang menopang karya para imam membuat reksa pastoral di provinsi ini perlu diberi perhatian serius. Namun hal tersebut tak menyurutkan dinamika umat yang tetap aktif, yang tercermin dari eksistensi kelompok-kelompok kategorial hingga ke tingkat stasi. Kelompok-kelompok kategorial yang ada, antara lain: Sekami, PPA, Mudika, KMK, KBK dan Legio Mariae. Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan katolik juga telah berkiprah di provinsi ini.

3. Provinsi Sulawesi Tengah

Kota Palu merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata + 84 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi 2o22′ Lintang Utara dan 3o48′ Lintang Selatan, serta 119o22′ dan 124o22′ bujur Timur. Luas wilayah Sulawesi Tengah, adalah berupa daratan seluas 68.033,00 km2. Luas wilayah ini dapat dikatakan empat kali lebih besar dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Tengah telah berkembang menjadi 10 wilayah kabupaten dan 1 kota. Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah bagian utara dibatasi oleh Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat dibatasi oleh Selat Makasar.

Agama yang dianut oleh penduduk Provinsi Sulawesi Tengah adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Wilayah gerejawi di provinsi ini dibagi atas dua kevikepan yakni Kevikepan Luwuk Banggai dan Kevikepan Palu. Kevikepan Luwuk Banggai mencakup seluruh paroki yang ada di wilayah Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Luwuk. Terdapat lima paroki di kevikepan ini yang dilayani oleh imam-imam dari tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Kevikepan Palu mencakup seluruh paroki yang ada di wilayah Palu, Palu Selatan, Toli-Toli, Tolai dan Poso. Terdapat 5 paroki (dan 2 paroki persiapan). Terdapat beberapa lembaga hidup bakti yang berkarya di provinsi ini antara lain Komunitas PBHK, SMSJ dan Suster-Suster St. Fransiskus (OSF). Organisasi-organisasi kategorial dan organisasi kemasyarakatan Katolik ada juga di Provinsi ini. Di daerah ini umat tersebar di daerah-daerah yang berjauhan sehingga wilayah-wilayah komunitas basis teritorialnya sangat luas. Pelayanan rohani dari tenaga tertahbis sangat kurang, akibatnya peran tenaga pastoral awam sangat besar.

Komsos Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini