Renungan Jumat, 12 Januari : “Bukan Iman Instan”

0
472

Jumat, 12 Januari 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa I

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7.10-22a: Kalian akan berteriak karena rajamu,tetapi Tuhan tidak akan menjawab kalian.

Pembacaan dari Kitab Pertama Samuel:

Sekali peristiwa berkumpullah semua tua-tua Israel. Mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya, “Engkau sudah tua, dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau. Maka angkatlah sekarang seorang raja untuk memerintah kami, seperti halnya dengan segala bangsa lain. “Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” Samuel menjadi kesal hati. Maka berdoalah Samuel kepada Tuhan. Tuhan bersabda kepada Samuel, “Dengarkanlah perkataan bangsa itu! Segala hal yang mereka katakan kepadamu, turutilah! Sebab bukan engkau yang mereka tolak! tetapi Akulah yang mereka tolak! Maksud mereka: jangan Aku menjadi raja atas mereka.”

Samuel menyampaikan segala sabda Tuhan kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, Kata Samuel, “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu: Anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kuda, dan mereka akan berlari di depan keretanya. Ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh.

Mereka harus membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; mereka harus membuat senjata-senjata dan perkakas keretanya. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, dari kebun anggur dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik untuk diberikannya kepada pegawai-pegawainya; dari gandum dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh untuk diberikannya kepada pegawai-pegawai istana dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya.Pada waktu itu kamu akan berteriak karena raja yang kamu inginkan itu, tetapi Tuhan tidak akan menjawab kamu.”

Tetapi bangsa itu tidak mau mendengarkan perkataan Samuel. Mereka bersikeras, “Tidak, kami harus punya raja. Biar kami pun sama seperti segala bangsa lain! Raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang!” Samuel mendengarkan segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada Tuhan. Tuhan bersabda kepada Samuel, “Turutilah permintaan mereka,dan angkatlah seorang raja bagi mereka!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: Mzm 89:16-17.18-19; Kasih setia-Mu, ya Tuhan, hendak kunyanyikan selama-lamanya.

  • Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah.

 

  • Sebab Engkaulah semarak kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami ditinggikan. Sebab milik Tuhanlah perisai kita milik Yang Kudus Israellah raja kita.

 

Bait Pengantar Injil: Luk 7:16; Seorang nabi agung telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah mengunjungi umat-Nya.

Bacaan Injil: Mrk 2:1-12; Di dunia ini Anak Manusia memiliki kuasa mengampuni dosa.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Selang beberapa hari sesudah Yesus datang ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Yesus memberitakan sabda kepada mereka, beberapa orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya ke hdapan Yesus karena orang banyak itu. Maka mereka membuka atap yang di atas Yesus. Sesudah atap itu terbuka, mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Melihat iman mereka, berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Tetapi di situ duduk juga beberapa ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hati, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah! Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus langsung tahu dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian; maka Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah: mengatakan kepada orang lumpuh itu ‘Dosamu sudah diampuni’, atau mengatakan ‘Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?’? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa,” – lalu berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu -: “Kepadamu Kukatakan: bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu. Mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang seperti ini belum pernah kita lihat!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan: “Bukan Iman Instan”

Banyak orang berpendapat bahwa dewasa ini adalah zaman instan. Kalau mau makan sekarang tidak perlu susah-susah, ada makanan cepat saji, mie instan, bahkan bubur instan. Kalau mau minum silakan saja, ada minuman instan entah air mineral dalam kemasan yang praktis, bahkan minuman kopi atau teh yang three in one, praktis dan instan. Kalau mau belanja juga tidak perlu repot bawa uang tunai berlebihan, ada mesin ATM, bahkan di beberapa tempat belanja sudah disiapkan alat gesek kartu debit ataupun kredit. Intinya praktis dan instan, tidak banyak birokrasi dan membuang banyak waktu. Perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan konsumtif banyak orang disinyalir sebagai pemicu meningkatnya budaya instan yang saat ini makin variatif jenisnya. Tentu saja perkembangan ini ada pengaruh positif maupun negatifnya. Positifnya adalah bahwa pelbagai kemudahan dijumpai dalam bertransaksi dan dalam pemenuhan kebutuhan harian. Tetapi negatifnya yaitu orang kehilangan daya dorong untuk berjuang, bekerja keras dan membangun kesabaran dalam diri.

Peradaban instan ini ternyata merambah semakin jauh tidak hanya dalam hal material tetapi juga dalam soal spiritual. Orang jadi kurang sabar dalam menjalani hidup. Banyak situasi entah dalam hidup berkeluarga, dalam relasi suami istri, orang tua dan anak, maupun dalam relasi masyarakat dan pemerintah, pimpinan dan karyawan, tak jarang dijumpai ada bentrokan kepentingan, saling tuduh dan tidak saling mengalah. Akibatnya orang kehilangan rasa hormat antara satu dan lainnya. Di samping itu ada juga yang cepat putus asa, mundur dan menyerah. Pasrah pada keadaan. Tak jarang dalam situasi ini Tuhan pun dipersalahkan.

Injil hari ini menampilkan seseorang yang disembuhkan Yesus setelah melalui suatu usaha yang berat untuk berjumpa dengan Yesus. Karena kelumpuhan yang dialaminya maka dia harus digotong oleh teman-temannya. Meski sudah mendapat bantuan dari keempat temannya, dia pun tidak otomatis dapat tiba di hadapan Yesus. Ada banyak orang lain yang menghalangi jalan mereka. Namun halangan itu tidak menjadi alasan untuk mundur atau berhenti. Mereka bersama-sama memanjat ke atap rumah, membuka atap itu dan dengan hati-hati menurunkan temannya yang lumpuh tadi tepat di hadapan Yesus. Melihat iman mereka maka Yesus berkata: “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni”. Luar biasa pujian Tuhan atas upaya iman ini. Yesus meyakinkan mereka dan sekaligus menunjukkan kepada orang-orang yang hadir pada waktu itu, bahkan pada kita semua saat ini, bahwa inilah arti iman yang sesungguhnya. Beriman bukan berpasrah kepada Tuhan. Beriman adalah suatu perjuangan mencapai Tuhan. Dalam perjuangan itu terdapat kesabaran, motivasi yang kuat, keyakinan, pemberian diri, bahkan keberanian untuk menerobos halangan. Dengan upaya iman ini Yesus tidak hanya menyembuhkan si lumpuh tetapi juga menerima dia sebagai “anak”nya dan mengampuni dosanya.

Meski kita hidup di zaman instan tetapi hendaknya cara beriman kita janganlah instan juga. Mau bahagia tetapi tidak mau berkorban; mau menerima tetapi tidak suka memberi dan berbagi; mau selamat dan masuk surga nantinya tetapi sekarang tidak mau berdoa, malas ke gereja, tidak rindu  menerima sakramen-sakramen Gereja bahkan kurang setia hidup secara benar sebagai orang beriman. Yesus tahu segala kebutuhan kita. Ia sangat memahami apa yang menjadi kerinduan hati kita. Namun Yesus juga menghendaki agar kita tidak hanya berseru: “Tuhan…Tuhan…” melainkan berusaha, berjuang mencapai persatuan sempurna kita dengan Dia. Hari ini Dia pun sementara menanti kita untuk menjumpai Dia. Sudahkah kita berusaha mencari Dia di awal hari ini??

Penulis renungan
Pst.Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini