Renungan Selasa, 5 Desember : Melihat, Bersyukur dan Berbahagia

0
1798

05 Desember 2017

Selasa Pekan Adven I

(Yes 11:1-10; Mzm 72:2.7-8.12-13.17; Luk 10:21-24)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Roh Tuhan akan ada padanya.

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Pada akhir zaman sebuah tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh penasihat dan keperkasaan, roh pengenal dan takut akan Tuhan; ya, kesenangannya ialah takut akan Tuhan.

Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan dengan kejujuran akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri. Ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang yang tetap terikat pada pinggangnya.

Pada waktu itu serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan merumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anak-anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Bayi akan bermain-main dekat liang ular tedung, dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus. Sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi para bangsa. Dia akan dicari oleh suku-suku bangsa, dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur: Mzm 72:2.7-8.12-13.17; Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya, dan damai sejahtera berlimpah sampai selama-lamanya.

  • Ya Allah, kiranya raja mengadili umat-Mu dengan keadilan dan menghakimi orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
  • Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut sampai ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!
  • Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, ia akan membebaskan orang tertindas dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang papa.
  • Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia.

 

Bacaan Injil: Luk 10:21-24 ; Yesus bergembira dalam Roh Kudus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang oleh Anak diberi anugerah mengenal Bapa.”

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Sebab Aku berkata kepada kamu, banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, namun tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

 

Renungan: Melihat, Bersyukur dan Berbahagia

Judul dari perikop Injil Luk.10:21-24 adalah “Ucapan Syukur dan Bahagia”. Saya sendiri tidak tahu entahkah Lukas yang menulis judul ini atau ditambahkan kemudian. Akan tetapi di mana-mana saat ini kita mendengar begitu banyak orang mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah: mengucap syukur! Jadi tepatlah apa yang sudah tertulis 2000 tahun yang lalu dengan realitas saat ini: orang yang bahagia adalah orang yang selalu mengucap syukur. Bila kita tahu bersyukur maka kita adalah orang yang berbahagia. Dalam renungan kita kali ini, saya ingin mengajak kita untuk mempertajam daya syukur kita, yakni dengan mempertajam kemampuan kita untuk melihat.

Rupanya ada banyak orang yang sulit bersyukur karena tidak mampu melihat kekayaan realitas yang dilihatnya atau karena kekayaan itu tetap tersembunyi. Contoh sederhana: realitas 5 roti dan 2 ikan. Para Rasul tidak mampu melihat jumlah ini sebagai jumlah yang memadai untuk memberi makan 5000 orang. Jadi 5 roti dan 2 ikan tidaklah cukup di mata mereka. Di mata Yesus ternyata lain. 5 roti dan 2 ikan sudah lebih dari cukup.

Contoh lain: botol plastik yang dibuang adalah sampah. Tapi bagi seorang pemulung, sampah itu adalah emas. Ada kisah nyata seorang pemulung di Kupang, NTT, yang mampu mendirikan sekolah dan membayar gaji guru dengan memulung sampah-sampah di mall. Dia bahkan mampu menyekolahkan 3 anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia, Pak Ci atau Ciputra, menulis sebuah buku judulnya: Mengubah Sampah Menjadi Emas. Di sini beliau memberi kesaksian bahwa seorang entrepreneur adalah seorang yang  mampu melihat emas di balik sampah dan memgubah sampah itu menjadi emas!

Contoh lainnya yakni: St. Yohanes Baptist De La Salle yang mendirikan tarekat Bruder-bruder De La Salle 350 tahun yang lalu. Ia melihat banyak sekali anak jalanan di kota Rheims, Perancis. Tapi dia melihat dalam diri anak-anak ini, masa depan Perancis. Mereka adalah calon-calon pemimpin. Maka De La Salle mendidik mereka seperti mendidik para calon pemimpin dan penentu masa depan Perancis dan Gereja.

Jadi kemampuan mata dalam melihat sesuatu jauh melebihi realitas yang ditangkap oleh mata biasa, sangatlah penting. Itulah yang kita sebut melihat dengan mata iman. Mata iman akan membantu kita untuk melihat jauh melampaui realitas yang kelihatan dan menemukan berkat Tuhan yang luar bisa melimpah di dalamnya. Dengan demikian kita akan selalu punya alasan untuk bersyukur dan saat kita mampu bersyukur, kita akan berbahagia. Yesus berkata kepada murid-muridNya: “berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat” (Luk. 10:23). Para Rasul dikatakan oleh Yesus: berbahagia, karena mata mereka dapat melihat Yesus sebagai Mesias. Bukan sebagai manusia biasa.  Apa yang mereka dapatkan dengan melihat Yesus sebagai Mesias, Penyelamat umat Manusia, membuat mereka tak pernah berhenti bersyukur dan bahagia. Walaupun dalam kenyataannya mereka harus ikut memikul salib Yesus, bahkan kemudian wafat seperti Yesus.

Saudaraku, ketika menyambut Tubuh Kristus di waktu komuni, masih dapatkah kita melihat Yesus di balik rupa hosti itu? Apakah kita mampu mengucap syukur atas hosti suci ini? Apakah ada rasa bahagia dalam kita ketika menyambut komuni kudus itu? Bila rasa ini sudah tidak ada, atau hanya ada rasa biasa-biasa saja, itu berarti kita masih belum mampu melihat kehadiran Yesus yang nyata dan belum mampu mengucap syukur secara tepat. Namun jangan kita putus asa pada rutinitas. Masa Adven ini adalah kesempatan untuk membersihkan kaca mata iman kita, mempertajam penglihatan kita, agar semakin dapat melihat realitas Kristus dalam realitas hosti kudus dan dalam pelbagai realitas kehidupan lainnya: melihat Yesus dalam diri sesama, dalam realitas lingkungan hidup dan dalam pelbagai peristiwa kehidupan, baik suka maupun derita. Ingatlah kata-kata Yesus ini: “berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat”.

Selamat berbahagia

penulis renungan
Pst. Revi Tanod, pr

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini di website Radio Montini pada link gambar berikut ini:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini