Sejarah Di Balik Motto Para Uskup Manado

0
3353

Menyongsong perayaan tahbisan Uskup yang baru pada tanggal 8 Juli 2017 di stadion Maesa Tondano, Minahasa, dan menjelang perayaan 150 tahun Gereja Katolik lahir kembali di Sulawesi Utara dan Tengah pada tahun 2018, serta pada usia 56 tahun menyandang status Keuskupan Diosesan, saya mencoba membuat suatu rekonstruksi sejarah Keuskupan Manado untuk mencermati gerak perkembangan hidup menggereja dari balik motto para uskup yang sudah (dan akan) melayani umat Katolik di kawasan Sulawesi dari Miangas di ujung utara Talaud, Sulawesi Utara, sampai di Kolonedale, Morowali, di Sulawesi Tengah. Kisah sejarah ini hanya akan dimulai sejak masa Uskup Nicolaus Verhoeven msc (dari tahun 1947 sampai 1967), yang memimpin Keuskupan Manado saat mendapat status resmi Keuskupan Sufragan pada 1961. Memang sejak tahun 1563 sampai tahun 1677, di masa para pedagang Spanyol dan Portugis serta VOC Belanda, sudah ada umat Katolik di wilayah ini yang dilayani dari Ternate; sesudah itu tidak ada lagi berita tentang umat Katolik dan pelayanannya sampai pada tahun 1868 bapak N. Mandagi di Langowan mengundang pastor Jesuit dari Batavia (Jakarta kini) untuk datang melayani dan mempermandikan para katekumen. Pelayanan para pastor Yesuit perintis ini berlangsung sampai tahun 1919, dan patut dicatat bahwa salah seorang pastor Yesuit yang pernah berkarya di Manado kemudian diangkat menjadi Uskup di Prefektur Apostolik Batavia, yaitu Mgr. van Velsen SJ. Kegiatan misi para pastor Yesuit ini kemudian diserahkan ke tangan para pastor dari Tarekat Hati Kudus Yesus (MSC) pada tahun 1919 dan status daerah misi ini menjadi Vikariat Apostolik sejak tahun 1934 sampai tahun 1961. Di masa Prefektur dan Vikariat Apostolik ini umat Katolik sudah mendapat penggembalaan dari tiga orang uskup, yaitu Mgr. G. Vesters msc (1919-1923), Mgr. W. Panis msc (1923-1947), dan Mgr. Nicolaus Verhoeven msc (1947-1967).

Nil Nisi Christum (1947-1967): motto Mgr. N.Verhoeven msc

“Tak suatu pun kecuali Kristus” menjadi motto penggembalaan Mgr. N.Verhoeven msc, yang mengalami peralihan status gerejawi dari Prefektur Apostolik menjadi Keuskupan. Perubahan status gerejawi ini bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi.  Kondisi hidup, saat bapak Uskup memulai berkarya di sini, ditandai dengan kekalutan dan kemiskinan hidup sesudah dijajah dengan keji oleh tentara pendudukan Jepang di masa Perang Dunia II (1942-1945), seiring dengan euphoria kemerdekaan politis sejak 17 Agustus 1945. Sarana transportasi dan komunikasi masih sangat sulit, perekonomian masyarakat masih bercorak subsistens (atau pas-pasan, dan masih terarah pada tanaman pangan untuk konsumsi sendiri), walaupun sudah mulai dinikmati hasil usaha tanaman industry/dagang yaitu kelapa; justru karena manipulasi kebijakan perdagangan kopra inilah yang menjadi pemicu gejolak perlawanan Permesta di tahun 1957-1961 dan yang sudah memporakperandakan kawasan Minahasa.

Di tengah gejolak ketidakstabilan ekonomi dan politik ini, motto penggembalaan Nil Nisi Christum sudah menyemangati kehidupan rohani umat Katolik di keuskupan ini. Kemampuan organisatoris dan ketrampilan manajemen bapak Uskup sudah menata kegiatan menggereja hingga mengalami stabilitas loci (kestabilan tempat tinggal) dalam wadah paroki (dan stasi). Secara rutin para pastor, yang tinggal di pusat-pusat paroki, berjalan keliling (=tourne) untuk mengunjungi dan melayani sakramen di pelbagai stasi, serta memperhatikan kondisi pendidikan dasar umatnya.  Para guru (yang disapa sebagai meester, engku’, dan juga enci’) yang merupakan alumni dari Kweekschool (Sekolah Guru) Woloan sudah menjadi rasul-rasul awam dan misionaris tangguh yang hidup bersama dan berkatekese di tengah kelompok-kelompok umat yang tersebar di pelbagai desa, malah menyebar sampai di pulau Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku, dan Luwuk-Banggai serta Toraja; setiap kelompok umat di masing-masing desa mengenal sosok guru sekolah dan guru agama (katekis) yang menjadi tulang punggung Gereja setempat, misalnya guru Tinangon di Sonder, guru P. Senduk di Kembes dan Kakaskasen, guru A. Tene di Kembes, guru F. Moningka di Kokoleh, guru Runtu di Banggai, guru Salasa di Flores. Kehadiran Gereja di tengah masyarakat ditandai dengan adanya Sekolah (Rakyat) Dasar Roma Katolik (SDRK), yang dibangun di banyak desa dimana banyak umat Katolik dan gedungnya didirikan lewat swadaya umat setempat, dan semua anak Katolik wajib mengikuti pendidikan di SDRK.

Untuk menghasilkan tenaga-tenaga imam dari daerah sendiri, Mgr. N. Verhoeven membangun kembali seminari menengah, yang sudah berdiri di Woloan pada tahun 1930-an tapi kemudian terhenti karena pendudukan Jepang di tahun 1940-an; kompleks seminari menengah ini dipindahkan ke desa Kakaskasen, yaitu di bukit Kimentur, berdampingan dengan biara zuster karmelit (OCD), sesudah Perang Dunia II. Selanjutnya Mgr. N. Verhoeven merasa perlu untuk memulaikan suatu pendidikan dan pembinaan bagi para calon imam pribumi, yang akan menggantikan tenaga-tenaga misionaris asing; pada tahun 1954 beliau mendirikan Seminari Agung Hati Kudus Pineleng, yang terhitung sebagai pendidikan jenjang Perguruan Tinggi yang pertama di propinsi ini. Seminari Menengah Kakaskasen dan Seminari Agung Pineleng sudah menghasilkan puluhan imam pribumi, baik dari keuskupan Manado sendiri, maupun dari keuskupan Amboina, dari daerah Merauke, Purwokerto, dan juga dari Kalimantan.

Gejolak politik semasa perjuangan kemerdekaan sudah menggerakkan partai politik berbasis agama bermunculan, termasuk Partai Katolik yang mempunyai cabangnya di keuskupan ini; serentak terbentuk juga organisasi Pemuda Katolik (PK) yang membuat pertemuan rutin di Tomohon dan yang mampu mempersatukan kekuatan orang-orang muda Katolik sekeuskupan, antara lain dengan kegiatan Reidans atau Tari Jajar. Baik Partai Katolik maupun Pemuda Katolik sudah menjadi garda pertahanan saat negara Indonesia dirundung duka lewat pemberontakan G-30-S/PKI pada 30 September 1965 yang ingin menghancurkan lembaga agama dan para penganutnya. Di kawasan ini baik umat, Uskup, para pastor, fraer, zuster, maupun gedung-gedung gereja dilindungi oleh barisan Partai Katolik dan Pemuda Katolik.

Sementara itu para Uskup sedunia mengadakan Konsili Umum di Roma pada tahun 1961 sampai 1965, yang juga turut dihadiri oleh Mgr. N. Verhoeven msc dengan pastor Dr. Th.Moors msc. Konsili yang dikenal dengan nama Konsili Vatikan II ini sudah menghasilkan suatu pembaharuan besar-besaran dalam bidang teologi. Pembaharuan teologi dan kegiatan menggereja ini nantinya akan diwujudnyatakan oleh pengganti Uskup Verhoeven msc.

Mgr. N. Verhoeven msc tetap tegar menggembalakan umatnya dengan mottonya: Nil Nisi Christum, dan memang dialami bahwa dalam sejarah kepemimpinannya Kristus Yesus adalah pemenang atas maut dan Dia menjadi Raja semesta alam. Kristus adalah Sang Penyelamat yang memerdekakan umat yang beriman kepadanya. Itulah pengalaman pergumulan hidup umat di masa perjuangan kemerdekaan dan usaha untuk membangun negara dan bangsa yang berdaulat, sejalan dengan pembangunan suatu keuskupan yang tumbuh dan mulai berkembang sebagai suatu Gereja lokal.

Evangelizare Pacem: motto Uskup Dr. Theodorus Moors msc (1967-1990).

“Memaklumkan (mewartakan Kabar Gembira) damai”, menjadi pilihan motto dari Mgr. Dr. Theodorus Moors msc, yang terpilih dan ditahbiskan Uskup pada tahun 1967, menggantikan Mgr. N.Verhoeven msc yang sudah lanjut usia. Masa kepemimpinan Mgr. Dr. Th. Moors msc ditandai dengan periode pembangunan negara Indonesia di bawah regime Jenderal Soeharto, yang menjadi presiden RI ke 2. Program pembangunan bangsa dan negara ini sudah dirancang dan ditargetkan selama kurun waktu 25 tahun dengan penamaan kesohor: REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Pemerintahan sipil ditata secara sentralistik dan didasarkan pada campur tangan tentara, khususnya Angkatan Darat. Sejalan dengan pembangunan negara ini, umat Katolik di keuskupan Manado mulai menata kehidupannya sesudah pelbagai macam pergolakan. Paroki-paroki mulai ditata dengan arah baru menggereja buah hasil Konsili Vatikan II, yaitu dengan menggantikan struktur kepemimpinan paroki dari system sentralisasi Pastor Paroki sebagai kepala dan komandan satu-satunya di paroki, dibantu oleh para Guru Jumat (Jemaah-Umat) dan Kepala Pembangunan (fisik), dengan struktur Dewan Paroki dan pelbagai seksi yang diembani oleh banyak anggota umat dan pastor paroki ex officio menjadi Ketua Dewan Paroki. Wilayah suatu paroki pun semakin jelas diatur, dan di kawasan luar kota setiap paroki mempunyai stasi-stasi di desa-desa sekitar dengan kelompok umat yang relative kecil; masing-masing stasi mempunyai dewannya sendiri, minimal seorang Kepala Stasi, yang umumnya sudah bukan lagi seorang guru (agama).

Pada awal masa bertugasnya, Mgr. Th. Moors memindahkan rumah kediaman Uskup dari Tomohon (depan Gereja ‘besi’ dan di samping SMP Gonzaga) ke Manado, yaitu di depan Gereja Katedral, mengingat bahwa Manado menjadi ibukota propinsi Sulawesi Utara. Dan di masa ini masing-masing paroki mulai bersaing membangun gedung gerejanya dengan pola kerja sama mapalus, baik antara umat separoki itu maupun antara umat di paroki-paroki keuskupan; muncullah gerakan amal mengumpulkan dana lewat kegiatan lomba seni koor, tari jajar, tarian Selendang Biru, yang dikenal dengan nama ‘Aksi Amal’ (awalnya lebih umum ‘pasar malam’). Semakin situasi hidup menjadi aman, peranan Partai Katolik dan Pemuda Katolik yang berorientasi politik semakin memudar, ditambah lagi dengan tindakan penyeragaman partai-partai politik di Indonesia; justru sebagai gantinya muncullah peranan para ibu yang bergabung dalam organisasi massa Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang menjadi tonggak penopang kehidupan dan kegiatan umat di paroki-paroki, dan yang menjadi pembawa kabar damai.

Saat situasi dan kondisi sudah aman, terkendali dan kondusif sesudah perang Permesta, umat paroki Manado Selatan mulai berziarah ke gereja Siti kita pada Hati Kudus di Woloan, tempat pertama karya para misionaris Hati Kudus (MSC), dengan berjalan kaki pada malam hari. Begitu tradisi ziarah ke pelbagai gua Maria di bulan Mei dan Oktober berkembang sampai sekarang ini. Serentak di paroki-paroki terbentuklah kelompok-kelompok umat sebagai komunitas basis dengan nama ‘Wilayah Rohani’, yang mempunyai kegiatan rutin melakukan ibadah sabda (=’kumpulan’) dari rumah ke rumah setelah mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu.

Bidang pendidikan mendapat perhatian khusus di masa ini, dengan munculnya banyak sekolah Taman Kanak-kanak, yang sebagian besar diasuh oleh WKRI berbasis paroki dan dinaungi oleh Yayasan Indriasana. Demikian juga bertambah jumlah Sekolah Dasar (SD) di bawah asuhan Yayasan Pendidikan Katolik (YPK), dan muncul juga banyak persekolahan jenjang SMP di paroki-paroki untuk menampung siswa Katolik seusai tamat SD. Berdampingan dengan persekolahan YPK yang dikelola oleh keuskupan, terdapat pula persekolahan dari jenjang TK-SD-SMP sampai SMA yang dikelola oleh para zuster Tarekat Yesus Maria Yosep (YMY) dan para frater Tarekat CMM di kota Manado dan Tomohon; persekolahan yang diasuh oleh dua tarekat ini menghasilkan nama baik pendidikan Katolik di tengah masyarakat Sulawesi Utara. Sedangkan Seminari Menengah di Kakaskasen mengubah kebijakannya dengan tidak lagi menerima calon tamatan SD dan hanya menyelenggarakan Pendidikan tingkat SMA ditambah setahun Retorika; Seminari Agung Pineleng juga berkembang dan membedakan antara pola pembinaan calon imam di seminari serta pendidikan filsafat dan teologi untuk jenjang Sarjana S-1 dan pascasarjana, dan satu program studi dimulai, yaitu untuk mendidik para calon katekis/guru agama dari kalangan awam.

Setelah kegiatan menggereja di paroki-paroki seputar Manado dan Tomohon sudah berjalan mulus dan tertata, perhatian Bapak Uskup beralih ke daerah-daerah diaspora, khususnya di Minahasa Selatan sampai di Luwuk-Banggai, Beteleme, Poso, Palu dan Toli-toli, bahkan Sangir-Talaud. Di daerah diaspora ini pun umat merindukan damai, dan Bapak Uskup senantiasa siap melayani mewartakan damai kepada mereka; kisah pelayanannya yang kenal lelah, penuh dispilin administrative, dengan pendekatan ke-bapak-an di daerah diaspora ini, dituangkannya dalam bentuk selebaran lepas dan dibagikan kepada yang hadir dalam konperensi pastores.

Credidimus Caritati: motto Mgr. Yosep Suwatan msc (1990-2017)

“Kami percaya akan cinta kasih” menjadi penyemangat dasar reksa pastoral Mgr. Yosep Suwatan msc. Tourne pastoral ke daerah diaspora pada masa awal karyanya senantiasa tertuang dalam selebaran ‘Mampir Sebentar’. Memang selama 27 tahun menjadi Uskup Manado sudah puluhan kali beliau mengunjungi paroki-paroki dan stasi yang tersebar di tiga propinsi, yaitu Sulawesi Utara (dengan jumlah penduduk sekitar 2.265.000 jiwa, di antaranya terdapat 109.500-an orang Katolik), Gorontalo (yang dihuni oleh sekitar 1.040.000 jiwa, dan umat Katolik hanya 0,12 % yang tergabung dalam satu paroki saja), dan Sulawesi Tengah (dengan penduduk sekitar 2.633.000 jiwa, dan sekitar 27.500 anggota umat Katolik. Selama masa 27 tahun ini sudah banyak paroki yang dimekarkan, sehingga pada tahun 2017 ini sudah ada 53 buah paroki dengan jumlah umat Katolik sekitar 130.000 jiwa (70% berdarah Minahasa). Secara administrative gerejawi sudah dibentuklah 9 wilayah kevikepan sejak tahun 2007, yaitu a) Nusa Utara dengan 3 buah paroki, b) Tonsea dengan 7 paroki, c) Manado dengan 10 paroki, d) Tombulu dengan 7 paroki, e) Tomohon dengan 7 paroki, f) Tondano dengan 4 paroki, g) Stella Maris dengan 6 paroki, h) Luwuk Banggai dengan 5 paroki, dan i) Palu dengan 4 paroki. Kegiatan-kegiatan parokial sangat nampak di kompleks gereja pusat pada hari-hari minggu, sedangkan kegiatan perjumpaan antar anggota umat sangat menonjol pada kelompok-kelompok basis atau Wilayah Rohani dan Stasi, yang jumlahnya sekitar 800-an buah.

Lambang dan Motto Uskup Mgr. Josef Suwatan, MSC

Karya kerasulan gereja Katolik keuskupan Manado yang menonjol yaitu bidang pendidikan formal masih berlanjut dan berkembang. Persekolahan yang dibina oleh Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado kini berjumlah: TKK: 76 buah, SD: 127 buah, SMP: 39 buah, dan SMA-K: 16 buah, di samping persekolahan yang dibina oleh para zuster dari Tarekat YMY dan OSU, serta dari para frater Tarekat CMM. Dan sudah beberapa tahun bergiat Universitas Katolik De La Sales yang bertempat di Kombos, Manado, sebagai mitra dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di propinsi ini, dan serentak menjadi sarana pewartaan iman dan cinta kasih.

Tenaga-tenaga pastoral yang menjadi pembantu Uskup Manado sudah semakin bertambah. Pastores diosesan dari keuskupan ini sudah melebihi jumlah 100 orang dan sudah mulai berkarya missioner di keuskupan Manokwari-Sorong. Selain itu terdapat pula para pastor biarawan, yaitu dari Tarekat MSC (sejak tahun 1919 sampai kini), dari Tarekat OCD (sejak tahun 2002) yang berkarya di daerah Sonder, dari Tarekat OFMconv (sejak tahun 2006 dan berkarya di Napu Sulawesi Tengah). Di tahun 2011 sudah ada total 132 pastor yang berkarya di keuskupan ini; paling banyak dari mereka sudah dibina di keuskupan ini, yaitu lewat seminari menengah Kakaskasen, Agustinianum Tomohon, seminari Pondok Emaus Tateli (untuk calon imam diosesan), Seminari Agung Pineleng. Untuk para imam MSC mereka sudah mengecam pembinaan di Pranovisiat dan Skolastikat Pineleng. Juga terdapat sekitar 75 frater dan bruder yang berkarya pastoral di tahun 2011; menarik untuk dikatakan bahwa atas restu dari Mgr. Y. Suwatan msc sudah dibuka biara Bruder Tujuh Dukacita (BTD) pada tahun 2001 di Tomohon. Sementara terdapat sekitar 234 zuster dari tarekat YMY, DSJ, OCD, OSU, dan PBHK yang bergiat di keuskupan ini; malahan terdapat pula pembinaan pranovis, novis dari Tarekat YMY dan DSY. Masih perlu ditambahkan juga sekitar 140-an tenaga Katekis awam, yang dihasilkan baik dari program studi Teologi-Kateketik STFSP (sejak tahun 1989) maupun dari Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (StiPas) Tomohon yang didirikan pada tahun 1991.

Lewat Musyawarah Pastoral tahun 1993 dan Sinode Keuskupan Manado tahun 2000 sudah dicanangkan pilihan visi dan misi keuskupan ini sebagai suatu persekutuan dari komunitas-komunitas kristiani (a communion of Christian communities) yang dipanggil dan diutus bersama dengan semua orang untuk membangun persaudaraan sejati; Keuskupan Manado memberdayakan dirinya untuk mampu mewartakan Injil keadilan dan damai. Komunitas-komunitas kristiani ini secara konkrit mewujud dalam kelompok Wilayah Rohani dan Stasi secara territorial, dan secara kategorial ditemukan pelbagai kelompok kerasulan awam, seperti: KBK (kaum bapa Katolik), WKRI, OMK, Legio Maria, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Pemuda Katolik, KKMK, PUKAT, ME (Marriage Encounter), PMKRI, KMK, KTM, Choice, Couple fot Christ, dan juga kelompok PPA serta Sekami. Dan harus diakui bahwa kelompok-kelompok atau komunitas basis ini mengalami masa pasang-surut, sebagaimana lasimnya kehidupan dan kegiatan berkelompok. Tapi spiritualitas dasar ‘Credidimus Caritati’ menjadi motor penggerak kehidupan menggereja di bawah penggembalaan Mgr. Y. Suwatan msc.

In Lumine Tuo Videmus Lumen: motto Mgr. Benedictus E. Rolly Untu msc.

Pada tanggal 12 April 2017 dalam kata pembukaan Misa Krisma di gereja Katedral Manado Mgr. Y. Suwatan msc membacakan surat Sri Paus tentang pengangkatan Uskup yang baru sebagai penggantinya, yaitu Mgr. Benediktus Estefanus Rolly Untu msc. Pada tanggal 8 Juli 2017 di stadion Maesa Tondano, Minahasa, (akan) berlangsung upacara pemberkatan Uskup yang baru ini. Motto yang sudah dipilihnya ialah: “Dalam Terang-Mu kami melihat cahaya” (in lumine Tuo videmus lumen). Semboyan inilah yang akan menjadi motor penggerak dan jiwa spiritualitas karya penggembalaan Uskup yang baru bagi seluruh umat dan masyarakat di separuh pulau Sulawesi ini.

Lambang dan Motto Uskup Mgr. Benedictus E. Rolly Untu, MSC

Menelusuri gerak perkembangan historis umat di keuskupan ini dari balik motto para Uskup yang pernah menjadi gembala utama di sini, sudah terbersit secercah terang bahwa arah pergerakan kehidupan menggereja sudah beralih dari kecenderungan ekstensifikasi menuju ke arah intensifikasi, khususnya kepada cita-cita kemandirian dari masing-masing komunitas basis, paroki, sebagai suatu persekutuan. Nampaknya dalam terang ini terbitlah cahaya yang baru, yang menantang untuk membuat perubahan pola pikir, pola rasa dan pola bertindak dalam reksa pastoral. Sampai kini terasa bahwa paham ekklesiologis yang mendominasi ialah “Gereja sebagai Institusi”, sehingga penataan lembaga yang hirarkis itu yang mendapat perhatian utama. Cahaya perubahan yang sudah mulai bersemi ialah paham dasar ekklesiologis: “Gereja sebagai Umat Allah”, dan “Gereja sebagai suatu persekutuan dari komunitas-komunitas basis’, serta hakekat gereja adalah pelayanan; paham ini sebenarnya sudah diserukan dalam dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Lumen Gentium dan Gaudium et Spes. Paham dan pola reksa pastoral dengan corak Komunitas Basis Gerejawi (KBG) yang sudah diserukan oleh para Uskup Indonesia lewat Nota Pastoral tahun 2000 seyogianya diwujudnyatakan dalam kehidupan umat Katolik di keuskupan ini. Dan kita menunggu dengan penuh harapan tuntunan dari si pemegang Cahaya, yaitu Gembala Utama di keuskupan ini, Mgr. Benediktus E. Rolly Untu msc.

Bapak Uskup, hantarkan kami menuju Sang Cahaya itu.

P.R. Renwarin pr (Pastor Cardo)

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini