Renungan Minggu, 12 November: Siap Tanda Bijak

1
2296
siap
siap tanda bijak

Bacaan Liturgi 12 Nov 2017 ; PW S. Yosafat, Uskup dan Martir
Minggu Biasa XXXII

Bacaan 1 : Keb 6:13-17;Mazmur : Mzm 63:2.3-4.5-6.7-8
Bacaan 2 : 1Tes 4:13-18;Injil : Mat 25:1-13

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17
Kebijaksanaan itu bersinar dan tak dapat layu, mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya,  dan ditemukan oleh mereka yang mencarinya. Ia mendahului memperkenalkan diri kepada yang menginginkannya.

Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan
tak perlu bersusah payah,
sebab kebijaksanaan itu ditemukannya duduk di dekat pintu.
Merenungkan kebijaksanaan merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan
segera akan bebas dari kesusahan.

Sebab kebijaksanaan sendiri berkeliling
mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri
kepada mereka yang mencarinya; kebijaksanaan dijumpai pada tiap-tiap pemikiran mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

siap
Dipisahkan karena tidak siap dan tidak bijak

Mzm 63:2.3-4.5-6.7-8
R;2b :Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan Allahku.

*Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau,
jiwaku haus akan Dikau, tubuhku rindu kepada-Mu,
seperti tanah yang kering dan tandus,
yang tiada berair.

*Demikianlah aku rindu memandangmu di tempat kudus,
sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu.
Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup;
bibirku akan memegahkan Dikau.

*Aku mau memuji Engkau seumur hidupku,
dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.
Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,
bibirku yang bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.

*Di tempat tidurku aku ingat kepada-Mu,
sepanjang kawal malam aku merenungkan Dikau.
Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku,
dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

Bacaan Kedua: 1Tes 4:13-18
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika:

Saudara-saudara, kami ingin agar kamu mengetahui
tentang orang-orang yang sudah meninggal,
supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
Karena kalau kita percaya
bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit,
maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus.

Hal ini kami katakan kepadamu seturut sabda Allah ini:
Kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan
sekali-kali takkan mendahului mereka yang sudah meninggal.
Sebab pada waktu tanda diberikan,
yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru
dan sangkakala Allah berbunyi,
Tuhan sendiri akan turun dari surga. Dan mereka yang meninggal dalam Kristus Yesus akan lebih dahulu bangkit.
sesudah itu, kita yang hidup dan masih tinggal
akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan
menyongsong Tuhan di angkasa. Karena itu hendaklah kamu saling menghibur dengan perkataan-perkataan ini.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil: Mat 24:42a.44
Berjaga-jagalah dan bersiap-sedialah,
sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Bacaan Injil: Mat 25:1-13
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,
“Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis
yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Yang bodoh itu membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan yang bijaksana,
selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya.
Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang,
mengantuklah mereka semua, lalu tertidur.

Tengah malam terdengarlah suara berseru, ‘Mempelai datang! Songsonglah dia!’ Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, ‘Berilah kami sedikit dari minyakmu, sebab pelita kami mau padam.’ Tetapi yang bijaksana menjawab, ‘Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi membelinya pada penjual minyak.’

Tetapi, sementara mereka pergi membelinya,
datanglah mempelai, dan mereka yang telah siap sedia
masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah.
Lalu pintu ditutup.

Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata,
‘Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!’ Tetapi tuan itu menjawab, ‘Sungguh, aku berkata kepadamu,
aku tidak mengenal kamu.’

Karena itu, berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

siap
Tinggal di luar arena tidak siap siaga

Renungan: Siap Tanda Bijak

Saudaraku, adakah yang tahu kapan akan menghembuskan napas terakhir? Tidak ada yang tahu. Mereka yang sudah “terminal” pun karena sakit berat tidak dapat memastikan kapan penderitaannya akan berakhir. Yah, itulah misteri kematian. Misteri yang tidak perlu diperdebatkan panjang lebar. Karena saat kematian tidak lebih penting dibicarakan dari saat kehidupan. Keselamatan kekal tidak ditentukan oleh kapan dan bagaimana kita mati, tetapi justru oleh bagaimana kita hidup.

Saudaraku, kalau boleh berandai-andai. Seandainya satu malam malaikat Tuhan datang dan membisikkan kepada kita waktu kematian kita. Apakah yang akan kita lakukan di waktu yang tersisa? Pasti kita akan mengadakan persiapan untuk mati tenang. Mungkin mulai pergi berdamai, minta maaf, dan melakukan yang terbaik untuk sesama. Semua yang masih mungkin dilakukan pasti kita lakukan supaya mendapatkan “credit points”: Baik.

Tindakan seperti ini menunjukkan bahwa ternyata sebagai manusia kita memiliki kemampuan untuk berbuat baik, bertindak bijak dan siap siaga atas dasar kasih. Kita mampu tetapi kadang kurang terdorong dan termotivasi. Kita bisa tetapi kadang suka pandang enteng dan menunda-nunda waktu karena selalu yakin masih punya waktu.

Saudaraku Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, lewat perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana yang membawa pelita menanti kedatangan pengantin, Yesus hendak menyatakan kepada kita soal kesiapsediaan. 5 gadis yang diizinkan masuk dalam ruang perjamuan pesta adalah mereka yang dianggap bijaksana. Bijak bukan karena mereka pintar dan rajin tetapi karena mereka siap siaga dan antisipatif. Peltita mereka tetap bernyala, tidak kehabisan minyak karena mereka sudah mempersiapkannya. Mereka tetap siaga karena itu digelari bijaksana.

Saudaraku, sebagai manusia dan orang beriman kita semua punya kemampuan untuk berbuat baik. Kita orang-orang percaya yang rajin; kita orang-orang beriman yang pintar. Hari ini Yesus mengajak kita untuk bukan hanya percaya, rajin dan pintar tetapi juga bijaksana. Kepercayaan, kerajinan dan kepintaran belum cukup dianggap bijak. Kita perlu siap siaga sama seperti gadis-gadis yang bijaksana menurut perumpamaan Yesus.

Mari kita siap siaga, Mari tidak menunda-nunda waktu. Mari tidak memandang enteng karena yakin masih punya banyak waktu. Mari kita siap sekarang. Siap untuk mengasihi keluarga. Siap memberi pengampunan. Siap menerima diri dan hidup apa adanya. Siap berdamai. Siap memberi dan membagi kasih kepada sesama: Sekarang bukan Nanti. Karena kita tidak tahu saat dan waktu kita. Amin.

p.steven
P.Steven Lalu, pr

 

1 Komentar

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini