BerandaRenunganRenungan Harian: Kamis, 7 September 2017

Renungan Harian: Kamis, 7 September 2017

Published on

spot_img

Bacaan: Lukas 5: 1-11

 

“Keterbukaan Diri pada Maksud Tuhan”

Kehidupan kita selalu saja diwarnai dengan pengalaman kegagalan dan keberhasilan. Acap kali karena keinginan dan optimisme yang begitu kuat membuat kita menaruh perhatian lebih pada pengalaman kegagalan. Apalagi terpukul dengan keadaan kecewa dan merasa tidak berdaya. Simon Petrus dan para nelayan lainnya telah menekuni profesi yang pasti sudah setiap kali mereka lakukan; tapi toh mereka tetap mengalami pengalaman kegagalan. Tentunya sebagai manusia kita pasti sepakat untuk mengatakan bahwa wajar hal itu terjadi karena keterbatasan manusiawi kita. Tetapi ketika kita mengalami kegagalan hal tersebut cenderung kita abaikan dan lebih menaruh orientasi pada kegagalan ketimbang berusaha untuk bangkit dari kegagalan yang ada.

Kisah yang ditampilkan dalam Injil hari ini adalah kisah awal perjumpaan yang luar biasa. Dari sisi Yesus pengalaman perjumpaan dengan para murid tersebut adalah kisah pelayanan awal di daerah Galilea. Hampir sulit untuk dimengerti bahwa meskipun ini merupakan pengalaman perjumpaan awal, namun para murid bisa dengan gampang untuk menuruti perkataan Yesus untuk menebarkan jala lagi. Padahal sudah semalam suntuk mereka mencari ikan sebagai nelayan yang profesional tetapi tidak berhasil. Di sini kita bisa melihat dari sisi para murid bahwa mereka memiliki keyakinan dan iman yang kuat pada Yesus. Keyakinan inilah yang kedepannya menjadi jaminan dalam kancah pewartaan para murid terlebih Simon Petrus. “Bertolaklah ke tempat yang dalam… (“Duc in altum…”) adalah ungkapan yang penuh daya dan makna bagi para murid dan bagi kita semua. Dalam kehidupan, terlebih untuk mencapai keberhasilan kita jatuh pada posisi mengasumsikan keberhasilan tersebut berdasarkan intensitas dan kepadatan kerja. Tapi nampaknya ada nilai yang terabaikan di dalam kita membangun motivasi untuk mencapai keberhasilan yakni ketulusan kita. Ketulusan bukan lebih-lebih soal memberikan secara percuma dan bukan juga soal memasrahkan. Tetapi, pertama-tama soal keterarahan yang diikuti dengan keyakinan yang teguh pada penyelenggaraan ilahi dalam hidup. Posisi inilah yang membuat Simon Petrus dan para nelayan lainnya semacam mengalami titik balik dari keadaan sulit ke keterbukaan pada peluang keberhasilan.

Untuk itu, marilah kita mencoba menerawang kembali akan penggalan-penggalan pengalaman hidup kita. Apakah itu soal kegagalan. Apakah itu soal keberhasilan. Semuanya itu mengarahkan kita untuk mengerti maksud-maksud Tuhan bagi kehidupan kita.  Sebagaimana Simon Petrus yang mencoba mengerti akan maksud Tuhan sehingga membawa ia pada kesadaran iman: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Inilah kesadaran yang dialami oleh orang yang mengalami dan mencoba memahami dinamika iman dalam hidupnya.

KONTEN POPULER

Latest articles

PPA PAROKI KAIWATU ISI LIBURAN DENGAN REKOLEKSI

TAMPUSU - Untuk mengisi waktu liburan Putra-Putri Altar (PPA) Paroki Santa Veronika dari Binasko...

Paus Leo XIV Terbitkan Ensiklik Bersejarah tentang AI dan Martabat Manusia

Vatikan, 15 Mei 2026 — Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik pertamanya yang diberi judul...

Dalam Setetes Air, Ada Makna Iman

Dalam Perayaan Ekaristi, ada satu tindakan kecil yang sering tidak terlalu diperhatikan: imam mencampurkan...

Perjalanan Iman Dimulai dari Hal Kecil

Setiap orang dipanggil untuk hidup dekat dengan Tuhan. Namun sering kali kita berpikir bahwa...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...