Banggai – Pastor, suster, frater se-Kevikepan Luwuk Banggai berkumpul di pusat Paroki Raja Damai Banggai di Kota Banggai pada Senin, 7 April 2025.
Para pastor, suster dan frater yang berasal dari Paroki Luwuk dan sekitarnya, berangkat sejak Minggu malam dan tiba besok paginya. Sementara itu, para pastor dari Paroki Sambiut dan Paroki Nulion berangkat menuju Banggai pada hari Senin pagi.
Stasi Nggasuang
Dari pusat Paroki Banggai, mereka kemudian berangkat ke Stasi Nggasuang. Menumpang KM Cristophorus, rombongan berangkat pada hari Senin siang. Dengan kapal motor itu, mereka berlayar mengarungi lautan selama lebih dari empat jam perjalanan hingga tiba ke tempat tujuan.

Stasi Nggasuang adalah salah satu stasi tertua di Paroki Raja Damai Banggai. Desa Nggasuang sendiri adalah sebuah desa yang terletak di wilayah kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Bangai Laut.
Uniknya, stasi yang umatnya terbagi ke dalam dua wilayah rohani ini terletak di salah satu pulau kecil dan merupakan salah satu stasi terjauh dan terluar dari pusat paroki di Kota Banggai maupun dari pusat keuskupan di Kota Manado.
Menjelang sore hari, KM Christoforus akhirnya memasuki Desa Nggasuang. Anggota rombongan kemudian dijemput dan dijamu oleh pengurus stasi dan umat setempat. Di stasi ini, para pastor, suster, frater dan rombongan menginap di rumah pastoran dan di rumah-rumah umat.
Rekoleksi
Tujuan utama kedatangan para pastor berserta rombongan ke Stasi Nggasuang adalah untuk berekoleksi. Dengan melaksanakan rekoleksi ini, para pastor dan suster mengambil kesempatan untuk menepi, berefleksi dan menimba kekuatan rohani secara bersama-sama sebelum memasuki pekan suci.

Kegiatan awal pada hari pertama diisi dengan doa malam bersama yang digelar di gereja Stasi Santo Stefanus Nggasuang. Susunan kegiatan rekoleksi selama beberapa hari ke depan telah disusun oleh panita kecil.
Panitia kecil rekoleksi dikoordinir oleh Fr. Belly Resubun MSC dan dibantu oleh pengurus stasi setempat untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan selama proses rekoleksi. Fr. Belly sendiri telah membantu pelayanan di Paroki Raja Damai Banggai sejak Agustus 2024.
Pulau Tanalan
Selasa pagi, 8 April 2025. Para peserta menyiapkan diri mengikuti kegiatan rekoleksi. Sesuai jadwal, kegiatan rekoleksi hari ini dilaksanakan di sebuah pulau kecil, jauhnya sekitar empat kilometer lebih dari Desa Nggasuang.
Setelah sarapan dan berkemas-kemas, para peserta berangkat ke tempat rekoleksi dengan perahu motor. Kondisi laut sangat teduh sehingga perjalanan berlangsung lancar dan tanpa kendala.

Hari itu matahari bersinar terang. Hamparan atap kering kecokelatan rumah-rumah singgah nelayan di tepi pantai adalah pemandangan yang bisa dinikmati dari kejauhan. Angin berembus ringan.
Semakin dekat, hamparan pasir putih yang mengkilap menyilaukan mata dan lambaian dahan-dahan pohon pinus jarum menyapa mereka. Hanya butuh waktu beberapa puluh menit, rombongan telah tiba di Pulau Tanalan.
Pulau kecil ini tergolong sepi. Tidak ada suara kendaraan darat, kecuali bunyi mesin perahu tempel atau ketinting yang lewat dan memecah kesunyian sebentar. Pulau ini memang adalah pilihan tempat yang tepat untuk kegiatan rekoleksi.
Setelah turun dari perahu, rombongan bergerak melewati rumah-rumah singgah nelayan. Mereka masuk ke arah dalam pulau yang ditumbuhi pepohonan. Di tengah pulau yang lebarnya hanya puluhan meter ini, mereka menggelar terpal, duduk di atasnya dan bersiap untuk memulai rekoleksi.

Suara dari loud spekar memecah kesunyian siang itu. Dengan mikrofon di tangan, Fr. Belly mengarahkan dan menjelaskan jalannya kegiatan rekoleksi hari itu kepada para peserta yang sedang menyiapkan keperluan rekoleksi mereka masing-masing.
Segera setelah semuanya siap, Fr. Paulus Kus Bukan MSC memulai proses rekoleksi. Fr. Bukan adalah frater yang saat ini bertugas membantu pelayanan di Paroki Santo Paulus Toili. Pada rekoleksi ini, Fr. Bukan berperan sebagai fasilitator.
Rekoleksi ini berjalan hingga menjelang sore. Selain berekoleksi, para pastor, suster, serta rombongan lain menikmati suasana alam di pulau ini. Pemandangan yang indah, pantai yang luas, pasir putih dan suasana yang tenang merupakan pengalaman yang berharga setelah melewati rutinitas pelayanan yang panjang di tempat tugas masing-masing.
Danau Ubur-ubur
Setelah mengikuti rekoleksi di Pulau Tanalan pada hari sebelumnya, hari ini, Rabu, 9 April 2025, para pastor, suster, frater dan lainnya dijadwalkan akan pergi berwisata ke Danau Ubur-ubur. Obyek wisata ini terletak di Desa Mbuang-Mbuang. Dengan perahu motor dari Desa Nggasuang, obyek wisata ini dapat dicapai dengan waktu perjalanan lebih dari satu jam.

Danau ubur-ubur adalah obyek wisata yang cukup sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Kekhasannya adalah danau ini terletak di tengah-tengah pulau dan di dalamnya terdapat ribuan ubur-ubur tak menyengat dengan aneka warna.
Pengunjung yang datang dapat berenang bersama dengan ubur-ubur. Bagi mereka yang tidak ingin berenang, ubur-ubur dapat juga dilihat dengan jelas dari atas permukaan air. Jembatan yang menjorok jauh ke arah danau membantu pengunjung untuk melihat ubur-ubur dengan lebih leluasa dari atas.
Meskipun unik dan memiliki daya tarik, jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat kota dan biaya yang cukup tinggi untuk mengaksesnya membuat obyek wisata ini belum dapat dinikmati oleh banyak wisatawan. Beruntunglah rombongan pastor, suster, frater dan lainnya yang telah berkesempatan mengunjungi obyek wisata ini, yang juga adalah karya besar Tuhan sang maha pencipta.
Misa Penutup
Pada Rabu malam, setelah serangkaian kegiatan rekoleksi dan rekreasi, mereka melaksanakan misa penutupan bersama dengan umat Stasi Nggasuang.
Di pengujung misa, Pastor Paroki Raja Damai Banggai, Pastor Tarsisius Kewa Ama MSC memberikan kesempatan kepada setiap pastor, suster dan frater untuk memperkenalkan diri beserta dengan tempat tugas pelayanan mereka masing-masing.

Pada kesempatan ini juga, Pastor Vikep Kevikepan Luwuk Banggai, Pastor Josefat Rahajaan MSC menyampaikan beberapa hal. Pertama, ia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya para pastor dan para suster untuk menarik diri sejenak dari rutinitas pelayanan dan merefleksikan panggilannya secara bersama-sama.
Stasi Nggasuang dipilih sebagai tempat pelaksanaan rekoleksi karena suasananya sangat mendukung, baik dari segi ketenangan maupun untuk kebersamaan para pastor dan suster.
Selanjutnya, pastor Vikep yang akrab disapa Pastor Yoran mengucapkan terima kasih kepada pastor paroki, kepada frater selaku panitia, serta kepada para pengurus dan umat Stasi Nggasuang yang semuanya telah menyiapkan segala kebutuhan sehingga rangkaian kegiatan rekoleksi para pastor dan suster se-Kevikepan Luwuk Banggai ini dapat berjalan dengan baik.
Tidak lupa, Pastor Vikep juga memohon maaf kepada panitia dan seluruh umat apabila terdapat tindakan atau perkataan yang kurang berkenan selama mereka mengikuti kegiatan rekoleksi dan selama mereka berada di tengah-tengah umat Stasi Nggasuang.
Malam terakhir ini ditutup dengan acara makan bersama. Umat menyiapkan banyak hidangan dari hasil laut yang begitu kaya di sekitar mereka.
Balik Kanan
Kamis pagi, 10 April 2025. Pastor, suster, frater dan yang lain berkemas-kemas di tempat penginapan masing-masing. Setelah bersiap dan makan pagi bersama, mereka mulai berpamitan kepada umat setempat.
Hari ini juga mereka akan kembali ke ladang tugas pelayanannya masing-masing. Ada yang berkarya di Paroki Toili, ada yang di Paroki Sulubombong, ada yang di Paroki Luwuk, ada yang di Paroki Nulion, ada yang di Paroki Sambiut, dan tentu saja di Paroki Banggai.

Akhirnya semua sudah siap. Segala bawaan sudah ditenteng. Perahu pengantar sudah menunggu di bibir pantai. Dari tepi, mereka akan diantar menuju Kapal Motor (KM) Christoforus yang sedang terparkir jauh di ujung dermaga.
Sementara itu, banyak orang sudah berjejer di tepi pantai bersiap mengucap salam perpisahan. Di atas perahu, jabatan tangan masih datang silih berganti.
Dan, lambaian-lambaian tangan umat mulai mengawali pelayaran mereka. Seperti frasa “Duc in altum”, para pastor, suster, frater akan kembali bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk melayani di tempat tugas mereka masing-masing. ***
