(Doa St. Tomas Aquino)
Manusia adalah pribadi yang penuh dengan keinginan. Setiap hari kita bergumul dengan berbagai harapan, cita-cita, dan kebutuhan hidup. Kita menginginkan kebahagiaan, keberhasilan, cinta, pengakuan, dan rasa aman. Namun, di tengah banyaknya keinginan itu, sering kali kita lupa untuk bertanya: apa yang sesungguhnya paling kita rindukan? Doa St. Tomas Aquino ini mengajak kita masuk ke kedalaman hati dan menyadari bahwa hanya Allah yang mampu memuaskan kerinduan terdalam manusia.
Gereja mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, di dalam diri setiap orang tertanam kerinduan akan Tuhan. Santo Agustinus mengatakan bahwa hati manusia akan selalu gelisah sampai beristirahat dalam Tuhan. Kegelisahan hidup sering muncul bukan karena kita kekurangan sesuatu, melainkan karena kita menempatkan sesuatu selain Tuhan sebagai pusat hidup. Ketika harta, jabatan, prestasi, relasi, atau bahkan pelayanan menjadi tujuan utama, kita tanpa sadar menjauh dari sumber kebahagiaan sejati.
Keinginan duniawi pada dasarnya bukanlah hal yang jahat. Belajar, bekerja, membangun masa depan, dan melayani sesama adalah bagian dari panggilan hidup manusia. Namun keinginan itu menjadi berbahaya ketika membuat kita melupakan Tuhan, menghalalkan segala cara, kehilangan damai, dan menjauh dari sesama. Yesus mengingatkan kita, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Karena itu, doa St. Tomas Aquino bukanlah permohonan untuk tidak memiliki keinginan, melainkan permohonan agar semua keinginan dimurnikan dan diarahkan kepada Tuhan.
Menghendaki Tuhan berarti menjadikan Allah sebagai pusat hidup dan tujuan akhir dari setiap keputusan. Artinya, kita belajar mencari kehendak Tuhan dalam doa, Firman, dan suara hati. Menghendaki Tuhan juga berarti percaya pada penyelenggaraan-Nya, meskipun jalan hidup tidak selalu mudah. Yesus sendiri memberikan teladan sempurna ketika berdoa di Taman Getsemani, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” Dalam ketaatan itulah Yesus menemukan keselamatan dan kehidupan sejati.
Dalam kehidupan sehari-hari—di keluarga, sekolah, tempat kerja, dan pelayanan—doa ini mengajak kita untuk terus memeriksa hati: apakah keputusan yang kita ambil semakin mendekatkan kita kepada Tuhan atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Ketika Tuhan menjadi yang utama, keinginan lain akan menemukan tempat yang benar. Kita tidak lagi dikuasai oleh ambisi, iri hati, atau ketakutan, melainkan dipenuhi damai dan sukacita.
Melalui katekese ini, kita diajak untuk berani berdoa dengan tulus: “Tuhan, jangan biarkan aku menginginkan apa pun selain Engkau.” Semoga di tengah segala keinginan duniawi, kerinduan terbesar hati kita tetap tertuju kepada Allah, sumber hidup, kasih, dan keselamatan sejati. Amin.
