Tahuna – Gua Maria bukan sekadar tempat untuk berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria, tetapi juga menjadi tanda nyata persekutuan, kesetiaan, dan kebersamaan umat dalam perjalanan iman menuju persatuan abadi bersama Allah.
Dalam homilinya pada perayaan ekaristi penutupan bulan rosario Sabtu (31/10/2026) di Gereja Santa Anna Manente, Pastor Jacob mengajak umat untuk menyadari kembali makna menjadi bagian dari Gereja Katolik. Menjadi Katolik dan mengikuti Kristus merupakan sebuah pilihan iman yang sadar, yakni mempersiapkan diri untuk kelak bergabung dalam persekutuan para kudus di surga.
Kesadaran ini, menurutnya, tercermin dalam pengakuan iman setiap umat ketika mengucapkan, “Aku percaya akan persekutuan para kudus.”
“Gereja adalah persekutuan (comunio), sehingga semangat persaudaraan, kesetiaan, dan komitmen harus senantiasa dirawat dalam kehidupan keluarga, lingkungan rohani, stasi, maupun paroki,” sebut Pastor Jacob.
Selain itu, kata dia makna persekutuan itu juga dihadirkan melalui simbol-simbol dalam pembangunan tempat doa tersebut. Susunan batu bata yang tidak seluruhnya tampak lurus dan sempurna menggambarkan kehidupan komunitas yang terdiri dari pribadi-pribadi dengan berbagai kekurangan dan perbedaan.
“Namun, justru dalam keberagaman itulah keindahan sebuah persekutuan dapat ditemukan. Sementara itu, batu menjadi simbol kesetiaan, kejujuran, dan keteguhan yang harus menjadi dasar dalam membangun persaudaraan,” katanya.
Lebih jauh, Pastor mengingatkan umat akan pesan Yesus dari atas kayu salib kepada Bunda Maria dan murid yang dikasihi-Nya: “Itu ibumu.” Pesan ini mengajak setiap orang beriman untuk menerima Maria dalam kehidupan dan menjadikannya teladan iman, ketulusan, serta kesetiaan.
“Sebagaimana dikisahkan dalam Injil Yohanes, sejak saat itu murid menerima Maria di rumahnya. Karena itu, kehadiran Bunda Maria hendaknya sungguh dihidupi dalam rumah tangga dan kehidupan komunitas umat,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Bunda Maria juga menjadi teladan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia tidak mudah bereaksi terhadap setiap persoalan, melainkan menyimpan dan merenungkan segala perkara di dalam hatinya.
“Dari Maria, umat diajak belajar untuk tetap teguh, sabar, dan setia mengikuti jejak kasih Tuhan di tengah berbagai pergumulan,” pesannya.
Pastor juga mengungkapkan rasa syukur atas terwujudnya pembangunan tempat doa tersebut. Gagasan untuk menghadirkan tempat yang lebih baik, nyaman, dan aman bagi umat untuk berdoa telah melalui proses, berbagai masukan, serta pergumulan.
“Meskipun pembangunannya belum sepenuhnya rampung, tempat ini akhirnya dapat digunakan berkat kerja sama dan keterlibatan banyak pihak,” sebutnya lagi.
Apresiasi khusus disampaikan kepada keluarga-keluarga, umat dari berbagai wilayah rohani, para donatur, serta para pekerja yang telah memberikan tenaga, waktu, dan sumbangan. Semangat gotong royong dan kerendahan hati menjadi bukti bahwa karya ini bukan semata-mata hasil kemampuan manusia, melainkan juga karena penyertaan Tuhan.
Ungkapan seorang pekerja yang mengatakan bahwa semua yang terlaksana bukan karena manusia, melainkan karena Tuhan, menjadi pengingat akan pesan Santo Paulus bahwa hidup dan mati adalah untuk Tuhan.
Menutup refleksinya, Pastor mengajak umat agar momentum ini tidak sekadar menjadi sebuah tempat doa, tetapi menjadi awal pembaruan kehidupan iman.
“Devosi kepada Bunda Maria, khususnya dalam semangat Bulan Rosario, hendaknya semakin diteguhkan dan tidak berhenti setelah perayaan ini,” pesan Pastor Jacob.
Melalui kehadiran Gua Maria, umat diharapkan semakin bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, dan membangun persekutuan yang kokoh. Sebab, Gereja yang kuat bukanlah Gereja tanpa kekurangan, melainkan Gereja yang anggotanya mau saling menerima, setia, dan berjalan bersama menuju rumah Bapa. (Riko)
