Tahuna – Kerahiman Allah menjadi inti refleksi dalam homili Pastor Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna, Pastor Jacob Adilang, Pr., pada Perayaan Ekaristi Peringatan Arwah Semua Orang Beriman yang berlangsung di Makam Raja Bataha Santiago, Senin (02/11/2026).
Perayaan Ekaristi ini dihadiri Suster Xaveria Mamesah DSY, umat Stasi Hati Kudus Bahoi, Stasi Santo Fransiskus Xaverius Manganitu, Kelompok Kategorial Legio Christi, serta Pasukan Komando Pemuda Katolik Komcab Sangihe. Kehadiran umat dan berbagai kelompok kategorial menjadi ungkapan kebersamaan dalam iman sekaligus penghormatan kepada saudara-saudari yang telah meninggal dunia.

Dalam homilinya, Pastor Jacob mengangkat pesan Injil Yohanes 6:37: Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
“Sabda ini menegaskan bahwa Yesus senantiasa membuka diri bagi setiap orang yang datang kepada-Nya. Kasih dan kerahiman Allah menjadi sumber pengharapan bagi umat beriman, baik dalam kehidupan di dunia maupun dalam perjalanan menuju kehidupan kekal,” jelas Pastor Jacob.

Tidak hanya itu, Pastor Jacob juga mengingatkan bahwa melalui Sakramen Baptis, setiap orang telah menjadi anak Allah dan diserahkan kepada Yesus sejak awal perjalanan hidupnya.
“Namun, dalam peziarahan iman, manusia tidak selalu hidup seturut kehendak Tuhan. Ada kalanya seseorang kehilangan kesetiaan, menjauh dari kasih Allah, bahkan gagal menghadirkan semangat pengampunan dalam relasi dengan sesame,” jelasnya.

Karena itu jelas Pastor Jacob, peringatan arwah semua orang beriman menjadi momentum untuk menyadari kembali identitas sebagai anak-anak Allah yang dikasihi dan dipilih.
Menurutnya, penolakan bukan berasal dari Tuhan, sebab kerahiman-Nya senantiasa membuka kesempatan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.

“Apakah saya percaya? Apakah saya yakin bahwa ketika datang kepada Yesus, saya dikenal dan diterima?” demikian refleksi yang mengajak umat untuk semakin teguh dalam iman dan pengharapan.
Lebih lanjut, Pastor Jacob menegaskan bahwa kerahiman Allah hendaknya tidak hanya menjadi pengharapan bagi diri sendiri, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai anak-anak dari Bapa yang penuh kasih, umat dipanggil untuk menjadi pribadi yang terbuka, mampu menerima sesama, memberikan ruang pengampunan, serta membangun persaudaraan yang tulus,” tegasnya.
Dalam kaitan dengan peringatan arwah, Pastor Jacob juga mengingatkan pentingnya mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Ia merujuk pada kisah Yudas Makabe dalam Kitab Makabe, yang mengumpulkan persembahan untuk mendoakan orang-orang yang telah gugur.

“Praktik ini menjadi ungkapan iman Gereja akan kehidupan setelah kematian dan pengharapan terhadap kerahiman Allah bagi jiwa-jiwa yang sedang menjalani pemurnian,” katanya.
Mendoakan arwah, lanjutnya, bukan sekadar mengenang mereka yang telah pergi, melainkan juga merupakan ungkapan kasih dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Kerahiman-Nya memungkinkan setiap orang untuk mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi bersama persekutuan para kudus di surga.

Menutup homilinya, Pastor Jacob mengajak umat yang masih menjalani peziarahan di dunia untuk terus menjaga iman, harapan, dan kasih. Ia mengingatkan agar umat tidak kehilangan kepercayaan kepada Tuhan maupun sesama, karena hilangnya kepercayaan dapat memicu konflik, pertengkaran, dan perpecahan dalam kehidupan bersama.

Perayaan Ekaristi Peringatan Arwah Semua Orang Beriman di Makam Raja Bataha Santiago ini menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan pengharapan akan kehidupan kekal.
Melalui kerahiman Allah, kematian bukanlah akhir dari peziarahan, melainkan pengharapan untuk kembali kepada Yesus dan mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi bersama para kudus di surga.(Riko)
