Awas Terpedaya Pujian

0
37

Merenungkan Sabda
Selasa, 04 Juni 2024
Pekan Biasa IX
(2 Ptr.3:12-15a.17-18, Mrk.12:13-17)

Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi yang diberikan untuk menghargai prestasi seseorang. Orang yang berjasa atas suatu hal, pantas mendapat pujian atau apresiasi yang sewajarnya. Apresiasi ini, selain untuk penghargaan, dimaksudkan pula untuk mendorongan seseorang mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasi yang sudah digapainnya. Atau bisa juga pujian dan apresisai diberikan untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada seseorang. Orang tua untuk menumbuhkan kepercayaan pada diri anaknya selalu memberikan kata-kata pujian dan sanjungan. Tapi perlu hati-hati pula dengan pujian atau apresiasi. Bukan hanya barang yang palsu, pujian pun bisa palsu. Kita biasa mendengar saran “kalau datang pa dia minta sesuatu, puji-puji dulu, apa yang dia bilang iyo-iyo jo, pasti mo dapat.” Pujian membuat orang bisa terbang melayang sehingga mudah untuk memberikan sesuatu yang diminta. Orang yang bangga dengan pujian akan gampang bermurah hati.

Orang-orang Farisi dan Herodian rupayan tidak kehabisan akal untuk coba menjerat Yesus agar dapat dipersalahkan dan dihukum. Pertanyaan tentang kuasa Yesus dari mana sebagai upaya untuk menjeratNya, rupanya tidak berhasil. Kini mereka mencari pokok persoalan lain. Persoalah Pajak adalah persoalan yang peka. Membayar pajak adalah hal yang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi karena jumlah yang tinggi dan diperuntukan untuk penjajah, yakni bangsa Romawi. Dengan persoalan pajak ini mereka pikir akan gampang untuk menjerat Yesus. Dengan manis dan santun, mereka memberikan pujian terlebih dahulu kepada Yesus. “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur. Engkau tidak takut kepada siapapun, sebab Engkau tidak mencari muka, tetapi dengan jujur mengajarkan jalan Allah.” Siapa yang tidak terpesona dengan pujian ini. Yesus tidak mabuk pujian. Dia tahu kemunafikan mereka. Jawaban Yesus membuat mereka bungkam dan niat jahat mereka tidak terwujud; “berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Alah apa yang menjadi hak Allah”.

Dari sabda Tuhan ini kita bisa belajar beberapa hal.
Pertama, jangan mudah tergiur atau bangga dengan pujian orang. Bisa jadi orang memuji sekedar basa-basi karena ada sesuatu maksud atau tujuan tertentu. Tetaplah rendah hati dan ucapkan terima kasih jika ada yang memberikan pujian.

Kedua, jika kita menyampaikan pujian pada seseorang, hendaknya dengan tulus, jujur dan murni, tidak memiliki kepentingan apa-apa dan tidak mengharapkan sesuatu apapun. Jangan suka memperdaya seseorang dengan pujian-pujian kita yang palsu.

Ketiga, hindari sifat munafik: di depan orang wajah dan mulut berkata manis, tetapi di belakanya, kita menghina dan menjelekannya. Lebih baik kita jujur mengatakan hal yang sebenarnya supaya orang bisa memperbaiki diri dan berkembang maju.

Keempat, bakti kita kepada manusia dan kepada pemerintah adalah ekspresi bakti kita kepada Tuhan. Jangan hanya suka mencela pemerintah sementar kita tidak patuh pada ketentuan atau hukum yang ada. Menjadi warga yang baik merupakan uangkapan iman pula. Amin.

AMDG. Pst.Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini