Tahuna – Pesta Santa Maria Goretti bukan sekadar mengenang seorang martir muda, tetapi menjadi ajakan bagi setiap umat untuk meneladani hidupnya. Hal itu ditegaskan Pastor Paroki RD. Jacob Adilang, Pr dalam homilinya saat memimpin Perayaan Ekaristi Pesta Pelindung Santa Maria Goretti Kamis (09/07/2026) di Stasi Hati Kudus Bahoi.
Pastor Jacob mengisahkan bahwa Santa Maria Goretti rela mempertahankan kemurnian dan imannya ketika mendapat kekerasan dari Alessandro Serenelli. Karena menolak perbuatan dosa, Maria Goretti ditikam berkali-kali hingga akhirnya meninggal dunia.
Namun, menurut Pastor Jacob, yang paling mengagumkan bukan hanya keberanian Santa Maria Goretti mempertahankan kesuciannya, melainkan sikapnya menjelang ajal.
“Sebelum meninggal, Maria Goretti berkata kepada orang tuanya bahwa ia mengampuni Alessandro. Bahkan ia berdoa agar suatu saat nanti Alessandro pun memperoleh keselamatan dan dapat bersama-sama dengannya di surga,” jelasnya.

Pastor Jacob menjelaskan bahwa semangat pengampunan inilah yang membuat Santa Maria Goretti dikenang sebagai seorang kudus. Pertobatan Alessandro setelah bertahun-tahun di penjara menjadi bukti bahwa kasih dan pengampunan mampu mengubah hati manusia.
Menurut Pastor Jacob, setiap wilayah atau lingkungan yang memilih seorang santo atau santa sebagai pelindung tidak hanya mengambil namanya, tetapi juga dipanggil untuk menghidupi semangat hidup orang kudus tersebut.
“Kalau sebuah wilayah memilih Santa Maria Goretti sebagai pelindung, maka yang harus tampak dalam kehidupan umat adalah semangat kesucian, kesetiaan kepada Tuhan, dan terutama semangat saling mengampuni,” ungkapnya.
Ia mengakui bahwa mengampuni bukanlah perkara mudah. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang sulit memaafkan hanya karena perkataan atau perlakuan yang menyakitkan. Padahal Santa Maria Goretti mampu mengampuni orang yang telah merenggut nyawanya.

Pastor Jacob kemudian menghubungkan teladan Santa Maria Goretti dengan Injil hari itu, ketika Yesus mengutus para murid untuk mewartakan pertobatan. Menurutnya, pewartaan Injil bukan hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa harapan bagi sesama.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk “menyembuhkan yang sakit”, bukan hanya sakit fisik, tetapi juga mereka yang terluka batin, kehilangan semangat hidup, enggan bertobat, dan sulit mengampuni.
Demikian pula ketika Yesus memerintahkan para murid untuk “membangkitkan orang mati”, Pastor Jacob mengajak umat memahami makna rohaninya, yakni membangkitkan kembali mereka yang putus asa, kehilangan harapan, menjauh dari Tuhan, bahkan merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.

“Masih banyak orang yang sebenarnya hidup, tetapi semangatnya sudah mati. Mereka kehilangan harapan, kehilangan sukacita, bahkan merasa Tuhan tidak lagi mendengarkan doa-doanya. Di sinilah kita diutus untuk menjadi pembawa harapan,” katanya.
Di akhir homili, Pastor Jacob mengajak seluruh umat, khususnya keluarga-keluarga dan umat yang menjadikan Santa Maria Goretti sebagai pelindung, agar sungguh-sungguh menghidupi semangat pertobatan dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga melalui teladan Santa Maria Goretti, kita semakin berani mempertahankan iman, hidup dalam kekudusan, mau bertobat, dan dengan rendah hati mengampuni sesama sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita,” tutupnya. (Riko)
