Manado – “Injil hari ini berbicara tentang dua jenis hubungan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan Tuhan dengan manusia,”
Hal ini diungkapkan selebran Pastor Johanis Ohoitimur, MSC (Yong) dalam Homili yang bertema ‘Kesabaran Tuhan dan Pertobatan Manusia Berdoa’, pada Misa kedua, Hari Minggu Prapaskah III, bertempat di Gedung Gereja Paroki St Mikael Perkamil Manado, Minggu, (23/03/2025).
Menurut Pastor Yong, dalam hubungan manusia dengan sesama, Injil hari ini berbicara tentang orang yang datang kepada Yesus dengan kesombongan, yang menganggap bahwa orang yang malang lebih besar dosanya. Yesus mengatakan: orang yang benar adalah orang yang bertobat.
“Dalam hubungan dengan manusia, Tuhan itu sangat sabar. Ini tampak dalam perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Pengurus kebun anggur minta agar diberi waktu supaya tanah dicangkul dan diberi pupuk lagi. Tuhan mengizinkan. Tuhan selalu dengan sabar menunggu manusia berdosa agar bertobat,” tutur Pastor Yong.
Pastor Yong menyampaikan, Injil hari ini mengajarkan kita bahwa kehidupan yang benar adalah pertobatan, dan pertobatan harus tampak pada buahnya, yaitu perbuatan-perbuatan yang baik, perbuatan kasih. Jika Tuhan bisa sabar terhadap kita, maka kita pun hendaknya bisa sabar kepada orang lain. Kesabaran Tuhan hendaknya menjadi kesabaran kita juga. Selama masa Prapaskah ini, kita berniat untuk bertobat, kita ingin menghasilkan buah-buah yang baik, karena dari buahlah suatu pohon dinilai; dari perbuatan baiklah kita sendiri dinilai. Semakin kita sabar terhadap orang lain, semakin kita sanggup bersikap bijaksana, tidak mengganggap diri lebih benar atau lebih baik.
“Pertobatan bisa terjadi jika kita menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ini tampak dalam bacaan I: Musa dalam kesibukan hariannya bertemu dan berbicara dengan Tuhan, menerima tugas perutusan dari Tuhan,” jelasnya.
Lanjut Pastor Yong, kita juga diajak untuk selalu menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini akan membuat kita selalu berbicara dengan Tuhan, dan terbuka kepada apa yang dikehendaki Tuhan dari kita.
“Jika kita tidak bertobat, apa yang terjadi? Bacaan II mengingatkan bahwa jika tidak bertobat, kita akan binasa, jiwa kita akan mengalami kemalangan, jauh dari Tuhan, tidak mengalami kebahagiaan kekal, hidup tidak tenang, dan hidup kehilangan arah,” tegasnya.
Pastor Yong mengatakan, masa prapaskah adalah kesempatan bagi kita untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita; Tuhan hadir melalui sesama yang menyapa, menolong kita. memberi pupuk rohani, melalui doa-doa agar kehidupan kita berbuah.
“Kita menjadi sabar terhadap sesama, rendah hati, dan tidak menganggap diri lebih sempurna. Buah-buah pertobatan ialah perbuatan baik, dan kesabaran terhadap sesama,” pesan Pastor Yong.(man repi)
