ENYAHLAH IBLIS!

0
1491

Digoda-Menggoda, Mempersalahkan alias mencari Kambing Hitam dan membela diri tampaknya menjadi “bakat” yang melekat dalam diri manusia. Ada orang yang bukannya menghindari godaan karena mudah tergoda, malahan dengan gagah berani masuk dalam penggodaan. Sesudah tergoda dan berakibat buruk, bukannya menyadari kesalahan melainkan mulai membela diri dengan menuduh si penggoda sebagai biang kerok segalanya. Seorang yang dilarang dokter untuk makan berlebihan makanan yang mengandung glukosa karena terserang penyakit diabetes atau makanan yang berminyak karena kolestrol tinggi, malahan menggoda dirinya sendiri dengan terus-menerus membelinya atau mengkonsumsinya dengan membuat rasionalisasi “pinjam hari” (hanya hari ini, tetapi setiap hari dilakukan). Atau seorang yang sungguh-sungguh sadar dilarang minum-minuman keras tetapi setiap hari bergabung dengan mereka yang minum-minuman keras. Atau seorang yang sadar bahwa berjudi itu merusak malahan setiap hari berkunjung ke tempat orang-orang yang bermain judi.

            Banyak contoh lain boleh diungkapkan untuk menggarisbawahi kenyataan betapa kita manusia adalah mahkluk lemah yang punya bakat tergoda dan mudah mencari pembelaan diri ketika sudah jatuh dalam dosa karena mengambil keputusan untuk menyerah pada godaan yang silih-berganti bertubi-tubi datang.  Bahkan saking seringnya kita mencari-cari alasan pembenaran untuk membela diri ketika jatuh dalam kesalahan akibat tidak kuat dan tegas melawan godaan, mucul sebuah kisah lucu yang mengungkapkan “keluh kesah iblis” karena selalu dituduh sebagai biang keladi semua kesalahan manusia.  Ketika seorang tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan jalan korupsi atau mencuri, ia “membela diri” dan menimpakan kesalahan pada iblis yang menggodanya, seolah-olah ia tidak bertanggungjawab dengan keputusannya untuk membuat kwitansi palsu atau merekayasa laporan keuangan. Ketika seorang dengan semena-mena menghancurkan sumber-sumber air dan atau merusak biota laut dan sungai demi memuaskan keinginannya untuk membangun dan mengumpulkan lebih banyak pendapatan, ia mempersalahkan iblis yang menggodanya seolah-olah ia tidak memiliki kehendak untuk menolak godaan iblis.

Dalam suratnya kepada umat di Roma yang kita renungkan  dalam bacaan kedua hari ini Paulus menunjukkan bahwa Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari dosa. Kuasa Kasih Allah dalam Yesus Kristus jauh lebih kuat dari Dosa dan kuasa si Jahat. Dalam Injil Yesus memberi contoh bagaimana manusia berhadapan dengan godaan si Jahat. Atas dasar Kasih Karunia dan KesatuanNya dengan Sang Bapa, Yesus menolak tegas godaan-godaan Iblis dengan Sikap Tegas dan tindakan tanpa kompromi. Ketika ditawarkan mengubah batu menjadi roti, Yesus menunjukkan betapa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Ketika Ia dibawa ke bubungan Bait Allah dan iblis meminta Yesus mempertontonkan kehebatanNya, Yesus dengan tegas menolak untuk tergoda: “Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!” dan ketika Yesus dibawa ke gunung yang tinggi dan iblis menawarkan kekuasan, Yesus dengan lebih tegas lagi menolak: “Enyahlah, Iblis! Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti!”. Yesus menunjukkan betapa Kehendak Kuat atas dasar Kasih kepada Allah menjadi modal utama berhadapan dengan godaan Iblis. Ketika kita membiarkan diri menjadi lemah karena kekurangan Kasih maka dengan gampang kita dikuasai si penggoda, tetapi ketika bertekun dalam Kasih kepada Allah, Sesama dan  Alam Semesta maka kita akan mendapat kekuatan melawan Godaan dan terhindar dari kebiasaan mempersalahkan atau mencari-cari alasan Pembenaran. Marilah kita terlebih dalam masa Prapaskah ini menumbuhkembangkan Kasih kepada Allah, Sesama dan Alam semesta agar kita senantiasa memiliki Kehendak Kuat untuk senantiasa berseru “Enyahlah Iblis!”. (Po’).

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini