
Pada tanggal 26 Maret 2025, Wilayah Rohani St. Kristoforus melaksanakan Ibadah Prapaskah yang khidmat, bertempat di rumah Keluarga Wala – Sengkey. Ibadah ini dipimpin oleh Sdra. Ryan Wagey dan dihadiri oleh 21 umat yang berkumpul untuk merenungkan Firman Tuhan serta memperkuat iman dalam Masa Prapaskah.
Ibadah dimulai dengan pembacaan dari Kitab Kejadian 1:9-13, yang menceritakan tentang penciptaan bumi dan peran Allah dalam memberi kehidupan. Melalui renungan yang disampaikan, umat diajak untuk menyadari pentingnya menjaga iman serta merespons kasih Tuhan dengan pertobatan dan ketaatan. Suasana ibadah berlangsung penuh hikmat, dengan doa bersama yang menjadi ungkapan syukur atas bimbingan Tuhan dalam kehidupan umat.

Dalam Kitab Kejadian 1:1-5, kita membaca tentang saat pertama kali Tuhan menciptakan alam semesta. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” Dengan perintah-Nya, Tuhan memisahkan terang dari gelap, siang dari malam, memberikan keteraturan yang menjadi dasar kehidupan.
Penciptaan terang dan malam ini tidak hanya merupakan karya Tuhan yang menakjubkan, tetapi juga memiliki makna rohani yang mendalam. Terang sering diidentikkan dengan kehadiran Tuhan, dengan kebaikan, kejelasan, dan pengetahuan. Sebaliknya, malam atau kegelapan sering kali menjadi lambang kebingungan, dosa, atau keterasingan dari Tuhan. Namun, baik terang maupun malam adalah ciptaan Tuhan, yang masing-masing memiliki peran penting dalam hidup kita.

Terang mengajarkan kita tentang kehadiran Allah yang selalu menyinari kehidupan kita. Tidak peduli seberapa kelam hidup kita, terang Tuhan akan selalu hadir untuk menuntun dan memberikan pengharapan. Dalam terang, kita menemukan jalan yang benar, dan kita diundang untuk berjalan dalam terang kasih dan kebenaran-Nya. Seperti firman Yesus, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Kehadiran Yesus sebagai terang dunia mengajak kita untuk hidup dalam terang iman dan kebenaran.
Di sisi lain, malam atau kegelapan juga memiliki tujuan. Malam memberi kita waktu untuk beristirahat, berefleksi, dan merenung. Dalam malam, kita diajak untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah, meski kita tidak selalu memahami jalan yang sedang kita tempuh. Malam bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi masa di mana kita bisa memperdalam iman kita, memohon agar Tuhan tetap bersama kita di tengah kegelapan.
Ketika kita merenungkan penciptaan terang dan malam, kita diingatkan bahwa hidup kita juga terdiri dari terang dan kegelapan—kebahagiaan dan tantangan, kejernihan dan kebingungan. Namun, baik dalam terang maupun dalam malam, Tuhan hadir bersama kita. Dia menciptakan keduanya untuk kebaikan kita, memberikan ritme dan keseimbangan dalam kehidupan. Dalam setiap perjalanan, kita dipanggil untuk merangkul terang kasih Tuhan dan mempercayai Dia, bahkan saat kita berada dalam kegelapan.

