Imam Sebagai Komunikator Gereja

    0
    1229

    INSPIRASI TEKS : YOH 13: 1-15

    Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus. Yesus tahu bahwa BapaNya telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahnNya. Ia megambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya, lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepadaNya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”. Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak”. Kata Petrus kepadaNya, “Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku”.  Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku”. Kata Simon Petrus kepadaNya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”. Kata Yesus kepadanya, “Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!”. Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia; karena itu ia berkata, “Tidak semua kamu bersih”. Sesudah membasuh kaki mereka, Yesus mengenakan pakaianNya dan kembali ke tempatNya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Nah, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”.

    Teks ini memberi inspirasi untuk merenungkan aspek komunikasi dalam identitas dan pelayanan imamat dengan belajar dari Yesus sang Komunikator sejati.

    1. Komunikator: Sadar dan Tahu Sumber dan Isi Pesan

    Sadar dan Tahu Sumber: Yesus tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Bagaimana Yesus sadar dan Tahu? Ia paham bahwa diriNya adalah representasi kelihatan dari persekutuan kasih Trinitas: “Bapa, Putera dan Roh Kudus”. Ia adalah utusan, pembawa Misi, pewarta Pesan, mediator ilahi. Ia tahu sumberNya. Ia harus beralih dari dunia kepada Bapa. Ia berinkarnasi sebagai puncak komunikasi Allah. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya…(Ibr 1:1-3). Yohanes menulis; “Pada Mulanya adalah Sabda, dan Sabda itu bersama sama dengan Allah, dan Sabda itu adalah Allah”. (Yoh 1:1). Yesus tahu betul tugasnya sebagai komunikator. Ia datang sebagai manusia kepada umat manusia supaya pesanNya dapat dimengerti audiensnya. Ia tidak sedang mengkomunikasikan diriNya sendiri tetapi Ia setia pada kehendak Bapa.

    Isi Pesan: Kitab Suci menulis “Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir”. Kasih adalah warna dasar Persekutuan Triniter Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebagai komunikator sejati, Yesus membawa pesan yang sangat kongkrit: Kasih. Pesan tidak terdiri dari rangkaian kata-kata indah tetapi tindakan nyata. Yesus mengkomunikasikan pengalaman kelimpahan kasih TrinitarianNya dengan memberi pengalaman baru kepada para murid: Dikasihi lewat pemberian diri sepenuh-penuhnya.

    Lumen Gentium menyatakan bahwa para Imam dikuduskan untuk mewartakan Injil dan menjadi gembala bagi umat beriman dan merayakan ibadat-ibadat suci. (LG 28: AAS 57 (1965) 54.
). Ia disucikan untuk mengkomunikasikan Kasih Allah lewat tugas pewartaan, penggembalaan dan perayaan-perayaan Liturgis. Mari belajar dari Yesus yang setia pada sumber komunikasiNya, memahami sungguh bahwa Ia berasal dari Bapa dan akan kembali kepada Bapa. Ia tidak mengkomunikasikan kehendakNya sendiri tetapi membagikan pengalaman dikasihi. Ia tidak mewartakan dengan kata-kata saja tetapi lewat tindakan nyata. Yesus sungguh komunikator sejati yang memberi inspirasi communio. Sebagai komunikator Gereja, para imam hendaklah sungguh menyadari dan terus merefleksikan usaha-usaha komunikasinya. Entahkahsudah sungguh membangun kesatuan dengan sang sumber sehingga setiap usaha komunikasinya memberi inspirasi persatuan dan kesatuan (persekutuan) bukan perpecahan dan perselisihan.

    1. Tawaran, Godaan Sumber lain dari Sang Iblis (Pengalaman Yudas)

    “Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus”.

    Ketika sedang berurusan dengan tubuh jasmani: makan dan minum. Iblis datang berbisik kepada Yudas Iskariot untuk memilih sumber yang lain: dosa dan kejahatan. Iblis menawarkan persekutuan baru; keluar dari persatuan dengan sang sumber utama. Itulah kerajaan diri sendiri. Ia membisikkan dalam hati Yudas sebuah “kekuasaan” untuk mengkhianati kebersamaan dengan sang guru. Ia mendorong Yudas untuk jalan sendiri. Tidak setia pada kebersamaan dengan Kristus dan komunitas para murid. Ia digoda untuk melupakan begitu saja kebersamaan komuniter dan kasih sang guru. Ia akhirnya termakan bisikan iblis dan berencana melenyapkan pemimpinnya. Ia pergi keluar komunitas dan membangun komunikasi dengan pihak lain sambil menjual sang pemimpin dan datang dengan senyum dan ciuman kemunafikan. Ia bahkan memasukkan sang pemimpin dalam bahaya kematian. Pengkhianatan yang terjadi karena egoisme dan semangat ingat dirinya.

    Komunikator gereja senantiasa mendapatkan tantangan, tawaran dan godaan untuk memisahkan diri dari sang sumber sejati. Tawaran “kekuasaan” yang ditopang oleh egoisme pribadi, semangat ingat diri dan merasa diri hebat kerap mendorong kita untuk keluar dari kebersamaan komunitas. Ketaatan pada tugas panggilan dan pimpinan kadang menjadi kabur oleh semangat mencari keuntungan diri. Hendaklah kita belajar dari pengalaman Yudas. Mari membangun komunikasi kasih dengan Yesus sang sumber pewartaan kita, mengeratkan komunikasi kasih dengan gereja dan para pemimpinnya, agar tidak tergoda membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang membawa pada semangat ingin jalan sendiri atau bahkan menjual “gereja” demi kepentingan pribadi dan datang dengan senyum dan ciuman kemunafikan.

    1. Mengkomunikasikan Pesan lewat kata dan tindakan dengan semangat Rendah hati

    “Medium is a Message”. Media adalah pesan. Yesus menyampaikan pesan cinta kasih bukan hanya lewat kata-kata, tetapi terlebih lewat tindakan nyata. Pesan yang disampaikan bukan hanya lewat kata yang diucapkan tetapi lewat tindakan yang sarat makna. Ia bangun, menanggalkan jubah dan mengambil sehelai kain lenan. Jubah yang terbuat dari kain yang besar diganti dengan kain kecil. Dia yang besar, agung nan mulia berubah menjadi kecil. Ia menanggalkan jubah kebesarannya untuk melayani para murid. Ia menunjukkan teladan kerendahan hati. Komunikator sejati adalah dia yang sungguh rendah hati. Pesan baik apapun yang disampaikan tidak dengan semangat rendah hati tidak akan didengar oleh audiens. Yesus mengkomunikasikan pesan Kasih lewat tindakan pelayanan dalam semangat kerendahan hati. Dia yang adalah Allah sudah turun dan tinggal sebagai manusia. Dan sebagai manusia Diapun bersedia membasuk kaki murid-muridNya. Ini semua dilakukan Yesus supaya Kasih, pelayanan dan persaudaraan boleh diterima, dimengerti dan dijalankan oleh para murid. Cara yang oleh manusia dipandang sebagai tindakan “kurang bergengsi” bersedia dilakukan Yesus demi penyampaian pesan yang efektif.

    Para Imam diberikan rahmat sakramen Imamat untuk berpartisipasi dalam gerakan komunikasi pesan kasih Allah kepada manusia. Berpartisipasi dalam Imamat Uskup, para imam dikuduskan menjadi komunikator-komunikator gereja. Belajar dari Tuhan Yesus, ternyata segala kata, karsa, tindak-tanduk para imam, di manapun dan kapanpun kiranya mengkomunikasikan pesan yang melekat dalam materai imamat: mewartakan Injil kabar suka cita dalam persekutuan gereja katolik yang kudus. Karena itu hendaklah para imam merenungkan kata-kata, homili, katekese, kata sambutan rapat, dan percakapannya apakah sungguh dilakukan dalam pelayanan kasih, penuh kerendahan hati dan membangun persaudaraan atau tidak. Atau apakah mereka membangun relasi dengan rendah hati atau malahan kurang berkomunikasi karena “gengsi” dan selalu merasa paling hebat karena mendapatkan kuasa pelayanan? Mungkin merasa sebagai “leader” yang tidak membutuhkan orang lain. Mungkin juga “Kuasa hirarkis” yang mestinya digunakan untuk melayani dengan rendah hati, digunakan dengan semena-mena dan berlindung di balik “kekuasaan” yang dimiliki. Hal yang paling sederhana. Apakah imam menjawab SMS, BBM, atau telepon dari umat yang membutuhkan?. Ingatlah, Medium is a message. Kalau SMS orang nanti dibalas satu minggu kemudian, cara ini sudah merupakan pesan bahwa si pengirim sms sama sekali tidak penting.

    Zaman ini adalah era komunikasi informasi yang sangat berkembang. Banyak orang sudah dipengaruhi oleh revolusi teknologi di era digital. Gereja sungguh melihat perkembangan teknologi sebagai sarana penting yang harus dimanfaatkan secara teliti dan bijaksana. Sebagai komunikator-komunikator gereja, hendaklah kita turut terlibat dalam pewartaan suka cita injil lewat media yang ada. Dan mari mengkomunikasikan pesan-pesan gereja dengan pertama-tama membangun persaudaraan internal. Ketika semua orang memiliki semangat rendah hati dan bersedia membantu saudara seimamatnya, maka niscaya akan dengan mudah mengkomunikasikan pesan kepada sesama. Banyak masalah di dunia ini, entah kalau ini terjadi juga di lingkungan kita, terjadi karena bentuk-bentuk komunikasi yang muncul, bukan komunikasi yang membangun persaudaraan. Kesimpangsiuran informasi, menimbulkan syak dan prasangka. Sistim komunikasi yang kurang teratur menimbulkan perselisihan, kecemburuan, dan saling curiga satu sama lain. Informasi sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia zaman ini. Karena informasi adalah juga “kekuasaan”, siapa memiliki informasi memiliki “kekuatan”. Mari menjadi komunikator yang terbuka, tidak pandang bulu, rendah hati dan membangun persatuan dan kesatuan jemaat.

    1. Gengsi dan Keras Hati: Tantangan Seorang Komunikator (Pengalaman Petrus)

    Komunikasi Yesus lewat tindakan simbolik mencuci kaki para murid tidak bisa langsung dimengerti para Murid. Misteri kasih Ilahi memang kadang sulit dimengerti, bahkan kadang memang tidak bisa dimengerti. Karena memang kasih itu untuk dialami, dirasakan dan dikomunikasikan kepada orang lain. Petrus memberi umpan balik yang kurang bijaksana. Egoisme pribadinya berbisik bahwa tindakan sang guru sungguh tidak pantas. Ia tidak boleh merendahkan diriNya di hadapan seorang murid. Ia tidak mengizinkan Yesus membasuh kakinya. Ia gengsi dan keras hati. Meskipun teman-temannya sudah memberi diri dibasuh oleh Yesus. Ia tidak bersedia. Ia tergoda untuk menjadi “yang lain” karena prinsip egoisme yang bercokol dalam hati. Tetapi kemudian Yesus membasuhnya juga sesudah ditegur Yesus untuk tidak keluar dari kebersamaan komunitasnya. Kalau Ia tidak dibasuh maka Petrus tidak akan menjadi bagian dari Yesus. Yesus menunjukkan betapa kebersamaan dalam persekutuan sungguh amatlah penting.

    Sebagaiaman Petrus, kita kerap tergoda untuk gengsi dan keras hati. Kita tidak peduli apakah kita akan mendapatkan bagian dalam komunitas kasih Yesus atau tidak. Yang penting kita tidak boleh direndahkan. Padahal Yesus sendiri sudah menunjukkan keteladanan betapa ia bersedia dianggap rendah demi membangun kebersamaan dan persaudaraan atas dasar kasih. Dan ia sendiri lebih memberi bukti lewat wafat di kayu salib. Mari kita merenungkan pelayanan kita masing-masing, apakah kita bersedia untuk menderita, berkorban, dianggap lemah, dianggap “papan bawah” demi pembangunan kebersamaan dan persatuan kasih di tempat kita bertugas.

    1. Komunikator Gereja diutus meneladani Yesus: Rendah Hati dan Saling Membasuh

    Di akhir Injil Yesus menerangkan maksud tindakannya supaya para murid memiliki semangat kerendahan hati dan saling melayani.

    Pst. Steven Lalu

    Bahan ini Diolah kembali dari bahan Rekoleksi Pastores Jelang Misa Krisma 2016

     

    Beri Komentar

    Silahkan masukkan komentar anda
    Silahkan masukkan nama anda di sini