BerandaRenunganIMAN MEMBAWA SUKACITA

IMAN MEMBAWA SUKACITA

Published on

spot_img

HARI MINGGU PRAPASKAH IV (U)

1 Sam.16:1b,6-7,10-13a; Mzm.23.23:1-3a,3b-4,5,6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41 (Yoh.9:1,6-9,13-17,34-38).

 

Dalam Gereja Katolik, Minggu Prapaskah IV disebut Minggu Laetare ( Minggu Sukacita). Antifon Pembukaan dalam Misa diambil dari Yesaya 66: 10: “Bersukaciatalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya.” Minggu Sukacita ini disimbolkan dengan diperbolehkan digantinya warna liturgi dari warna ungu menjadi warna merah jambu (pink). Bunga-bunga cerah yang biasanya dilarang selama masa Prapaskah boleh diletakkan di panti imam (altar).
Dalam Minggu Laetare ini, kita bersukacita karena sudah separuh jalan menjalani masa Puasa dan Pantang (Masa Prapaskah). Kita bersukacita karena kita sudah berhasil dalam perjuangan untuk mengutamakan kehidupan rohani daripada kehidupan duniawi sampai pertengahan Masa Prapaskah. Minggu Laetare mengingatkan kita bahwa Masa Prapaskah merupakan simbol perjuangan kita di dunia untuk mencapai sukacita abadi yang dilambangkan dengan Paskah. Sukacita abadi kita peroleh berkat kehidupan, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus. Karena itu, Minggu Laetare (Minggu Sukacita) ini memberikan kepada kita semua semangat untuk menyelesaikan Masa Prapaskah ini dengan sukacita rohani yang besar. Penderitaan dan kesulitan dalam perjuangan kita untuk menyelesaikan Masa Prapaskah ini tidak sebanding dengan sukacita abadi, yaitu sukacita Paskah, yang akan kita peroleh: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Ibrani 8:18).

Kita bersukacita karena telah mendapatkan jaminan penghiburan dan keselamatan dari Allah. Kita percaya bahwa orang yang mengandalkan Tuhan tidak akan berkekurangan. Hal ini seperti nampak dalam ulangan mazmur tanggapan: “Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku”. Bagi yang percaya kepada-Nya, Tuhan akan mengantarnya pada padang rumput yang hijau, dibebaskan dari bahaya, mengurapinya dengan minyak dan senantiasa memperoleh kemurahan Ilahi dari Tuhan.

Pengalaman sukacita itu pun dapat kita lihat dalam perjumpaan Tuhan Yesus dengan orang yang buta. Dalam Injil dikisahkan tentang orang yang buta sejak lahir. Dalam tradisi Yahudi, dosa bisa menjadikan seseorang itu mendapatkan kebutuan sejak lahir. Hal ini pula yang membuat para murid Yesus mempertanyakan siapa yang telah berdosa sehingga orang ini dilahirkan demikian. Tuhan Yesus membongkar pemikiran mereka. Keadaan orang itu bukanlah terjadi akibat dosa. Tetapi melalui keadaan orang itu sukacita dari Allah dinyatakan. Ia membawa terang baginya. Bagi orang buta itu, suka cita terbesar yang ia rasakan adalah bahwa ia dapat melihat. Itulah yang Tuhan Yesus berikan kepadanya. Pengalaman demikian pun dirasakan oleh Daud. Bukan karena paras yang indah dan bukan pula karena badan yang kekar yang dipilih Tuhan. Bukan pula karena keundahan yang ditampilkan mata mausia yang dipilih Allah. Tetapi Tuhan Allah memilih Daud karena hatinya. Hati yang selalu rindu akan Tuhan. Hati yang selalu terarah pada cinta kasih Allah. Itulah iman dari Daud. Iman itulah yang membuatnya dipilih oleh Allah menjadi raja. Iman itu pula yang membawa sukacita besar bagi Daud.

Dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk bertobat. Pertobatan itulah yang menghantar kita dalam terang Tuhan. Melalui puasa dan pantang, kita semakin memurnikan semangat pertobatan kita. pertobatan yang sejati senantiasa membuahkan kebenaran dan kebaikan dalam hidup kita. Pertobatan membangun kembali relasi cinta yang mesra dengan Tuhan. Seperti orang buta ini memperoleh kesembuhan ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus. Dalam pertobatan pula, kita senantiasa memperoleh kesembuhan dari kebutaan hati dan iman kita akibat dosa. Lebih dari itu, melalui pertobatan, kita senantiasa memperoleh rahmat dari Allah. Rahmat pengampunan itulah yang menjadi sukacita kita sebagai orang yang seantiasa beriman kepada Allah. (Diambil dari Renungan Harian Lentera Jiwa)

 

KONTEN POPULER

Latest articles

KBK Kevikepan Manado Ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI

Kaum Bapak Katolik (KBK) se-Kevikepan Manado melaksanakan ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya...

Umat Wilroh Santa Bernadette Keak Rayakan Pesta Pelindung

Banggai – Umat Wilayah Rohani Santa Bernadette Stasi Kerahiman Ilahi Keak merayakan pesta pelindungnya...

BIMAS Katolik Sulawesi Utara Jadi Mitra Strategis dan Tim Assessor Implementasi Renstra Keuskupan Manado

Manado – Bimbingan Masyarakat (BIMAS) Katolik Provinsi Sulawesi Utara aktif terlibat sebagai mitra Tim...

“Kerahiman Tuhan: Harapan di Tengah Kelemahan”

Minggu Kerahiman Ilahi adalah hari istimewa dalam Gereja Katolik yang dirayakan pada Minggu setelah...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...