Katekese APP Pekan Keempat Gereja Katolik berjalan bersama Kaum Miskin dan Difabel Berdasarkan Dokumen Dilexi Te dan Fratelli Tutti

    0

    1. Yesus berkata: “Orang miskin selalu ada padamu” (Mat. 26:11)

    Paus Leo XIV: “Orang miskin adalah inti Gereja” (Dilexi Te, No. 111).

    “Pada wajah-wajah orang miskin yang terluka, kita melihat penderitaan orang-orang yang tidak bersalah dan, oleh karena itu, penderitaan Kristus sendiri” (Dilexi Te, No. 9).

    “Tidak ada orang Kristen yang dapat memandang kaum miskin hanya sebagai masalah sosial”, tegasnya; melainkan “mereka adalah bagian dari ‘keluarga’ kita. Mereka adalah ‘salah satu dari kita’”. Maka, katanya,“hubungan kita dengan kaum miskin” tidak dapat “disederhanakan menjadi sekadar kegiatan atau fungsi gerejawi lainnya” (Dilexi te: No. 104).

    7 Fakta orang miskin menurut Paus Leo XIV:

    “Kaum miskin tidak berada disana karena kebetulan atau takdir yang buta dan kejam. Kemiskinan juga bukan pilihan bagi sebagian besar dari mereka,” (Dilexi Te, No. 14).

    Walaupun mengakui bahwa “di antara orang miskin ada juga yang tidak mau bekerja, mungkin karena nenek moyang mereka, yang bekerja sepanjang hidup mereka, meninggal dalam kemiskinan”, Paus menyoroti bahwa “ada begitu banyak orang lain — pria dan wanita — yang tetap bekerja dari fajar hingga senja, mungkin mengumpulkan sisa-sisa makanan atau yang semacamnya, meskipun mereka tahu bahwa kerja keras mereka hanya akan membantu mereka bertahan hidup, tetapi tidak pernah benar-benar memperbaiki kehidupan mereka” (Dilexi Te, No. 14).

    Dalam salah satu poin utama Dilexi Te, Paus Leo menegaskan bahwa tidak bisa dikatakan “bahwa sebagian besar kaum miskin menjadi miskin karena mereka tidak ‘berhak’ mendapatkan yang lain, seperti yang dipertahankan oleh pandangan meritokrasi yang keliru yang melihat hanya orang sukses yang ‘berhak’ (Dilexi Te, NO. 14). Dilexi te No. 5: “Di dalam kaum miskin”, Allah “terus berbicara kepada kita”.

    Paus Leo juga mencatat adanya kemiskinan moral, spiritual, dan budaya; kemiskinan “mereka yang tidak memiliki hak, tidak memiliki ruang, tidak memiliki kebebasan” (Dilexi te, No. 9). “Jelaslah”, kata Paus Leo “bahwa kita semua harus ‘membiarkan diri kita dievangelisasi’ oleh kaum miskin” (Dilexite, No. 102).

    Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti mendorong kita untuk pergi “keluar diri sendiri” untuk menemukan “eksistensi lebih penuh dalam diri orang lain”, dengan membuka diri terhadap yang lain sesuai dengan dinamika cinta kasih yang membuat kita terarah kepada “kepenuhan universal”. Hidup rohani seseorang diukur dengan cinta kasih, yang selalu “menempati tempat pertama” dan menuntun kita untuk mencari apa yang lebih baik bagi hidup orang lain, jauh dari cinta diri.

    Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti: Hidup merupakan “seni perjumpaan” dengan setiap orang, bahkan dengan orang-orang di pinggiran dunia dan dengan bangsa-bangsa asli, karena “masing-masing dari kita bisa belajar sesuatu dari yang lain. Tak seorangpun tidak berguna dan tak seorangpun bisa disingkirkan”. Paus memberi catatan khusus tentang mukjizat “kebaikan hati”, suatu sikap untuk dipulihkan kembali karena merupakan bintang “yang bersinar di tengah-tengah kegelapan” dan “membebaskan kita dari kekejian…kecemasan…keramaian yang gila-gilaan” yang menonjol di era sekarang ini.

    Beri Komentar

    Silahkan masukkan komentar anda
    Silahkan masukkan nama anda di sini