“Kong torang dang mo mengasihi bagimana?”

0
369

Minggu, 21 Mei 2017,
Pekan Paskah VI: Kis.8:5-8,14-17; 1Pet3.15-18; Yoh.14:15-21

 

Bacaan-bacaan pada hari Minggu ini semakin mengarahkan perhatian kita pada peristiwa Pentakosta yang akan dirayakan beberapa hari lagi. Dengan terus terang Yesus mengatakan kepada para muridNya apa yang akan terjadi: “Tinggal sesaat lagi, dan dunia tidak akan melihat Aku lagi”. Sebelumnya Yesus susdah mengatakan bahwa akan ada penggantiNya: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan mengirimkan seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya…Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim-piatu.” Saat perpisahan terasa mencekam, makin dekat makin menggelisahkan. Itulah situasi yang tercipta pada saat itu. Yesus pasti memaklumi situasi itu sehingga ia berusaha membesarkan hati para muridNya. Iapun menjanjikan Roh Kudus, dan Roh Kudus itulah yang nantinya akan membuka mata, hati, pikiran para pengikutNya, namun ada satu syarat: “Jika kamu mengasihi Aku”. Caranya ? “Barang siapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku”.

Yesus sudah kira-kira tiga tahun ada bersama dengan para muridNya. Mereka pasti sangat mengalami masa-masa penuh kesuksesan dengan segala macam mujizat yang luar biasa, sesekali diselingi dengan penolakan dan pengusiran. Yesus sudah berbuat banyak, sangat banyak bersama dan bagi mereka. Setiap kali mereka lapar, pasti ada yang akan terjadi sehingga mereka bisa makan sampai kenyang, bahkan sampai tersisa banyak makanan. Setiap kali mereka haus, pasti Yesus bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan suasana, bahkan air pun bisa diubah menjadi anggur. Setiap kali ada yang sakit, pasti Yesus bisa bertindak untuk mengusir sakit penyakit, bahkan sampai ibu mertua Petrus pun turut mengalami kemahakuasaan Bapa dalam diri Yesus. Semua yang sakit bisa disembuhkan, apapun jenis penyakitnya. Bahkan ketika suasana duka terjadi karena kematian seorang anggota keluarga terkasih, Yesus sanggup bertindak untuk mengembalikan kehidupan yang telah direnggut oleh malaikat maut, Yesus sanggup memberi kehidupan lagi kepada Lazarus dan seorag pemuda dari Nain. Kini saat-saat seperti tidak akan mereka alami lagi. Para murid harus menghadapi dan mengalami serta menghidupi hidup mereka sendiri, tanpa Yesus. Tak lama lagi mereka harus berjuang tanpa komando dari sang guru. Tak lama lagi mereka harus menggunakan tangan mereka sendiri. Tak lama lagi mereka harus berdiri dia atas kaki sendiri. Pasti mereka terkejut, mungkin ada yang berbisik dalam hati “saya tidak mampu”, yang lain mungkin akan memutuskan “saya mundur”. Atau bisa jadi yang lain akan berujar “saya telah memilih jalan yang salah jika akhirnya jadi begini”. Menyadari kegalauan yang melingkupi hati para murid, Yesus memberi peneguhan: “Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim-piatu, ada Penolong yang lain”. Mereka sedikit merasa lega.

Bisakah syarat yang disampaikan Yesus kita penuhi? Bisakah kita dengan jujur mengasihi sesama tanpa syarat? Bisakah kita mengasihi sesama apa adanya bukan karena ada apanya? Sebagaimana Petrus dalam bacaan kedua telah memberikan peneguhan kepada umat yang teraniaya dengan bercermin kepada penderitaan Yesus, kita juga diminta untuk tetap teguh. Kita diminta untuk berlaku lemah lembut dan penuh hormat, dengan hati nurani yang murni dan saleh. Bisakah kita menderita karena berbuat baik, atau malah ikut terlibat dalam kejahatan hanya karena takut kehilangan teman? Mari tanpa henti meminta karunia Roh Kudus !

Don STop

 

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini