MENYADARI PENTINGNYA SOSIALISASI PERAYAAN EKARISTI DAN PERAYAAN SABDA TANPA IMAM

0
923

Perayaan Ekaristi adalah “sumber dan puncak” hidup Kristiani. Dalam Perjamuan Terakhir Yesus mengucap syukur  dan berpesan: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi kenangan akan Aku.“  Ia juga berkata:   “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagimu.”  Ia juga memberikan perintah untuk melakukan hal itu sebagai kenangan akan diri-Nya:  “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku “. Atas dasar tradisi para rasul yang terinspirasi dari peristiwa kebangkitan, Konsili Vatikan II mengharapkan umat berkumpul untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan ikut serta dalam Perayaan Ekaristi (SC 106).  Namun, karena keterbatasan jumlah imam tidak semua umat dapat mengikuti Perayaan Ekaristi setiap Hari Minggu, sementara ada kebutuhan umat  untuk berkumpul.

Kesadaran akan pentingnya Ekaristi dan Perayaan Sabda tanpa imam mulai tumbuh dan berkembang di Kevikepan Stella Maris. Terlebih sesudah diadakannya Sosialisasi Liturgi se-Kevikepan pada bulan Februari lalu di Stasi St. Andreas Kinamang, Paroki Sa. Maria Ratu Rosari Modoinding. Komisi Liturgi Keuskupan sudah dihadirkan untuk memberi penjelasan kepada 184 utusan paroki-paroki di Kevikepan Stella Maris. Meskipun jarak antar paroki sangat berjauhan, tetapi para pimpinan umat sangat antusias mengikutinya. Respon positif ini mendorong Vikep. Pst. Berty Imbar, pr, untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan ucapan syukurnya. Pastor Berty yang juga Pastor Paroki Gorontalo mengapresiasi peran serta para pastor paroki yang bersedia mengutus peserta.

Sebagai Vikep, sekarang ini pastor Berty mulai membuat evaluasi atas hasil sosialisasi Liturgi yang sudah diadakan dan pastor Berty merasa betapa kesadaran ber-ekaristi dan ber-ibadah tanpa imam mulai berkembang karena banyak umat semakin memahami kepentingannya, teristimewa aturan-aturan liturgy yang berlaku universal. Aturan-aturan liturgi diciptakan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, “Norma-norma ini adalah ungkapan kongkrit dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misteri-misteri dirayakan.” Ini berarti bahwa “… para imam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja.

 

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini