BerandaRenunganPuasa, itu keutamaan

Puasa, itu keutamaan

Published on

spot_img

Merenungkan Sabda
Jumat, 06 September 2024
Pekan Biasa XXII
(1Kor.4:1-5, Luk.5:33-39)

Tradisi Yahudi memang melarang orang berpuasa saat perjamuan kawin. Itu sebuah pantangan karena dianggap tidak menghormati mempelai. Kedatangan Kerajaan Allah digambarkan seperti perjamuan kawin. Mesias (mempelai) sudah hadir, lalu untuk apa berpuasa? Justru, momen itu, saatnya untuk merayakan kegembiraan. Yang diminta Yesus jika belum saatnya berpuasa adalah membuka diri pada pengalaman perjumpaan dan ajaran Yesus yang penuh belas kasih, sama seperti para murid yang mengikuti dan mendengarkan ajaranNya. Untuk itu Yesus memberikan beberapa pernyataan yang sesungguhnya merupakan muatan padat dari arti puasa untuk memberi pengertian dan memurnikan motivasi.

Sesungguhnya berpuasa berarti tindakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa manusia sangat bergantung pada Tuhan, dan sangat membutuhkan kehadiran Tuhan. Berpuasa juga berarti menata langkah persiapan untuk berjumpa dengan Tuhan serta mengalami kehadiranNya. Juga Berpuasa dapat dimaknai sebagai usaha menemukan terang dan pencerahan dari Tuhan untuk memulai suatu karya, meminta berbagai karunia serta pengampunan yang membawa pembaruan hidup serta sukacita.

Pada tataran Sosio-Religius, berpuasa tidak lain adalah menggali dan menemukan kekuatan dari Tuhan untuk keluar dari diri sendiri, menata cita rasa dan menumbuhkan rasa belas kasih kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Maka dalam setiap aksi puasa ada dana yang dikumpulkan yang bertujuan untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan pertolongan karena sakit, menderita atau korban bencana alam.

Panggilan sebagai pengikut Kristus adalah panggilan kerendahan hati, bukan panggilan pencitraan serta saling menghakimi, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Tindakan kesetiaan iman secara benar dan tulus melalui puasa adalah sebuah doa dan tindakan kerendahan hati yang menegaskan bahwa kita sangat tergantung pada kuasa dan kekutatan Tuhan. Berpuasa bukan kesempatan untuk memojokkan dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar di mata kita, melainkan membawa diri kita dan sesama kepada Tuhan sebagai orang yang berdosa yang membutuhkan pengampunan Tuhan.

Karena puasa sebagai suatu keutamaan, hendaknya kesadaran berpuasa perlu juga kita kembangkan. Kita hanya terdorong berpuasa pada saat-saat ditentukan. Padahal ditilik dari tujuan puasa demikian mulia sehingga diharapkan tidak hanya pada bulan tertentu kita puasa, tetapi pada waktu-waktu yang kita tetapkan demi permurnia hati dan jiwa agar semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Amin.

AMDG. Pst. Y. Alo.
St. Ignatius, Manado

KONTEN POPULER

Latest articles

Anggota LC Paroki Tahuna Terima Atribut. Pastor Jacob: LC Jadi Panutan di Tengah Umat

Tahuna – Perayaan Ekaristi memperingati Santo Georgius sekaligus penyerahan atribut bagi anggota Legio Christi...

WKRI Bunda Teresa Calcutta GPI Gelar Penyuluhan Hukum Tentang Bullying dan KDRT

Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah (GPI) melaksanakan...

KBK Kevikepan Manado Ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI

Kaum Bapak Katolik (KBK) se-Kevikepan Manado melaksanakan ibadah di Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya...

Umat Wilroh Santa Bernadette Keak Rayakan Pesta Pelindung

Banggai – Umat Wilayah Rohani Santa Bernadette Stasi Kerahiman Ilahi Keak merayakan pesta pelindungnya...

More like this

Bacaan Injil dan Refleksi, 28 Maret 2026

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa...

Renungan 26 Februari 2026; Mengetok Pintu Kasih Allah

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat ketika Gereja mengajak kita kembali kepada Allah dengan hati...

Renungan 25 Februari 2026; Jangan Menuntut Tanda, Tetapi Bertobatlah

Lukas 11:29-32 Dalam Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang mengerumuni-Nya. Mereka menghendaki tanda—sesuatu...