“Rahasia Utusan Sejati”

0
278

Minggu, 02 Juli 2017
Minggu Biasa XIII
2Raj. 4:8-11.14-16a; Rom. 6:3-4.8-11; Mat. 10:37-42

 

Dalam hidup ini tak sedikit orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus. Dengan kata lain, ada banyak kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai utusan Tuhan. Mereka melakukan pelbagai macam cara untuk meyakinkan orang. Pertanyaannya, apakah mereka sungguh-sungguh menjalankan dan mengikuti apa yang diteladankan oleh Yesus? Kenyataannya tak sedikit yang hanya berpura-pura sebagai utusan Tuhan. Mereka sesungguhnya tidak melaksanakan kehendak Tuhan, melainkan kehendak mereka sendiri. Banyak yang berkhotbah demi nama Tuhan, tetapi sesungguhnya bukan untuk kemuliaan Tuhan melainkan untuk memegahkan dirinya sendiri. Singkatnya, banyak orang yang hanya mengatasnamakan diri sebagai pengikut dan utusan Tuhan, tetapi sikap yang mereka tunjukkan jauh dari kehendak Tuhan.

Hal inilah yang sesungguhnya ditekankan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Yesus berbicara dalam konteks tugas perutusan yang diberikanNya kepada para pengikutNya. Ia menghendaki agar semua pengikut dan utusanNya sungguh-sungguh melaksanakan tugas perutusan itu secara konsisten. Dalam arti bahwa setiap pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi seorang utusan yang sejati. Kesejatian seorang utusan nampak lewat sikap dan tindakannya terhadap Dia yang mengutus. Selain itu, kesejatian itu nyata pula melalui kepercayaan yang tulus kepada Dia yang mengutusnya. Dalam bacaan kedua rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya. Itu artinya bahwa melalui baptisan kita telah menerima tugas perutusan yang sama seperti Yesus.

Ia sendiri bersabda, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Yesus adalah utusan Allah. Sebagai seorang utusan Ia sungguh-sungguh melaksanakan kehendak Allah. Penderitaan, kesengsaraan dan bahkan wafatNya di kayu salib merupakan wujud nyata kesetiaanNya kepada Dia yang mengutusNya, yakni Allah sendiri. Sikap dan tindakan yang ditampilkan oleh Yesus ini sungguh menampakkan seorang utusan yang sejati. Maka itulah sebabnya Ia bersabda, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa  kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Yesus menuntut keseriusan dari para pengikutNya. Ia mau agar para utusannya selalu fokus pada tugas perutusan mereka, bukan pada hal-hal yang lain.

Inilah sesungguhnya rahasia seorang utusan yang sejati. Pertama, berani meninggalkan segala-galanya, termasuk keluarga dan bahkan nyawa sendiri. Kedua, yang paling penting ialah bahwa kita harus percaya dan selalu mengandalkan Dia yang mengutus kita. Bagaimana mungkin seorang utusan dapat menjalankan tugasnya dengan baik jika ia tidak percaya kepada Dia yang mengutusnya. Untuk itu, kepercayaan adalah syarat utama seorang utusan Tuhan. Tugas seorang utusan sejati memang berat, tetapi jika kita setia maka sesungguhya kita tidak akan kehilangan upah dari padanya.

(Yansu)

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini