Anggota organisasi kemasyarakatan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) di seluruh Indonesia merayakan Dies Natalis ke-100 tahun. Berdiri sejak tahun 1924, wadah para ibu Katolik ini tetap eksis hingga saat ini. Selama satu abad, WKRI telah menorehkan banyak karya dan ikut memberi warna pada ke-Indonesia-an.
Hingga saat ini, ratusan cabang dan ribuan ranting WKRI hidup dan bergerak. Kehadiran organisasi ini telah membawa banyak pengaruh positif bagi banyak kalangan, teristimewa bagi para ibu Katolik itu sendiri. Melalui wadah ini, mereka belajar, bekerjasama dan berjuang mengentaskan persoalan-persoalan baik di tingkat keluarga, di lingkup gerejani maupun dalam kehidupan masyarakat.
Bagi yang bersentuhan langsung, kehadiran dan aktivitas WKRI sungguh dirasakan dampaknya. Mereka terjun di berbagai lini kehidupan, antara lain di bidang pendidikan, bidang kesehatan, hingga bidang kesejahteraan sosial. Peran-peran yang dimainkan ini menjadikan organisasi ini sangat berarti bagi banyak orang.

WKRI Ranting Santa Ursula Bolitan adalah salah satu bagian kecil WKRI yang ikut memeriahkan perayaan satu abad organisasinya. Para anggota di Ranting Bolitan merasa perlu merayakan dies natalis ini mengingat peran organisasi yang besar terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Wadah ini telah menjadi tempat berhimpun mereka, baik untuk berdoa, belajar, hingga melakukan aksi-aksi sosial secara bersama-sama.
Untuk memeriahkan satu abad WKRI, anggota WKRI Ranting Bolitan melaksanakan berbagai kegiatan pada hari Jumat (28/6/2024). Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain ibadah syukur, pendalaman tema dan lomba-lomba. Kegiatan yang mengusung tema “Geraknya Budi Membangun Pribadi Mewujudkan Peradaban Kasih” ini dilaksanakan di Pantai Lambangan Pauno, Desa Kendek, Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah.
Rangkaian kegiatan dies natalis ini diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Ibu Fiska Sadulia pada pukul 09.000 WITA. Setelah ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan pendalaman tema yang dipandu oleh pembina, Ibu Sesilia Abinai. Menutup sesi pendalaman tema ini, Ibu Sesilia berpesan agar para ibu tetap setia dan ikhlas menjadi tiang doa dalam rumah tangga dan senantiasa aktif terlibat dalam kehidupan gerejani maupun aktifitas sosial lain di sekitarnya.

Di sesi akhir, kegiatan lomba-lomba dilaksanakan di pantai. Pantai dengan pasir putih yang luas, menjadikan beragam lomba dapat dilaksanakan dengan lebih leluasa. Suara tawa yang menggema bersama dengan deburan ombak adalah kegembiraan yang nyata. Di balik rasa kegembiraan itu, terselip rasa syukur dari para ibu di Ranting Bolitan karena mereka telah ada dan berproses di dalam keluarga besar WKRI. ***
