Tampusu 12 April 2025. Kita memulai ziarah tahunan pada masa Prapaskah ini dalam iman dan pengharapan dengan ritus tobat berupa pemberian abu. Gereja, ibu dan guru kita, mengundang kita untuk membuka hati kita bagi rahmat Allah, sehingga kita dapat merayakan dengan penuh sukacita kemenangan Paskah Kristus Tuhan atas dosa dan maut. Kemenangan Kristus ini membuat Santo Paulus berseru: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Kor 15:54–55). Sesungguhnya, Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah inti iman kita dan jaminan harapan kita akan janji agung Bapa, yang telah terpenuhi dalam diri Putra-Nya terkasih: hidup kekal (bdk. Yoh 10:28; 17:3). Demikian pembukaan pesan Bapa Suci kepada umat katolik di seluruh Dunia.
Masa Pra Paskah dimulai dengan hari Rabu Abu pada tanggal 5 Maret 2025 yang juga menandakan awal masa tobat dan pertobatan, sehingga umat diingatkan untuk mempersiapkan diri secara batin melalui doa, puasa, dan amal. Umat Katolik mulai berpuasa selama 40 hari.
Wanita Katolik Cabang Ratu Rosari Suci Tuminting, mengadalah rekoleksi dengan tema “Dengan Semangat Kebangkitan Kristus Cabang Ratu Rosari Suci Tuminting, bersatu hati membangun persaudaraan sebagai wujud pertobatan sejati, dalam proses menuju tahun emas 2028”. Rekoleksi ini dilaksanakan di Pertapaan Karmel di Tampusu. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 116 orang, dari 9 ranting WKRI. Dan sebagai narasumber Pastor Romo Marchianus CSE. Kegiatan dimulai pada jam 09.00 WITA, sedangkan anggota WKRI berangkat bersama dari Gereje Paroki Sejak jam 06.30.
Dalam materinya Pastor Marsi (panggilan pastor Marchianus) menekankan untuk membangun pertobatan ekologis. “Tahun 2023 mengajak supaya kita mengasihi dan lebih peduli, tahun 2024 berupaya untuk mengembangkan apa yang sudah dicapai, tahun 2025 ini mengingatkan kepada kita semua untuk membangun pertobatan ekologis. artinya harus sungguh-sungguh tercanangkan dalam diri kita, bukan lagi hanya sebatas ide atau gagasan, tapi sudah menjadi habit atau tingkah laku untuk terus bertobat”. Kita harus berfleksi karena kita ini hidup diatas bumi, maka kita punya tanggung jawab bersama untuk menjaga rumah kita, bumi kita ini. “Sering kali kita saksikan bumi ini kita rusak karena diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Manusia serakah, manusia tidak adil, manusia mau menangnya sendiri, sehingga keadaan bumi tidak menjadi produktif lagi., hancur dan hidup manusia terancam. Semua itu karena Tindakan dan perilaku manusia”, ujar Romo Marchi
“Makanya ibu-ibu WKRI kalau mau sungguh-sungguh melayani, harus berkorban”. Lanjut Romo Marchi. Beliau juga menjabarkan lebih dalam tentang pengorbanan. “Bicara tentang berkorban harus dengan esepenuh hati jangan setengah hati,supaya Ketika kita melayani dengan sepenuh hati, suasana hati tidak tarik-tarik. Tapi saya yakin dan percaya ibu-ibu WKRI Tuminting ini melayani setidak-tidaknya ditengah keluarga, sebagai ibu rumah tangga yang baik. Jika kita melakukan satu aksi nyata dengan sepenuh hati, maka harapannya kita memiliki kepedulian, kita tidak memiliki hati untuk merusak, karena kata merusak dekat dengan melukai. Jika kita melakukan sesuatu dengan sepernuh hati, maka sesuatu yang baik yang mengalir dalam diri kita. Contoh kecil ketika dirumah kita yang sudah dibersihkan, ada yang buang sampah sembarangan, jengkel tidak kita, pasti jengkel, hanya gara-gara sampah membuat suami istri ribut. Makanya kepedulian kita untuk pertama-tama membuat keluarga kita berkeadilan. Berkeadilan artinya kalau kita menempati rumah, kita merasa nyaman, tidak terganggu, tidak merasa terusik karena kotoran, berarti kita sudah ambil bagian untuk memperbaharui hidup kita dalam pertobatan. Dalam pertobatan ekologis kita juga diajak dalam perziarahan pengharapan ditahun 2025”.
Perjalanan hidup kita didunia ini adalah bentuk dari perziarahan, maka dalam perjalanan hidup ini akan terus berjalan dan mengarah kepada Bapa di Surga. Kata Santo Agustinus hidup kita mengarah kepada keabadian. Maka perbaharuilah terus hidup kita dengan selalu bortobat, bertobat dan bertobat. Dan ingat semua yang kita lakukan membutuhakn Rahmat Ilahi, supaya dalam perziarahan hidup kita ini,cenderung memillih yang baik. Makanya ibu-ibu berjuanglah dalam perziarahan pengharapan hidup ini. Kenapa disebut pengharapan, karena kita selalu berharap hidup kita menjadi baik dan kita sampai kepada Bapa, demikian juga penjelasan pertobatan oleh Romo Marchi. Semoga apa yang disampaikan oleh Romo Marchi bisa dijabarkan sekembalinya di rumah masing-masing.
Kegiatan rekoleksi ini kemudian ditutup dengan Perayaan ekaristi oleh Pater Joseph Pontoan MSC, yang juga adalah Pastor Paroki Ratu Rosari Suci Tuminting, di Kapel St. Lukas. Decky-Komsos






