Renungan, 2 November: Cinta Allah membakar Ketidaksempurnaan

0
435

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

(2Mak. 12:43-46; Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,8; 1Kor. 15:12-34; Yoh. 6:37-40)

 

Bacaan Pertama: 2Mak. 12:43-46; Pembacaan dari Kitab Kedua Makabe:

Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.

Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.

Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan (PS 851; Mzm 80:9+12.13-14.15-16.19-20; Ul: Yes 5:7)

Ulangan: Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku. Tuhan, pada-Mu ‘ku berserah, dan mengharap kerahiman-Mu.

Mazmur:

  1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan. Tuhan dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian, kepada suara permohonanku.
  2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang takwa kepada-Mu.
  3. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi
  4. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

 

Bacaan Kedua: 1Kor. 15:12-34; Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.

Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.

Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.

Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa “segala sesuatu telah ditaklukkan”, maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? Dan kami juga?mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya?

Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.

Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil (PS 965)

Ulangan: Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Ayat:     Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku, jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

 

Bacaan Injil: Yoh. 6:37-40: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Renungan: “Cinta Allah membakar Ketidaksempurnaan”

Saudara terkasih, ada satu hal yang pasti semua orang akan alami, yaitu kematian. Setiap orang yang lahir di dunia ini pada saatnya, dengan berbagai cara pasti akan mengalami kematian. Namun demikian yang membedakan adalah bagaimana pandangan tentang Tuhan mempengaruhi pandangan tentang kematian. Orang yang beriman melihat kematian di dunia ini sebagai sebuah peralihan pola atau cara hidup. Hidup hanyalah diubah dan bukan dilenyapkan. Santo Agustinus dan Santa Theresia dari Lisieux bahkan “merindukan” kematian karena kematian dari dunia ini berarti berjumpa dengan Tuhan. Sedangkan orang yang tidak beriman (orang atheis) melihat hidup dan mati hanya karena proses alam saja. Manusia ini mahluk energi, jadi mati berarti kehabisan energi. Maka kematian berarti selesailah semua masalah di dunia ini.

Iman akan kehidupan sesudah kematian sudah ada sejak Perjanjian Lama. Bacaan pertama berkisah tentang Yudas Makabe yang menyuruh rekan-rekannya mengumpulkan uang untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa. “Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati” (2 Mak 12: 44-45a). Suatu iman yang hendak mengatakan kepada kita bahwa sesudah mati pun dosa orang dapat diampuni berkat doa-doa dan kurban dari mereka yang masih hidup. Maka doa bagi orang mati menjadi sangat bermakna, terutama untuk kita yang sudah beriman kepada Yesus Kristus. Kristus yang sudah bangkit dan yang kelak akan mengikutsertakan semua orang beriman dalam kebangkitanNya. Paulus dalam Surat kepada Orang Korintus mengatakan Yesus Kristus menjadi “Yang Sulung” dalam kebangkitan. Jadi, doa bagi orang mati selain merupakan bantuan rohani bagi orang beriman yang sudah meninggal, tetapi terutama menampakkan iman kepada Kristus yang bangkit dengan jaya.

Akhirnya, Peringatan Arwah semua Orang Beriman pada hari ini mengarahkan pandangan kita untuk mendaoakan Jiwa-jiwa orang beriman yang masih berada di Api Penyucian. Api Penyucian sebagai “tempat” penyucian atau pemurnian. Katekismus Gereja Katolik mencatat, “Semua orang yang mati karena kasih karunia dan persahabatan dengan Allah, namun masih belum sempurna dimurnikan, untuk mencapai kesucian yang diperlukan untuk memasuki kegembiraan surga (KGK 1563). Santo Yohanes Paulus II dalam sebuah Katekese tentang Api Penyucian setelah katakese sebelumnya tentang surga dan neraka, menjelaskan bahwa … “istilah Api Penyucian tidak menunjukkan tempat (wilayah) tapi suatu kondisi eksistensi,” di mana Kristus “menghapus … sisa-sisa ketidaksempurnaan.” Penggambaran artistik tentang orang-orang yang terbakar dalam api fisik adalah ajaran sesat. Cara yang lebih akurat untuk menggambarkan Api Penyucian adalah dengan menggunakannya sebagai simbol cinta Allah yang membakar, cinta yang begitu besar sehingga “membakar habis” segala ketidaksempurnaan yang menghalangi kita dari kesatuan total dengan Allah. Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes telah menjanjikan kepada kita bahwa, “… inilah kehendak Bapa-Ku yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh. 6:40)

P. Dismas Salettia, pr

 

Dengarkan versi audio dari renungan harian ini pada link gambar berikut ini:

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini