Renungan Harian: Jumat 15 September: Berdiri di Kaki Salib

0
639
Gambar di seminari pinleleng
Bunda inspirasi iman

PW S.P. Maria Berdukacita
Jumat Pekan Biasa XXIII

Bacaan 1 : Ibr 5:7-9
Mazmur : Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20
Injil : Yoh 19:25-27:

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes: Waktu Yesus bergantung di salib,
didekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
“Ibu, inilah, anakmu!”Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”
Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Hari ini Gereja memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada Bunda Maria yang berduka cita. Sedari awal ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Simeon Sudah mengingatkan, hatimu akan tertembus pedang. Dan Maria mengalaminya. Ketika bersama Josef harus melarikan diri bersama sang bayi menuju Mesir. Hati mana yang tak akan berduka ketika harus terpaksa melarikan diri? Tapi Maria menghadapinya dengan tabah.
Ketika Yesus berumur 12 tahun. Ibu mana yang tak akan gelisah, cemas dan berduka. Anak satu satunya yang sangat dicintainya hilang entah ke mana. Bahkan sudah 3 hari mencarinya. Dan ketika ditemukan bait Allah sang anak malah menjawab mengapa kalian mencari aku? Luar biasa pengalaman kesedihan, duka dan derita sang bunda. Tetapi Maria menghadapi semua pengalaman ini dengan sabar, tabah dan setia sebagai orang beriman.
Pengalaman pengalaman kesedihan Bunda Maria tentu masih boleh kita daftarkan lebih panjang, tapi baiklah kita melihat apa yang digambarkan Injil hari ini. Yesus disalibkan. Putera yang dilahirkannya, dibesarkannya dengan penuh cinta. Anak yang diketahui kebaikan, kasih dan ketulusannya mesti mengalami ketidakadilan keji. Sebagai ibu hatinya protes dan memberontak. Ini sebuah kejahatan. Tetapi luar biasa! Kitab suci menulis, Maria BERDIRI di bawah kaki Salib. Ia tegar berdiri. Ia kuat berdiri. Ia tabah berdiri. Ia sabar berdiri. Tidak pingsan dan terhempas jatuh karena kesedihan. Ia tidak pingsan dan putus asa. Ia tetap teguh dan berserah pada kehendak Allah. Ia selalu menyimpan segala perkara dalam hatiNya dan merenungkannya. Sedari awal ketika menerima kabar malaekat Maria sudah pasrah, Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum. Terjadilah padaku menurut perkataanmu.
Saudaraku, Maria adalah sumber inspirasi hidup dan iman kita. Kita semua mengalami peristiwa duka, cemas, gelisah, sedih, marah apalagi mengalami ketidakadilan. Mari belajar dari Bunda Maria dan Maria mohon doa doanya. Amin.

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini